Kamis, 12 April 2018

Hiruk Pikuk Logika Kitab Suci Fiksi Adalah Retro Ide Komunisme Berakar Materialisme

Foto: Istimewa
Oleh Fashihullisan

DutaIslam.Com - Kakek atau mungkin orang tua kita yang sudah dewasa pada tahun 1960an pasti ingat bagaimana kampanye budaya yang dilakukan oleh PKI. Lewat Lekra, atau lembaga kesenian rakyat yang merupakan organisasi di bawah PKI membuat pertunjukan pertunjukan yang substansinya adalah untuk menyebarkan tidak pentingnya percaya dengan Tuhan dan kitab suci semua agama. Lekra sering membuat pertunjukan ketoprak, ludruk, ataupun drama dengan lakon "Tuhan telah Mati".

Kenapa PKI sangat benci dengan semua ajaran agama, termasuk di dalamnya kitab sucinya? Menurut kaum komunis, ajaran agama, utamanya dalam kitab suci hanya mengajarkan penghiburan pada kalangan proletar. PKI beranggapan bahwa kitab suci menghalangi kaum proletar untuk mencapai kesadaran kelas, yang menurut komunisme kesadaran kelas merupakan syarat dasar bagi revolusi proletar atau revolusi komunis.

PKI memetakan bahwa agama sebagai candu, atau pemberi kenikmatan palsu, sehingga meskipun kaum proletar tertindas, tetapi tetap menerima pada keadaan ketertindasan. Oleh karena itulah PKI selalu mengatakan bahwa kitab suci semua agama adalah fiksi, atau rekaan semata yang ditujukan untuk membius kesadaran kolektif akan keindahan surga. Menurut kaum komunis, kerangka fiksi kitab suci juga telah dibajak oleh kalangan elit agar semua kaum proletar tetap patuh dan taat pada tertib sosial yang didominasi oleh kaum borjuis dengan mengatasnamakan kelatuhan beragama.

Hiruk pikuk logika yang mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi, yang dalam makna standar kamus besar bahasa Indonesia berarti rekaan, karangan manusia, merupakan salah satu bentuk retro dari ide komunisme. Pernyataan kitab suci adalah fiksi merupakan reproduksi ide yang sangat berakar pada ide materialisme, yang juga dimanfaatkan oleh kalangan komunis dalam ide materialisme historisnya. Tentu saja ide bahwa kitab suci itu fiksi sangat bertentangan dengan kaidah dasar Pancasila, karena semua penganut ideologi Pancasila akan meyakini bahwa Tuhan menyampaikan pesan kewahyuannya lewat kitab suci.

Meskipun PKI secara legal telah dihapus dari bumi pertiwi, tetapi logika logika dasarnya masih dipakai oleh orang orang yang setuju dengan ide kitab suci itu fiksi. Hal ini merupakan tantangan terbesar bagi seluruh penganut agama yang harus membuktikan bahwa kitab suci merupakan wahyu dari Tuhan, karena sesungguhnya kekafiran atau pengingkaran adalah saat tidak lagi percaya bahwa Tuhan menyampaikan wahyu ke dunia, yang salah satunya melalui kitab suci.

Al Quran secara jelas menantang keraguan seluruh manusia, misalnya untuk membuktikan bahwa Al Quran bukanlah rekaan manusia. Allah menantang manusia untuk membuat ayat tandingan, kalo memang beranggapan ayat Quran sebagai ciptaan atau karangan manusia.

Bahkan banyak isi dalam Quran yang menyatakan fakta fakta, misalnya peristiwa Isro' Nabi ke Baitul Makdis di palestina. Saat itu, Nabi dianggap sebagai orang gila, karena menyampaikan kemustahilan yang dapat dengan cepat melakukan perjalanan ke Palestin dalam waktu kurang satu malam padahal saat itu dengan naik kuda atau onta masih memerlukan waktu berhari hari. 1400 tahun kemudian, Isra' Nabi mulai dipahami, karena ternyata pesawat tempur sukoi yang buatan manusia saja sudah mampu melaju lebih dari 2800km/jam.

Rasionalitas dan logika manusia seringkali menjadi penyakit bagi pengakuan wahyu pada kitab suci. Ini sangat wajar, karena keterbatasan ruang gerak rasio dan logika pada transedensi kitab suci. Bagi orang beriman, logika dan rasio harus sementara waktu dikesampingkan apabila tak mampu untuk mengidentifikasi kebenaran kitab suci. Bagi kaum tak beriman, keterbatasan rasio dan logika menjadi alasan untuk lari dari kitab suci, sehingga mereka mengatakan kitab suci itu fiksi. [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini