Kamis, 05 April 2018

Membunuh Rakyat Kesayangan Salahuddin Al Ayyubi

Peta suriah (Istimewa)
Oleh: T. Taufiqulhadi

DutaIslam.Com - Saya tepat berdiri di depan makam Sultan Salahuddin Al Ayyubi, yang meninggal di Damaskus pada 4 Maret 1193. Saya berdoa dan menerawang takjub kepada Sultan agung yang meninggal tidak lama setelah keberangkatan kembali ke Inggris Raja Richard Berhati Singa, musuh bebuyutannya dalam Perang Salib Ketiga. “Inilah tempat persemanyaman terakhir sultan sederhana keturunan Kurdi yang telah mempersatukan seluruh Levant dan Mesir dan memperkenalkan maulid Nabi kepada kami,” saya membatin. Peringatan yang masih dilaksanakan dengan takzim oleh umat Islam hingga hari ini.

Hanya saya agak heran, dalam moselium serupa, sebelah barat makam Sultan Salahuddin, ada sebuah makam lagi yang masih baru. “Ini,” kata Fatima Khamis, anggota parlemen Suriah yang bersama saya, menunjuk makam yang baru itu, “Makam Syekh Al-Bouti, ulama Suriah yang sangat kami hormati.”

Syekh Al Bouti, yang nama lengkapnya Muhamad Said Ramadan Al Bouti, tewas terbunuh dalam masjid di Damaskus karena sebuah bom pada Mei 2013. Kemudian hari diketahui, pelaku pemboman itu adalah Jabhat Al Nusra, milisi penentang pemerintah yang berhaluan jihadis. Ulama Suni yang bergelar Syekh Asy- Syam ini adalah keturunan Kurdi. Ia dimakamkan sebelah Sultan Salahuddin: karena sama-sama Kurdi.

Pembunuhan ini bagian rencana kaum milisi untuk memberi pukulan terhadap rejim Bashar Al Assad di Damaskus. Semula pembunuhan ulama Suni ini dimaksudkan untuk mendiskreditkan pemerintah dengan menuduh Basharlah sebagai dalang pembunuhan tersebut. Dengan demikian rejim dijauhi. Tapi rencana ini gagal karena modusnya sangat sederhana. Logika awam, Bashar tidak akan pernah mengganggu ulama ini. Selain ia sendiri sangat menghormatinya, juga ulama ini sangat dekat dengan pemerintah Bashar.

Tapi pembunuhan demi pembunuhan dan diskredit mendiskreditkan adalah sesuatu yang lumrah dalam konflik Suriah sekarang. Inilah salah satu perang saudara yang sangat aneh dan unik. Perang saudara yang banyak merenggut korban ini, konon kabarnya, bermula ketika sekitar ratusan orang penduduk Dar’a, melakukan protes atas penangkapan terhadap sejumlah anak SMA yang mencoret-coret menentang pemerintahan Bashar. Saya bertanya kepada Khamis, kenapa aparat menangkap anak SMA? Khamis mengatakan, itu semua bagian rencana lebih luas. Mereka mengatakan, pemerintahlah yang menangkap pelajar SMA, dan melakukan penyiksaan terhadap pelaku aksi protes. “Itu tidak benar,” kata Khamis. Jika ada kekerasan terhadap para pendemo, itu bukan aparat. Tapi itu sebuah design untuk mengobarkan konflik, papar Khamis.

Mana yang benar, tidak ada yang tahu? Tapi memang setelah itu, protes itu dengan cepat berubah menjadi menjadi konflik ideologis, geopolitis, strategis, politis domestik dengan berbagai gerakan oposisional, pemberontak bersenjata, dan angkatan bersenjata pemerintah. Di sana melibatkan kelompok-kelompok yang hanya bisa diindentifikasi dari ideologi, tujuan dan etnik. Bahkan kerap tujuan mereka saling tumpang tindih tidak karuan. Di luar itu, tampil pula dengan sengit dan sungguh-sungguh aktor-aktor regional, seperti Arab Saudi, Iran, Turki, Qatar dan Israel; serta aktor global: Amerika dan Rusia. Terakhir tapi tak kurang menghebohkan adalah hadirnya aktor-aktor non-negara atau Jihad Global seperti ISIS, Al Qaeda, dan berbagai kelompok Jihadi-Salafi asing lainnya.

Tak ayal terjadilah “petarungan” a la film Sergio Leone “The Good, The Bad, and The Ugly” . Aliansi dan “pecah kongsi” bisa terjadi setiap saat. Kelompok milisi pemberontak yang kecil, yang berkekuatan sekitar 500 hingg 1000 orang seperti Brigade Suqour Al Sham dan ratusan lainnya, berusaha untuk bergabung ke kepada kelompok lebih besar, biasanya kepada Jabhat Al Nusra dan Free Syrian Army. Tapi besoknya bisa berubah lagi aliansinya.

Dalam konflik Suriah ini boleh berubah aliansi dengan siapa saja, boleh memusuhi siapa saja, dan boleh membunuh siapa saja. ISIS di antaranya, selain sangat ganas, ia pun sangat banyak akal. Kelompok pendukung khilafah ini, meski sempat menguasai hampir separuh Suriah, tapi ia nyaris tidak pernah berhadapan dengan pasukan pemerintah dalam front terbuka. Milisi-milisi yang tergabung dalam Jabhat Al Nusra, Free Syrian Army dan milisi lainnya yang sebenarnya berhadapan dengan pasukan pemerintah dan milisi pendukungnya.

Sebagai contoh, setelah sebuah wilayah jatuh ke tangan milisi pemberontak dan tentara pemerintah mundur, milisi itu merangsek maju ke depan mengejar tentara pemerintah dengan mengendorkan keamanan di daerah yang baru saja mereka rebut. Dalam situasi itulah ISIS datang, dan mengambil wilayah tanpa pertahanan ini untuknya tanpa perlawanan. Dan, taktik itu terus berlangsung hingga datang Amerika yang menghancurkan mereka dari udara. Maksud Amerika, dengan menghancurkan kubu ISIS, wilayah-wilayah tersebut akan jatuh kembali ke milisi perlawanan seperti Jabhat Al Nusra dan lainnya yang dbiayai Arab Saudi, Qatar, Turki dan Washington. Tapi itu hampir tidak terjadi karena kekuatan pemerintah kian menguat menyusul datangnya Rusia.

Perang kacau-balau inilah dalam konsep Kaldor disebut “New Wars”, suatu perang yang muncul dalam era globalisasi di mana para aktor, tujuan, metode, dan bentuk pembiayaan perang tidak jelas sama sekali. Jika dalam “Old Wars” semua jelas: aktor adalah pasukan bersenjata regular dari Negara-negara; tujuannya adalah bagi kepentingan geopolitik atau ideologi (demokrasi dan sosialisme); metodenya merebut wilayah dengan kekuatan militer; dan pembiayannya oleh Negara (pajak dan patron asing). Dalam perspektif “New Wars” ini, para aktor yang berlaga terdiri dari kombinasi beragam aktor jaringan negara (states) dan nonnegara (non-states) – pasukan regular, kontraktor keamanan pribadi, pasukan bayaran, kaum jihadis, panglima perang, para militer dan lain-lainnya.

Tujuan perang dalam “New Wars” adalah atas nama identitas – etnis, agama dan suku. Sementara soal metode, dalam “New Wars”, perang jarang terjadi, dan merebut sebuah wilayah dengan cara-cara politik, melalui pengendalian warga setempat, seperti mengusir penduduk. Dalam perang jenis ini, kekerasan lebih banyak ditujukan kepada warga sipil. Pendanaannya adalah melalui hasil penyeludupan, “pajak” bantuan kemanusiaan, peneyanderaan, atau hasil penyeludupan minyak, permata, narkotika, orang dan lainnya.

Akibat yang ditimbulkan dari perang jenis pun hebat. Jika total korban sipil dalam PD II, suatu perang yang melihat lebih dari 50 negara, sekita 32 juta jiwa, maka dalam konflik tunggal Suriah, separuh dari lebih 22 juta penduduk Negara tersebut menjadi korban: tewas, terlunta-lunta, dan sebagian besar mengungsi (permanen dan tidak permanen).

Di tingkat regional dan global pola aliansi dan persekutuan para aktor dalam konflik Suriah, juga rada aneh. Amerika memimpin sebuah aliansi, yang di dalamnya terdapat Arab Saudi, Turki, Qatar, Israel. Aliansi ini dapat bersatu karena berbagai alasan. Amerika membenci rejim Damaskus karena rejim ini jelas paling mengancam Israel. Faktor Amerika Itu pula, Israel dengan senang hati terlibat dalam aliansi ini. Suriah di bawah Al Assad menegaskan, Israel adalah musuh abadi negeri itu. Di pihak lain, Arab Saudi tidak senang kepada Damaskus karena rejim ini memberi tempat berpijak bagi kepentingan geopolitik dan geoekonomi Iran. Qatar, tidak memiliki politik luar negeri. Politik luar negerinya adalah politik luar Arab Saudi.

Sementara Turki selalu curiga kepada Kurdi. Terakhir, salah satu sebab Ankara tidak suka kepada rejim di Damaskus karena Bashar dan ayahnya sering memberi angin kepada kaum Kurdi. Ankara pernah menuduh bahwa Damaskus dengan sengaja menyembunyikan Abdullah Oscalan, pemimpin Partai Buruh Kurdi yang sangat diburunya. Oscalan kini berada dalam penjara Turki.

Di pihak lain, Rusia sangat curiga kepada Amerika. Moskow khawatir, jika dibiarkan, maka Amerika akan menjadi aktor tunggal global tak tertandingi di Timteng. Sebagai mana pengalaman, ketika Moskow agak lengah, AS dan NATO tanpa ayal menghancurkan Libia, dan menyingkirkan Khadafi sebagai faktor penyeimbang dalam konteks persaingan pasca Perang Dingin. Kini dalam kasus Suriah, Rusia lebih aktif. Ia mendekati Iran, tetangga ramahnya di selatan. Iran, dalam “perang dingin” a la Timteng, memiliki kepentingan geopolitik dan geoekonomi, bukan agama, di Suriah. Di mata mullah di Taheran, jika Suriah jatuh, maka dominasi keluarga Al Saud yang Wahabi menjadi total. Padahal, salah satu kredo Wahabi adalah penghapusan Syiah dari muka bumi. Hezbollah, selalu melihat, Suriah sebagai jalur penyuplai dukungan kepadanya. Selain, banyak sekali tempat suci Syiah di negeri itu.

Tapi dalam perkembangannya, selaras menguatnya kekuatan Bashar, Turki berbelok. Turki menyaksikan langsung sebuah fakta yang mengejutkan dan mengawatirkan: kaum Kurdi kian solid dan semakin terkosolidasi. Para pejuangnya mampu menghancurkan kekuatan ISIS dalam sejumlah front penting. Turki sangat marah kepada AS yang dianggapnya memberi angin kepada PYD (Partai Uni Demokrat Kurdi). PYD ini adalah payung bagi semua kelompok perjuang Kurdi di Suriah.

Akibatnya, dua bulan lalu, Turki keluar dari aliansi yang dipimpin AS di Suraih, dan mendekat ke Rusia. Dalam aliansi baru ini, disepakati, Rusia dibenarkan untuk menghancurkan kubu kuat kaum pemberontak di Ghouta, sebuah provinsi yang berhimpitan dengan Damaskus. Di sini, di Ghouta timur selain bercokol Jabhat Al Nusra juga menjadi kubu kuat Jaish Al Islam, sebuah kelompok jihadi dukungan Ankara. Sebagai ganti, Rusia mempersilahkan tentara Tukri menyerbu Afrin, kubu kuat kaum Kurdi dalam operasi militer yang diberi kode “Ranting Zaitun”. Afrin ini adalah wilayah subur penghasil biji dan minyak zaitul sangat terkenal.

Dalam perkembangan terakhir, Turki masih kewalahan di Afrin, sementara Ghouta hampir jatuh sepenuhnya ke tangan pemeritah yang didukung Rusia. Menurut pengamat, jika Ghouta timur jatuh, hanya soal waktu saja seluruh Suriah kembali ke pangkuan pemerintah. Satu-satu kekuatannya yang mampu menghadap laju pasukan pemerintah adalah Washington. Hadangan Washington yang dikomandoi presiden antik, Trump, dan sedang perang diplomati sengit dengan Moskow saat ini, bukan sesuatu yang mustahil.

Jika itu terjadi, maka kita akan meihat sebuah babakan perang berikutnya lebih dahsyat, lebih mengerikan dan lebih mematikan: Rusia dan Amerika berduel di bumi Suriah. Dan itu berarti mayoritas rakyat tak bersalah negeri itu yang dulu diayomi oleh Sultan Salahuddin Al Ayyubi akan musnah. [dutaislam.com/gg]

T. Taufiqulhadi, Sedang menyelesaikan Disertasinya di Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Pajajaran. Temanya tentang “Perang Saudara di Suriah”. Meski pun penulis anggota DPRRI, tapi tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis.

Source: Teuku Taufiqulhadi

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini