Jumat, 06 April 2018

Dakwah Toleransi Lebih Efektif Dari Dakwah Jargon, Jidad Hitam, Cingkrang dan Jenggot Awut-awutan

Foto: Istimewa
Oleh M Fashihullisan

DutaIslam.Com - Persoalan intoleransi di Indonesia menunjukkan tren yang terus naik dari waktu ke waktu. Satu kelompok menyenggol kelompok lain, lalu dibalas dengan gelitikan kelompok lainnya. Seakan kondisi ini menjadi pola yang saling berbalas, tak jelas ujung pangkalnya. Kondisi semakin meruncing dengan beberapa kelompok yang berafiliasi dengan pergerakan global yang menginginkan penyeragaman, tidak hanya pada ide, bahkan pada wilayah tradisi, pola pandang, fashion, bahkan yang lebih naif adalah jenggot.

Kelompok kelompok tertentu berusaha memaksakan bahwa identitas kesalehan harus ditunjukkan dalam tanda dan ciri minor seperti jidat hitam, celana cingkrang dan bahkan jenggot lebat yang tak pernah dirapikan. Kelompok lain yang tak mau mengakui identitas kesalihan itu secara serta merta dianggap sebagai anti sunnah, bahkan tak sedikit yang kemudian mereka stigma penghina sunnah Rosul.

Pola ini kemudian menjadikan keresahan  bagi kelompok lainnya yang tak sejalan dan kemudian melakukan kritik kritik, tapi kadang kritiknya juga sampai sedikit sarkastik. Kritik yang kadang atas namakan pembelaan tradisi lokal ini, justru berdampak pada hubungan sosial yang makin renggang, memunculkan konflik dan polemik baru, bahkan tak sedikit berdampak pada tudingan penistaan atas nama agama sebagai senjata ampuh pamungkas yang sering efektif dipakai untuk membabat musuhnya.

Sejatinya bangsa Indonesia, sebelum kedatangan para aktor pergerakan impor yang atas namakan jihad dan dakwah ini, telah mempunyai instrumen toleransi yang bersendikan nilai nilai lokal bangsa ini. Prasasti toleransi diabadikan dari bentuk menara kudus yang merupakan menara yang dibangun oleh Sunan Kudus di era awal dakwah Islam.

Bentuk menara kudus yang mengadopsi arsitektur candi jawa, merupakan bukti bahwa dalam berdakwah tak harus menusuk orang lain yang berbeda keyakinan. Kehadiran menara ini, menunjukkan bahwa Sunan Kudus memberi ruang kepada tradisi lokal pra Islam untuk tidak dengan serta merta dihilangkan meskipun Islam telah ada lewat pembangunan tempat ibadahnya. Toh hal ini tidak kemudian menggerus keimanan seorang muslim saat ibadah dalam masjid meskipun menaranya berarsitek model tradisi lokal sebelum Islam.

Tak hanya menara masjid, Sunan Kudus juga memberikan pelajaran pada segenap masyarakat Muslim di kudus untuk menjaga perasaan ummat lain berkaitan dengan makanan. Pemeluk agama sebelum Islam, mengharamkan makan daging sapi putih, karena mereka memiliki keyakinan sebagai hewan suci. Sunan Kudus memberikan solusi, untuk memakan daging tak harus makan daging sapi, tetapi memakan daging kerbau saja, toh sama sama halal, sama sama lezat tetapi tak menyinggung pemeluk lainnya. Ajaran Sunan Kudus masih lestari sampai sekarang, bahkan menjadi kuliner khas kudus yaitu soto Kudus yang terkenal lezat dan tentu saja menjadikan ihlas dan senang bagi pemeluk agama lainnya.

Inilah nilai nilai yang semestinya diresapi oleh segenap pemeluk agama, yang tentunya tak hanya harus dilakukan oleh ummat Islam saja. Umat selain Islam juga patut dan indah apabila menjaga perasaan ummat Islam dengan tak terlalu mencolok saat mengkonsumsi daging babi yang sangat diharamkan oleh umat Islam, apabila di suatu tempat banyak terdapat umat Islam.

Andai saja, pola untuk saling pengertian, pola untuk tak terlalu mempermasalahkan hal hal kecil, maka akan terbangun toleransi. Masing masing kelompok sangat wajar mempunyai keyakinan spesifik, tetapi keyakinan itu tentunya tak harus dipaksakan untuk dihakimkan pada kelompok lain.

Perbedaan merupakan suatu keniscayaan, bahkan perbedaan akan tetap muncul pada isi kepala anak kembar idektik yang berada 9 bulan bersama sama dalam kandungan. Kepala boleh sama hitam, tapi isi kepala seringkali berbeda bahkan bertolak belakang.

Perbedaan itu semestinya tidak menjadi bahan komoditas untuk mengungkit permusuhan atas nama dakwah yang kadang bukannya mengundang simpati orang lain dan kelompok lain, tetapi justru memunculkan pertikaian. Semua juru dakwah harus belajar dengan ulama ulama dan pendakwah di masa awal masuknya Islam di Indonesia, sebabaimana juga yang dilakukan Sunan Kudus.

Toh nyatanya dakwah dengan penuh toleransi itu secara empiris lebih efektif dibandingkan dengan dakwah dengan jargon, jidat hitam, jenggot awut awutan dan celana cingkrang [dutaislam.com/pin]

M. Fashihullisan, Kepala Pesantren Mahasiswa Ar Rahman Tlogosuryo Malang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini