Rabu, 04 April 2018

Mengapa Mereka Memusuhi Tahlilan? Ini Alasan Paling Rasionalnya

Warga sedang membaca tahlil (tahlilan). Foto: Istimewa
Oleh Fashihullisan

DutaIslam.Com - NU sebagai organisasi penerus tradisi Islam asli Indonesia, yang diamalkan oleh mayoritas Islam di Indonesia, seringkali diserang oleh kelompok kelompok aliran minoritas. Meskipun jumlahnya kecil, mereka lantang memusuhi NU dengan menuding sebagai kelompok ahli bid'ah, bahkan tak sedikit yang menuding NU sebagai kelompok sesat. Salah satu argumen mereka adalah NU menjalankan tradisi tahlilan yang menurut mereka tak dilakukan di zaman Nabi.

Sebetulnya sudah banyak kiai pesantren yang menjawab dengan enteng logika mereka, dengan selorohan, kalau tahlil boleh tapi tahlilan gak boleh, itu sama dengan celana itu boleh, tapi celanaan itu gak boleh. Sejatinya memang mereka tak menemukan argumen yang kuat untuk memusuhi tahlilan, karena dalam tahlilan terdapat rangkaian dzikir, baca tahlil, tahmid, yasin, doa untuk muslim yang hidup maupun yang telah wafat. Tak ada satupun amalan dalam tahlilan yang dapat mereka tuding tidak sebagai amalan Islam.

Lalu kenapa mereka capek-capek meributkan tahlilan? Ini lebih pada upaya mereka untuk menumpulkan peran jamiyah NU pada jamaahnya. Mereka sadar, salah satu kekuatan dakwah NU adalah pada tahlilan, karena dalam tahlilan yang telah mengakar di masyarakat, NU dapat terus melayani kebutuhan ummat bahkan pada tingkat yang paling bawah sekalipun.

Lewat tahlilan, keluarga-keluarga yang belum menjalankan kewajiban agamanya, atau tidak sadar akan makna penting belajar agama, telah merasakan kehadiran agama. Lewat tahlilan juga para ulama dan kiai NU dapat masuk ke dalam rumah-rumah ummat yang bahkan setiap hari memusuhi dakwah agama.

Kematian pada salah satu anggota keluarga, memang salah satu alasan bagi seseorang untuk tersentuh jiwa dan hatinya. Keluarga yang mengalami musibah kematian akan membuka lebar-lebar pintu rumahnya pada tahlilan, dan ini menjadi kenangan spiritual keagamaan dan relasi sosial kalangan santri dengan kalangan-kalangan lainnya. Kehadiran para kiai dan ulama di rumah keluarga yang terkena musibah dengan tahlilan, menjadikan terbukanya diri mereka untuk tarbiyah nilai-nilai dasar Islam, tentang syahadat, tentang keimanan dan tentang ajaran agama yang penuh nilai kebaikan dan kebersamaan.

Hal hal itulah yang kemudian disadari oleh para musuh NU, sehingga mereka yakin, apabila mampu memusnahkan tahlilan, sama artinya dengan mematahkan salah satu pilar penting kekuatan dakwah oleh NU. Mereka yakin bahwa para ulama dan kiai NU tak lagi leluasa masuk ke rumah rumah ummat melalui tahlilan dengan seperangkat dakwah dan tarbiyah keIslaman. Mereka yakin, hilangnya tahlilan menjadikan mereka leluasa untuk menyebarkan faham-faham mereka. Ternyata asumsi mereka justru salah, karena bukannya mereka sekedar mengalahkan NU tapi juga sangat berpotensi mengalahkan dakwah Islam.

Mereka juga banyak yang tidak sadar, bahwa prosesi semacam tahlilan sudah mulai dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh agama lain. Tokoh agama lain mulai aktif melakukan ritual bersama sama saat keluarga jamaat mereka terkena musibah kematian. Mereka sangat meyakini efektivitas tahlilan dalam dakwah agama, sehingga mereka mengadopsi prosesinya yang disesuaikan dengan ajaran agama mereka.

Penghilangan tahlilan sesungguhnya menjadi ancaman deIslamisasi, karena tarbiyah Islam akan tak leluasa lagi masuk ke rumah-rumah orang yang dalam tanda kutip belum taat pada keIslamannya. Penghilangan tahlilan juga akan memaksa para keluarga yang tak mau atau tak berkesempatan belajar tentang Islam akan selamanya tak mengenal lebih dekat dengan Islam. Parahnya, metode hebat tahlilan yang telah diakui dan diadopsi oleh pemuka agama lain, justru di Islam sendiri masih ada kelompok-kelompok yang ngotot melarangnya. Apa mereka yang justru mau merusak Islam? [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini