Selasa, 24 April 2018

Kepada Mbah Djazuli, Nyai Rodliyyah: Bapak Ngaji Saja, Saya yang Ngurusi Kebutuhan Keluarga

Nyai Rodliyyah Djazuli. (Foto: Istimewa)
DutaIslam.Com -  Suatu hari Mbah Nyai Rodliyyah bertanya kepada salah satu ustad Ponpes Al-Falah Ploso. "Nyapo libur? (kenapa libur?)", tanya beliau pada ustad tersebut.
"Mboten kepenak awak ipun (sedang tidak enak badan nyai..)," jawab ustad itu.

"Tak gawekno jamu, ben waras (saya buatkan jamu, biar sembuh)," dawuh Mbah Nyai Rodliyyah sambil berlalu untuk mengolah ramuan Jawa.

Setelah minum jamu buatan Mbah Nyai, sang ustad-pun merasa sungkan dan malu. Hingga beranjak menunaikan tugas mengajar di madrasah pondok Al-Falah.

***
Banyak orang berkata, di balik kesuksesan seorang laki-laki, pasti di belakangnya ada sosok perempuan tangguh. Tangguh itu bisa ditafsiri dengan sifat telaten, sabar, tegas, menaati perintah suami, mendoakan keluarga, sebagai contoh bagi anak-anaknya, dan lain-lain.

Tafsir ketangguhan istri seperti itu, semuanya dimiliki oleh Al-Mghfur Laha Mbah Nyai Rodliyyah Djazuli, Ummi Ma'hadil Falah.

Harus diakui bahwa kesuksesan Mbah Djazuli dalam membangun Al-Falah salah satunya karena jasa besar istri tercintanya, yang telaten, tegas, dan penuh keikhlasan.

Ketika Yai Djazuli menjadi imam sholat subuh misalnya, Mbah Nyai dengan telatennya keluar rumah untuk mengontrol para santri yang punya gelagat tidak mau berjam'ah atau bahkan mbangkong-. Dan itu dilakukan oleh Mbah Nyai setiap hari.

Jika wanita dalam pikiran kita hanya bisa masak, mapan, dan macak. Itu salah besar. Peran wanita sangat diperlukan, baik di garis belakang atau pun garis depan. Seperti Mbah Nyai Rodliyyah yang sigap di urusan rumah tangga (masak, mengurus anak dan suami) dan sigap mengurusi pondok. Mulai dari oprak-oprak santri, memenejemen keuangan pondok, hingga meriyadlohi (nirakati) santri hingga bisa menjadi insan yang mulia di sisi Allah.

Bahkan Mbah Nyai Rodliyyah dengan suara halus matur kepada Mbah Djazuli, "Mpun, njenengan ngahos mawon, kulo engkang ngurusi sangu." (Sudah, Bapak mengaji saja, saya yang mengurusi kebutuhan keluarga.)

Itulah Mbah Nyai kita, yang akan selalu kami kenang jasanya, sebagai penyemangat kami dalam berjuang meneruskan tongkat estafet Yai Djazuli. Ya Allah ... Berikanlah kami tetesan berkah dari kemulyaan Mbah Nyai Rodliyyah. Rahmatilah beliau. [dutaislam.com/gg]

Source: Pondok Pesantren Al Falah Ploso

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini