Senin, 02 April 2018

Kebangkitan Nabi Isa dalam Tinjauan Jalaluddin Rumi

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Kuswaidi Syafiie

DutaIslam.Com - Dalam diskursus sufisme Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), kebangkitan 'Isa al-Masih mutlak dipahami sebagai kebangkitan dimensi-dimensi luhur kemanusiaan yang merupakan fondasi kukuh bagi tegaknya kecemerlangan sejarah dan peradaban umat manusia. Tanpanya, kehidupan ini hanya akan terjejali oleh babakan demi babakan episode yang kelam yang penuh dengan destruksi, intrik, friksi, manipulasi, hoax dan 1001 perbuatan durja lainnya.

"Ilmu pengetahuan adalah warisan 'Isa, bukan keledai, wahai manusia dungu," ungkap Maulana Rumi dalam kitab Matsnawi jilid dua.

Alasannya saya kira sudah sedemikian jelas bahwa hanya dengan ilmu pengetahuanlah seseorang akan sanggup membebaskan diri dari berbagai macam jerat dan belenggu kehidupan. Dan karena jerat serta belenggu itu berlapis-lapis, maka tidak boleh tidak ilmu pengetahuan juga bertingkat-tingkat. Semuanya mesti digunakan sesuai dengan tuntutan dan kapasitas masing-masing.

Ilmu pengetahuan yang dinisbatkan kepada 'Isa al-Masih itu tentu saja tidak hanya yang berkaitan dengan berbagai macam problem yang wadag dan ada di permukaan kehidupan belaka. Akan tetapi lebih dari hal itu, pastilah juga berkaitan dengan bagaimana manusia sanggup memerdekakan diri dari berbagai macam jerat dan belenggu yang samar. Seperti keangkuhan dengan aneka ragam modus dan berbagai tingkatan "ontologisnya." Dan lain sebagainya.

Ketika ilmu pengetahuan yang dinisbatkan kepada 'Isa al-Masih itu kita internalisasikan ke dalam diri dan kita oprasikan secara maksimal di kehidupan kita sehari-hari dalam konteks kebersamaan dengan apa atau siapa pun, maka sebagaimana beliau, kita pun juga akan bangkit dengan kekuatan rohani yang sangat prima untuk senantiasa menjajakan dan membagi-bagikan cinta dan kasih-sayang kepada kehidupan. Tak peduli, apakah dengan tindakan yang mulia dan cemerlang itu kita dipuji atau malah dicaci.

"Milikilah kasih 'Isa, bukan keledai. Jangan biarkan watak kebinatangan mengendalikan akal," lanjut murid Syaikh Syamsuddin at-Tabrizi itu dengan penuh keyakinan.

Artinya adalah bahwa jangan sampai kebodohan yang bertengger pada watak binatang itu dengan seenaknya pindah kepada manusia. Karena sama sekali bukanlah tempatnya. Tapi, apa yang terjadi?

"Dasar akal kalian telah menginginkan watak keledai, yang dia pikirkan adalah "Bagaimana aku dapat memperoleh makanan," ungkap sufi-penyair yang sangat masyhur, baik di barat maupun di timur itu.

Sebagaimana yang telah dialami oleh 'Isa al-Masih, kita pun juga mesti menyediakan diri dengan kesanggupan untuk menampung sifat-sifat keterpujian Tuhan semesta alam dalam diri kita. Sehingga kita menjadi teofaniNya yang paling sempurna di antara seluruh jibunan makhluk yang bertebaran di alam semesta. Hubungan kita dengan Tuhan akan menjadi sedemikian intim dan mesra karena tidak lagi bersifat "struktural", tapi murni linier yang diteguhkan oleh adanya saling cinta antara kita denganNya.

Tuhan memancarkan cinta pada kita dan kita mesti menyebarkannya pada padang-padang kehidupan.
Dunia ini sudah renta. Mengidap penyakit kronis yang menahun. Pertikaian dan pertumpahan darah terjadi di mana-mana. Keculasan dan hipokrisi berpesta-pora memperanakkan kedangkalan demi kedangkalan hidup yang sangat bacin. Dan kita sebagai orang-orang yang takzim kepada 'Isa al-Masih dan masih setia memungut jejak-jejaknya, tidak boleh tidak mesti senantiasa bangkit untuk mengobati penyakit-penyakit kemanusiaan yang menyerang umat dan kehidupan. [dutaislam.com/pin]

Kuswaidi Syafiie adalah penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini