Minggu, 15 April 2018

Gubes Undip Sebut Khilafah Bukan Fiksi, Habib Ali: Dirikan Khilafah Tapi Dzalimi Muslim, Itu Penipuan

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Guru Besar Undip Prof Suteki menyebut bahwa Khilafah bukan fiksi tapi realitas. Hal ini disampaikan pada peringatan isra’ mi’raj di Semarang.

Dilansir dari dakwahmedia.co, salah satu portal online yang merupakan pendukung ide khilafah, awalnya Prof Suteki mengkritisi soal pemburan HTI melalui terbitnya perppu ormas yang kemudian menjadi undang-undang. HTI baginya adalah ormas dan aktifitasnya adalah dakwah menyampaikan ide khilafah. Sehingga tidak boleh dipasung.

“Khilafah itu bukan Fiksi tapi realitas,” katanya sebagaimana dikutib media tersebut.
Dia juga bilang NKRI tidak akan berubah jika Khilafah ditegakan. Menurutnya, NKRI masih tetap ada. “NKRI masih ada pak hakim namun kepanjangannya berubah menjadi Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah, maaf pak hakim cuma bercanda,” ungkapnya menceritakan pengalamannya di sidang PTUN.


Selian Prof Suteki, KH. Muhammad Ainul Yaqin juga masih kampanye khilafah meski HTI sudah dibubarkan. Bahkan dia menyebut khilafah tidak bisa dipisahkan dan menyamakannya dengan ibadah shalat dan puasa.

“Bicara Khilafah Islamiyah tidak bisa dipisahkan dengan Islam, karena Khilafah adalah ajaran Islam. sama seperti ajaran Islam yang lain, seperti sholat, puasa dan lain sebagainya,” katanya, dalam acara peringatan Isra Mi’raj 1439 H oleh Majelis Cinta Rasul, Sabtu ( 14/04/2018) yang dilansir dari media yang sama.

Pengasuh Pondok Pesantren Ukhuwah Islamiyah tersebut memperkuat pernyataanya yang disebutnya hadis. “Diantara Hadis yang menjadi dasar yang sangat jelas bahwa Khilafah adalah ajaran Islam adalah terdapat dalam hadis yang berbunyi, “Jika dibai’at dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir diantara keduanya,” ungkapnya.

Berdasarkan fakta sejarah, masa kepemimpinan dengan sistem khilafah dimulai sejak era Umayyah. Bagaimana mungkin nabi menyampaikan hadis tersebut sedangkan pada masa nabi tidak ada sistem khilafah. Bahkan istilah khalifah yang disematkan kepada sahabat nabi baru dikenal belakangan pada era Abbasiyah. Dulu para sahabat rasul itu dikenal dengan amirul mu’minin. Benarkahkah hadis yang disampaikan Ustad Ainul? Silahkan dicerna sendiri.

Ingin Dirikan Khilafah Tapi Menzalimi Muslim Adalah Penipuan

Pada kesempatan yang hampir bersamaan, ulama berkebangsaan Yaman Habib Ali Al-Jufri mengkritik kelompok pengusung ide khilafah. Menurutnya, pendakwah ke jalan Allah bertugas untuk menenangkan nafsu-nafsu  amarah agar sejalan dengan ajaran Rasulullah Saw. Peran pendakwah bukan memprovokasi  kecuali pada jihad yang betul dan syarat-syarat yang dibenarkan syariat.

“Bukan kalimat jihad yang dicuri dan disalahgunakan untuk kepentingan yang keliru, menipu atas nama jihad Islam,” ujar Habib Ali Al-Jufri dalam ceramahnya di Jalsatud Du’at di PP Alfachriyah Tangerang, Jumat (13/04/2018).

Habib Ali memberi contoh kelompok orang yang kampanye khilafah tapi mendzalimi dan membantai sesama muslim. “Ini adalah pencurian dan penipuan atas nama jihad,” tegas sebagaimana dilansir dari islamindoensia.id.

Habib menceritakan, di Timur tengah ada dua sampai empat negara luluh lantah. Ketika ditelusuri kelompok yang terlibat penghancuran bilang demi Khilafah Islamiyah.

“Kalau seseorang bertanya kepada mereka yang bom bunuh diri di pasar, adalah tujuannya agar tokoh tertentu dibunuh, tetapi muslimin yang terbunuh. Dari mana mereka dapat senjata? Kami beli. Dari mana kamu beli? Dari beberapa negara. Kenapa untuk membunuh bangsamu sendiri? Mana klaim Khilafah? Semuanya adalah kebohongan,” ujarnya.

Hasil dari klaim Khilafah, lanjut Habib, umat Islam berbaris mengantri mohon suaka ke negara lain. Selian itu, muncul pemurtadan kepada korban konflik.

“Inikah yang Anda sebut dengan Khilafah Islamiyah? Mana klaim Khilafah? Provokasi adalah misi setan. Setiap orang yang fondasinya provokasi berarti mengikuti misi setan yaitu agar saling bermusuhan,” ujarnya.

Habib Ali mengingatkan agar menjaga negeri ini (Indonesia).

“Jangan terprovokasi dengan orang pakai baju putih yang mengatasnamakan Islam, demokrasi, liberalisme untuk merusak dan menipu,” katanya.

Mengutip Imam Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam as-Sulthaniyah, Habib Ali bilang, agama, akal, jiwa, kehormatan dan harga diri harus dijaga. “Jika negara hancur, maka semuanya akan hancur,” ungkapnya.[dutaislam.com/pin]

Keterangan:
Data diolah dari dakwahmedia.co dan islamindoensia.id 


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini