Sabtu, 21 April 2018

Kisah Syaikhona Kholil Berguru Kepada Sayid Abu Dzarrin yang Sudah Wafat

Makam Syekh Abu Dzarrin yang bertuliskan kisah pertemuan Syaikhona Kholil dengan beliau. (Foto: Istimewa).
DutaIslam.Com - Ketika Syaikhona Kholil masih sangat kecil, bahkan masih belum baligh beliau pernah diajak ayahandanya, Kiai Abdul Lathif, untuk bersilaturrohmi ke Pasuruan, ke tempat pesantren sahabat ayah beliau yang bernama Sayid Abu Dzarrin yang belakangan masyhur dengan julukan Sayid Tugu atau Mbah Tugu.

Sayid Abu Dzarrin kala itu adalah sosok ulama yang berasal dari Cirebon dan menetap di Karangsono, Winongan, Pasuruan. Beliau mendirikan sebuah pesantren di desa itu. Beliau sangat alim, zuhud, dan waro'. Konon di pesantren beliau, bukan para manusia saja yang menuntut ilmu disana, namun banyak juga para jin yang ngaji di sana.

Saat Syaikhona Kholil kecil dan ayahandanya sampai di rumah Sayid Abu Dzarrin di Karangsono, Pasuruan, mereka disambut dengan sangat hangat, saling ngobrol dan sesekali ada canda. Sedangkan Kholil kecil seperti layaknya anak yang masih kecil bermain di luar. Namun tiba-tiba Sayid Abu Dzarrin minta izin kepada Kiai Abdul Lathif, ayah Kholil kecil, untuk mengajaknya ke dalam rumah sebentar. Diajaklah dia ke suatu tempat.

Memang Sayid Abu Dzarrin adalah seorang wali Allah yang kasyaf, yang mengetahui tentang hal-hal yang tidak diketahui oleh orang biasa. Beliau telah lama melihat bahwa Kholil kecil adalah sosok yang akan menjadi orang besar dan menjadi wali Allah. Alkisah, saat pertemuan berdua itu, beliau memegang dada Kholil kecil sambil berdoa yang entah apa yang beliau baca. Setelah itu beliau berkata kepada si Kholil kecil. "Kamu nanti kalau sudah besar main lagi ke sini ya, aku tunggu". kata Sayid Abu Dzarrin. "Inggih". jawab Kholil.

Tapi yang namanya anak kecil, dia anggap peristiwa tadi itu, tidak ada istimewanya sama sekali. Yang dia inginkan ya cuma bermain dan bermain saja. Maklum, masih kecil. Karena sudah cukup lama berada di rumah Sayid Abu Dzarrin, akhirnya tibalah waktunya berpamitan. Kholil kecil dan ayahnya pun pamit pulang. Namun mereka tidak langsung pulang, mereka meneruskan perjalanan silaturrohmi ke ulama-ulama lainnya. Harapan sang ayah adalah agar Kholil kecil ini nantinya mendapat berkah dari para kiai-kiai yang disowaninya (meskipun sang ayahanda, Kiai Abdul Lathif, juga termasuk sosok ulama besar yang sangat disegani).

Menurut beberapa sumber, silaturrohmi pun berlanjut hingga sampai ke Jawa Tengah. Kurang tahu persisnya di daerah mana. Di Jawa Tengah mereka mampir ke rumah seorang Kiai yang masih ada pertalian saudara. Seperti biasanya, mereka pun saling ngobrol dan canda untuk melepas kangen. Di tengah-tengah berbincang serius, tibalah waktu sholat dhuhur. Akhirnya mereka pun melaksanakan sholat berjama'ah termasuk si Kholil kecil. Yang menjadi imam saat itu adalah tuan rumah. Namun aneh, ketika di tengah-tengah sholat, Kholil yang masih kecil itu tiba-tiba tidak meneruskan sholatnya. Dia cuma duduk saja dan memandangi tuan rumah yang masih sibuk menjadi imam sholat.

Setelah sholat selesai sang ayah dan tuan rumah merasa heran. Mereka bertanya kenapa Kholil kecil tidak mengikuti sholat berjama'ah hingga selesai?.. dengan entengnya Kholil menjawab: "Lha saya heran dengan imamnya itu. Sholat kok sambil bawa sayuran di pundaknya".

Mendengar jawaban seperti itu, kontan sang ayah marah dan merasa malu sama tuan rumah. Bagaimana tidak, kenyataan yang ada adalah, sang imam tidak membawa apapun di pundaknya. Tapi tuan rumah melarang ayah Kholil memarahi anaknya, malah tuan rumah itu berkata: "Sudah sudah.. anak anda tidak salah, memang saya yang salah. Sholat itu mestinya menghadap Allah, lha kok malah saya ingat dagangan sayur saya, itu namanya sholat yang tidak khusyu'".

Luar biasa.. Kholil yang masih sekecil itu bisa mengetahui sesuatu yang orang lain tidak tahu. Itulah karomah beliau di kala masih kecil. Sang ayah pun heran, dia bertanya pada anaknya yang masih lugu itu:

"Kholil.. siapa yg mengajari kamu, hingga kamu bisa seperti itu?"..
Dengan polosnya ia menjawab:
"Mbah Yai"..
"Mbah yai yg mana?"..
"Mbah Yai yang di Pasuruan yang kemarin kita ke sana"..
"Kiai Abu Dzarrin Itu?"..
"Inggih"..

*****

Singkat cerita, Kholil kecil sekarang sudah dewasa, beliau sangat tekun dalam mencari ilmu di beberapa pondok pesantren. Beliau telah lupa dengan kejadian luar biasa yang beliau alami saat di Pasuruan dulu. Berkat ketekunan dalam hal mencari ilmu, beliau akhirnya menjadi sosok pemuda yang disegani karena kealimannya. Beliau senang sekali mengikuti bahtsul masa-il yang diadakan dimanapun, apalagi kalau ngobrol tentang kitab-kitab atau hukum-hukum syar'i pasti beliau sangat betah sekali. Beliau sudah merasakan manisnya rasa beribadah dan menuntut ilmu.

Meskipun beliau sudah nyantri ke beberapa kiai alim dalam waktu yang tidak sebentar, hingga ukuran ilmu yang beliau peroleh sebenarnya sudah sangat mencukupi untuk diajarkan, namun beliau ibarat orang yang selalu haus akan tetesan air yang segar saat berada di tengah padang pasir. Begitu juga di dalam masalah belajar dan tabarruk, beliau masih merasa haus akan dua hal itu.

Hingga suatu ketika, beliau mendengar tentang seorang ulama besar yang sangat alim di daerah Banten yang bernama Kiai Nawawi. Sebenarnya Kiai Nawawi tidak berada di Banten, tempat kelahirannya, namun beliau sudah menetap dan berda'wah di kota Makkah Al Mukarromah. Kealiman dan kezuhudan Kiai Nawawi sudah terdengar di seluruh penjuru Indonesia, hingga saking seringnya Kiai Kholil mendengar tentang Kiai Nawawi, maka niat dan tekad beliau untuk berguru pada Kiai Nawawi tak bisa dibendung lagi. Beliau dengan sabar menunggu kedatangan Kiai Nawawi pulang ke Banten. Memang biasanya Kiai Nawawi juga pulang ke Banten, entah itu 2 tahun sekali atau lebih, meski cuma sebentar.

Kiai Nawawi sendiri adalah salah satu kekasih Allah yang di kehidupan beliau selalu dipenuhi dengan kemuliaan dan karomah. Terbukti saat beliau masih berada di kota Makkah, beliau tahu dengan apa yang diinginkan oleh Kiai Kholil yang ada di Madura pada saat itu. Segera beliau berangkat pulang ke Banten dengan waktu perjalanan yang tak seperti biasanya, seperti yang dilakukan oleh Syekh Abul Qois Al Haroni, seorang wali dari Turki yang tiap habis berjama'ah shubuh di Turki lalu mengajar di Madinah Al Munawwaroh, dan pulang lagi ke Turki sebelum matahari terbit.

Jika Allah yang berkehendak pada Kiai Nawawi seperti halnya pada Syekh Al Haroni tadi, maka tidak perlu waktu lama untuk menempuh perjalanan dari Makkah ke Banten. Sesampainya Kiai Nawawi di Banten, banyak yang gembira atas kepulangan beliau, banyak yang sowan. Berita kepulangan beliau pun segera menyebar ke seluruh tanah Jawa dan Madura.

Begitu senangnya hati Kiai Kholil mendengar hal itu. Segera beliau bersiap-siap menempuh perjalanan ke Banten. Ketika Kiai Nawawi mengetahui bahwa Kiai Kholil akan berkunjung ke Banten, beliau hanya tersenyum dan segera beliau bersiap-siap kembali ke Makkah agar Kiai Kholil tidak bisa menemuinya. Beliau berpesan pada salah satu keluarganya:

"Jika ada pemuda yang bernama Kholil datang, bilang saja saya sudah kembali ke Makkah.. dan tolong hal ini jangan kau ceritakan pada siapapun juga, karena ini adalah urusan saya dgn kiai muda itu (Kiai Kholil )".

Ternyata Kiai Nawawi memang benar-benar kembali ke Makkah. Akhirnya sampailah Kiai Kholil muda itu di rumah Kiai Nawawi. Begitu kecewanya beliau karena tidak bisa bertemu dengan Kiai Nawawi yang sangat beliau harapkan barokah dan nasehatnya. Beliau sangat ingin belajar pada Kiai Nawawi meski cuma sebentar. Rasa capek tidak beliau rasakan, tekadnya untuk belajar ke Kiai Nawawi tidak surut malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya Kiai Kholil pun berencana menyusul Kiai Nawawi ke Makkah.

Adapun Kiai Nawawi yang sudah berada di Makkah, ketika tahu bahwa Kiai Kholil muda akan menyusul dirinya ke Makkah, beliau mengajar seperti biasanya di salah satu daerah di Makkah sambil menunggu kedatangan Kiai Kholil muda itu. Akhirnya tiba saatnya Kiai Kholil berangkat ke Makkah dengan membawa bekal secukupnya yang bisa beliau bawa. Meskipun sangat lama perjalanan menuju Makkah, namun semua itu terkalahkan oleh tekad dan niat beliau untuk belajar ke Kiai Nawawi. Itulah gambaran sosok Kiai Kholil yang tidak pernah merasa cukup dan puas dengan ilmu agama yang sudah didapat di beberapa pesantren, beliau masih tetap ingin belajar dan belajar terus.

Tibalah Kiai Kholil di Tanah Suci, terlebih dulu beliau datang ke Masjidil Harom, yang di dalamnya terdapat Ka'bah yang mulia. Belum jelas sejarah mencatat apakah ketika beliau datang ke Makkah untuk mencari Kiai Nawawi itu adalah yang pertama kali atau yang kedua kali. Kemudian beliau pun mencari tempat di mana biasanya Kiai Nawawi mengajar. Dalam waktu yang tak seberapa lama, akhirnya ketemulah tempat Kiai Nawawi itu. Namun apa yg terjadi?..

Ketika ditanyakan.. Memang betul rumah itu adalah tempat Kiai Nawawi muqim dan mengajar, namun sudah 2 hari yang lalu beliau berangkat pulang ke Indonesia (Banten). Pasti bisa kita rasakan bagaimana perasaan beliau saat itu..

Meskipun tidak bertemu dengan Kiai Nawawi, Kiai Kholil tidak langsung pulang karena beliau harus melaksanakan ibadah haji dulu. Musim haji pun telah usai, dan Kiai Kholil berangkat pulang ke negerinya lagi. Namun untuk kepulangan beliau yang ini, Allah SWT memberikan satu karomah kepada beliau, yaitu entah bagaimana kisahnya, yang jelas perjalanan beliau menuju ke Indonesia berlangsung sangat singkat dan cepat. Kita pasti mengerti akan hal itu, jika Allah berkehendak maka tidak ada yang mustahil untuk terjadi, walaupun semuanya ada di luar jangkauan akal kita.

Kiai Kholil akhirnya sampai di Indonesia. Singkat cerita.. Setelah beliau selesai menerima tamu-tamu yang menyambut kedatangan beliau dari tanah suci, maka niat untuk menemui Kiai Nawawi beliau teruskan lagi. Berangkatlah beliau menuju ke Banten untuk yang kedua kalinya. Susah payah dalam perjalanan itu tidak beliau hiraukan. Akhirnya sampailah Kiai Kholil di rumah Kiai Nawawi.

Ada yang berbeda kali ini, yaitu Kiai Nawawi sengaja menunggu kedatangan Kiai Kholil dan akan menemuinya. Tidak seperti sebelumnya, di mana beliau selalu menghindar agar Kiai Kholil tak bisa menemui dirinya. Pastilah itu semua ada tujuan dan maksud tertentu, dan Allah lah yang mengatur semua perjalanan para "kekasihNya".

Pertemuan pun akhirnya terjadi. Bahagia sekali hati Kiai Kholil bisa berhadapan langsung dengan Kiai Nawawi pada saat itu. Kiai Kholil sungkem di hadapan beliau. Kemudian saling ngobrol pun berlangsung:

"Sampean dari mana Gus?", tanya Kiai Nawawi.
"Saya dari Madura, Yai", jawab Kiai Kholil.
"Kira-kira ada keperluan apa ya Gus?"..

Kiai Kholil pun menjelaskan tujuan beliau yang ingin menimba ilmu kepada beliau dengan bahasa yang sangat santun yang mencerminkan bahwa Kiai Kholil nantinya adalah bukan orang sembarangan.

Kiai Nawawi pun mengerti akan maksud Kiai Kholil itu. Beliau pun berkata: "Lho.. kenapa sampean datang jauh-jauh ke sini untuk menimba ilmu kepada saya?.. Bukankah di dekat daerah sampean terdapat seseorang yang sangat alim, sangat zuhud dan sangat waro'nya?.. Kenapa sampean tidak menimba ilmu pada beliau saja?", kata Kiai Nawawi.

"Ngapunten (maaf) Yai.. Siapakah orang yang Yai maksud tadi?", tanya Kiai Kholil penasaran.
"Lha itu.. Kiai yang ada di Pasuruan itu.. Bukankah saat sampean masih kecil dulu sudah pernah ke sana?.. dan bukankah Kiai itu dulu pernah bilang kepada sampean agar sampean datang ke sana lagi jika sudah besar?", jawab Kiai Nawawi.

Jawaban Kiai Nawawi itu membuat beliau membuka kembali kenangan masa kecil dulu. Beliau teringat saat diajak ayahandanya bersilaturrohmi ke tempat seorang Kiai yang bernama Sayid Abu Dzarrin. Namun dalam hati Kiai Kholil masih ragu, apakah Kiai Abu Dzarrin itu yang dimaksud oleh Kiai Nawawi?..

"Nah, sudah ingat kan?.. iya betul.. nama beliau Kiai Abu Dzarrin.. Sampean sudah lama ditunggu oleh beliau.. segeralah ke Pasuruan dekat desa Karangsono itu!", kata Kiai Nawawi sebelum Kiai Kholil menanyakan siapa Kiai yg beliau maksudkan itu.

Kiai Kholil menyesal kenapa beliau sampai lupa dengan peristiwa yang beliau alami bersama Kiai Abu Dzarrin dulu?..bukankah Kiai itu memang sudah berpesan agar beliau menemuinya lagi di saat dirinya sudah dewasa?.. Dan beliau juga semakin yakin bahwa Kiai Nawawi adalah benar-benar seorang kekasih Allah. Dari mana beliau tahu sedetail itu tentang peristiwa yang beliau alami dulu bersama Kyai Abu Dzarrin?..

Akhirnya.. Kiai Kholil pun menuruti anjuran Kiai Nawawi agar kembali ke Jawa Timur dan menemui Kiai Abu Dzarrin di Pasuruan. Ada hal yang menarik dalam kisah ini.. Sebenarnya Sayid Abu Dzarrin sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu. Kiai Nawawi pun sudah tahu akan hal itu, namun Kiai Kholil belum mengetahuinya, dan rupanya Kiai Nawawi sengaja tidak memberi tahu beliau tentang hal itu. Dengan tekad yang sangat kuat, akhirnya beliau menuju ke Pasuruan ke tempat Kiai Abu Dzarrin.

Nah.. sekarang timbul pertanyaan.. logika apa yang akan kita pakai, jika ada seseorang yang masih hidup, akan menemui bahkan belajar kepada orang yang nyata-nyata sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu?..Sekali lagi jawabannya adalah.. Allah lah yang mengatur dan menghendaki semua itu, dan tidak ada sesuatu pun yang sulit bagiNya.

Setelah sampai di Pasuruan, beliau pun menanyakan tempat Kiai Abu Dzarrin. Sudah lama sekali beliau tidak kembali ke tempat itu sehingga sekarang beliau lupa tempatnya. Sedangkan tiap orang yang beliau tanya dimana tempat Kiai Abu Dzarrin, mereka menyangka bahwa yang beliau tanyakan adalah tempat kubur (pesarean) beliau. Mereka pun menunjukkan tempat kubur Kiai Abu Dzarrin itu, namun bagi Kiai Kholil yang mereka tunjukkan adalah rumah Kyai Abu Dzarrin, bukan kuburnya.

Setelah beliau sampai di tempat Kiai Abu Dzarrin, subhanallah.. benar-benar Kiai Kholil ditemui oleh beliau, seakan-akan Kiai Abu Dzarrin itu benar-benar masih hidup. Tidak jelas seperti apa proses belajar Kiai Kholil di tempat Kiai Abu Dzarrin saat itu, yang jelas.. hingga kini di makam Kiai Abu Dzarrin terdapat sebuah tulisan di dinding yang menceritakan tentang pertemuan dan belajarnya Kiai Kholil bersama Kiai Abu Dzarrin At Tuqo (Kiai Tugu), dan peristiwa itu sudah menjadi sebuah kisah yang selalu disampaikan disaat acara haul akbar Sayid Abu Dzarrin di Pasuruan yang biasanya diselenggarakan pada tanggal 16 Syawwal tiap tahunnya. Bahkan hingga kini dari pihak anak cucu Kiai Kholil selalu mengirimi beras ke Pasuruan untuk acara haul tersebut. [dutaislam.com/ed/gg]

Source: Pecinta Habaib di Indonesia

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini