Sabtu, 07 April 2018

Pekerjaan yang Baik Menurut Rasulullah

Kriteria pekerjaan yang baik
Dalam bekerja, sebagai seorang muslim tiadak hanya dituntut giat dan rajin bekerja. Islam mempunyai kriteria pekerjaan yang baik dalam mencari rizki. Pekerjaan yang baik harus sesuai dengan nilai-nilai keislaman serta memberikan manfaat kepada orang banyak.

DutaIslam.Com - Islam mengajarkan pemeluknya untuk giat bekerja dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya. Mereka dituntut agar tidak mengandalkan uluran tangang orang lain. Bukankah Rasulullah SAW pernah mengingatkan kalau tangan di atas lebih baik?

Terkait hal ini, Rasulullah bersabda:

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah (HR. Bukhori).”

Peringatan nabi tersebut menunjukkan bahwa seorang muslim harus berdikari, termasuk masalah ekonomi. Kemandirian seorang muslim bisa dibuktikan dengan usaha dan etos kerjanya. Namun pekerjaan yang baik bagi seorang muslim itu seperti apa?

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah menjelaskan prihal pekerjan yang baik.

أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ  عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Wahai utusan Allah, mata pencaharian seperti apa yang dinilai paling baik? Kemudian nabi menjawabnya: “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad 4: 141).

Kriteria pekerjaan yang baik

Menurut hadis di atas, mata pencaharian yang baik adalah upaya mencari rizki dengan jalan yang halal. Pekerjaan yang baik, kata Imam as-Syaibani, dapat diwujudkan dengan mencari harta melalui usaha-usaha yang dilegalkan Islam. Yakni, pekerjaan yang sarat nilai-nilai keislaman. Sehingga, pekerjaannya penuh barokah dan diridhai Allah SWT.

Apa yang dikisahkan dalam hadis tersebut, dapat kita jadikan 'ibroh atau pelajaran. Di mana pada saat itu, sahabat tidak bertanya pekerjaan apa yang paling menguntungkan dan banyak penghasilannya. Akan tetapi, para sahabat menanyakan kepada nabi tentang pekerjaan yang dinilai paling baik (banyak barokahnya).

Syekh Abdullah bin Sholih dalam kitab Minhatul A'lam menjelaskan, tujuan mencari rizki bukan semata-mata untuk mengais penghasilan yang berlimpah. Melainkan yang terpenting adalah pekerjaan tadi banyak barokahnya. Penghasilan yang banyak, belum tentu barokah. Bukankah demikian adanya?

Hasil karya sendiri

Salah satu mata pencaharian yang baik menurut hadist di atas, yakni pekerjaan yang merupakan hasil dari tangan sendiri. Penjelasan ini diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori.

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud a.s, dahulu bekerja pula dengan hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari no. 2072).

Mencari rizki dari hasil keringat sendiri sudah dicontohkan Nabi Daud a.s. Beliau makan serta memenuhi kebutuhan keluarganya bukan dari meminta-minta. Akan tetapi dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Jenis pekerjaan yang baik, menurut Imam as-Syaibani, merupakan sesuatu yang dikerjakan dengan tangan. Pekerjaan itu meliputi menulis, pandai besi, kerajinan, bercocok tanam dan lain sebagainya.

Jual beli yang mabrur

Kategori jual beli yang mabrur adalah jual beli yang sesuai tuntunan syariat Islam. Yakni jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya serta tidak mengandung unsur riba, dan penipuan. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Surat al-An'am ayat 152.

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (الانعام: 1

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara terbaik, hingga dia mencapai kedewasaannya. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan bil qist (dengan adil). Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai kemampuannya. Dan apabila kamu berucap, maka berlaku adillah, kendati pun dia adalah kerabatm(-mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kamu agar kamu terus ingat.”

Ada beberapa larangan yang dijelaskan dalam ayat tersebut. Di antaranya larangan mengurangi timbangan atau takaran. Syekh Ibnu Asyur dalam kitab at-Tahrir wa at-Tanwir menjelaskan, penjual bukan hanya dilarang mengurangi takaran. Namun dituntut untuk menyempurnakan takarannya juga.

Selain itu, antara penjual dan pembeli harus saling ridha dan jujur. Keduanya harus terbuka, tidak boleh ada kecurangan serta penipuan dalam transaksinya. Hal itu sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW.

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من غشنا فليس منا

“Rasulallah SAW bersabda: Barangsiapa yang menipu kami, maka dia bukan (golongan) kami.”(HR. Ibnu Majah)

Lalu, pekerjaan yang paling baik itu seperti apa?

Para ulama berbeda pendapat mengenai jenis pekerjaan apa yang paling baik. Ulama kalangan syafi'iyah menilai pekerjaan yang baik dan paling diberkahi adalah pekerjaan dengan tangan seperti bercocok tanam. Imam Nawawi menjelaskan alasan kenapa pekerjaan bercocok tanam masuk kategori pekerjaan yang baik. Karena, sikap tawakal petani tinggi dan kemanfaatannya kepada orang lain juga besar.

Sedangkan menurut Syekh Abdullah bin Abdurrahman Ali Bassam dalam kitab Taudihul Ahkam, pekerjaan yang dinilai baik itu dikembalikan pada keadaan dan kondisi setiap orang. Namun hal yang perlu diperhatikan, pekerjakan tersebut harus mengandung nilai kebaikan dan tidak ada unsur penipuan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah untuk melakukan hal yang bermanfaat untukmu dan meminta tolonglah kepada Allah, serta janganlah engkau bermalas-malasan” (HR. Muslim no. 2664). [dutaislam/in]

Artikel Dutaislam.com

Demikian penjelasan dalil pekerjaan yang baik menurut Rasulullah SAW. Adapun dalil mengapa kita wajib berbakti kepada orangtua? Silahkan baca di artikel berikutnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini