Senin, 02 April 2018

Isra Mi'raj; Titik Temu Agama-Agama Samawi

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Kajian tentang Isra Mi'raj kebanyakan berisi tentang cerita-cerita supranatural di luar akal dan pikiran manusia dengan pembahasan yang cenderung melangit dan imajinatif. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah-kisah tersebut, sebagai umat Islam kita tentu meyakini perjalanan isra mi'raj sebagai salah satu tanda kebesaran Allah dan kemuliaan Nabi Muhammad. Lantas adakah pendapat dari para ulama tentang pengkajian peristiwa isra mi'raj yang lebih membumi?

Pada hakikatnya, peristiwa isra mi'raj merupakan momentum bagi umat Islam untuk merenungkan kembali hakikat kita beribadah. Salah satunya meningkatkan spirit perdamain dan sikap toleransi antarumat beragama. Lebih-lebih, pola beragama di dunia maya, yang hanya melihat persoalan agama dari sudut pandang hitam-putih serta benar dan salah. Kesalehan seorang pemeluk agama dipandang dari citra diri mereka di media sosial, tanpa ada landasan keilmuan yang kokoh dan valid. Sehingga agama terkesan kaku, ekslusif, dan intoleran. Agama hanya menjadi sebuah ajang kontestasi.

Zuhairi Misrawi, mengutip pendapatnya Syekh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqh al-Sirah, terdapat dua makna penting di balik kejadian isra mi'raj Nabi Muhammad SAW. Pertama, kunjungan Nabi Muhammad ke Bait al-Maqdis pada saaat isra, mengingatkan  bahwa Islam mempunyai hubungan erat dengan agama-agama samawi sebelumnya. Islam juga membawa misi monoteistik, sehingga peristiwa isra ini membentuk kontruksi solidaritas antar umat beragama.

Pada kejadian ini, Nabi Muhammad memberikan teladan kepada umatnya, untuk bersikap hormat dan menjunjung tinggi ajaran-ajaran nabi terdahlu. Maka tidak sepatutnya kalau ada kelompok yang mempertentangkan ajaran para nabi. Bahkan Al-Qur'an memerintahkan umat Islam untuk beriman kepada Tuhan, malaikat, kitab-kitab suci dan utusan Tuhan terdahulu.

Kedua, peristiwa isra mi'raj nabi menegaskan bahwa Islam merupakan agama fitrah. Seluruh ajaran-ajaranya bisa mewujud menjadi pondasi dalam membenttuk pribadi muslim yang mampu menemukan saripati dan esensi agama.

Memahami titik temu agama-agama samawi

Ketika Nabi Muhammad tiba di langit, beliau bertemu dengan utusan-utasan Allah sebelumnya. Mulai dari langit pertama, Rasulullah SAW berjumpa dengan Nabi Adam a.s, Nabi Yahya dan Isa di langit kedua, dan dilanjut bertemu Nabi Yusuf di langit ketiga.

Kemudian ketika singgah di langit keempat, Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Idris a.s. Di langit kelima beliau berjumpa dengan Nabi Harun a.s. Lalu bertemu Nabi Musa a.s. Dan di langit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan kekek buyutnya, Nabi Ibrahim a.s. Perjumpaan dan dialog Nabi Muhammad dengan nabi-nabi sebelumnya memberikan isyarat bahwa ada titik temu antara agama-agama samawi, yakni sikap pasrah kepada Tuhan.

Menurut Cak Nur, sikap pasrah menjadi titik temu atau common platform yang menjadi hakikat dasar agama-agama samawi sebagai pesan tuhan yang universal. Inilah yang menjadi inti ajaran para nabi dan rasul, sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Baqarah ayat 133 yang menjelaskan bahwa Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishaq adalah Tuhan yang esa. Hanya kepada-Nya anak-anak Ya’kub berserah diri (berislam). Sikap pasrah merupakan perpaduan antara dua pandangan: kesatuan kenabian (the unity of prophecy) dan kesatuan kemanusiaan (the unity of humanity). Keduanya berangkat dari konsep keesaaan Tuhan.

Dari sinilah, Cak Nur mengajak umat Islam untuk lebih bersifat terbuka, toleran, dan menghargai setiap perbedaan sebagai wujud dari Islam yang sebenarnya. Ketika seorang muslim tidak terjebak dalam sikap ekslusivisme dan absolutisme, ia akan menyadari adanya suatu sikap kejiwaan yang melihat adanya kemungkinan kebenaran dari orang lain. Sikap seperti ini sangat penting dalam beragama melihat karakter dasar manusia diciptakan dalam keadaan fitrah dan hanif. Artinya, setiap orang pada dasarnya suci dan cenderung pada kebenaran.

Apabila melihat pola keberagamaan masyarakt saat ini, ada sekelompok ormas Islam yang justru bertindak di luar batas-batas kemanusiannya. Mereka dengan mudah memvonis kafir dan sesat kelompok lain. Bahkan sampai melakukan persekusi dan tindak kekerasan. Hilangnya kesadaran beragama yang hanif semacam ini menjadi salah satu fenomena yang menyedihkan dan tidak seharusnya terjadi jika mereka mau benar-benar memahami ajaran Nabi Muhammad.

Pada titik ini, manusia kehilangan fitrah kemanusiaannya. Mereka sudah merusak pondasi dan akar ajaran agamanya sendiri. Agama yang sejatinya membawa pesan damai dan cinta kasih, tapi justru yang memicu kebencian dan sikap ekslusif yang merugikan diri sendiri dan kelompok lain.

Padahal pesan dan misi para nabi dari agama-agama samawi memiliki kesamaan mendasar, pasrah kepada Tuhan. Para nabi juga pernah berjumpa, saling tegur sapa, dan mendoakan kedamaian serta keberkahan di antara mereka. Di sinilah pentingnya umat Islam memperingati peristiwa isra mi'raj untuk merenungkan kembali pentingnya memahami titik temu agama-agama samawi.

Karena itu, momentum isra m'iraj, kita jadikan sebagai upaya menumbuhkan sikap inklusif dalam beragama, toleran dan saling menghargai anatar kelompok beragama. Karena kita menyakini bahwa kebenaran mutlak hanya milik Tuhan semata.

Mahmud Muhammad Thaha, sebagaimana dikutip Zuhairi Misrawi dalam buku Islam dalam Pandangan Muslim Moderat,  berpesan kepada kita bahwa ajaran salat yang diperintahkan Tuhan kepada Nabi dalam peristiwa Isra Mi'raj adalah salat untuk perdamaian. Sudahkah kita memulai menyebarkan kedamaian di sekeliling kita? [dutaislam.com/in]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini