Selasa, 10 April 2018

Bagaimana Cara Memahami Asbabun Nuzul Al-Qur'an? Ini Penjelasan Ahli Tafsir

Cara memahami asbabun nuzul Al-Qur'an
Pembahasan asbabun nuzul sudah sejak lama menjadi perbincangan para ulama ahli tafsir. Para ulama menilai asbabun nuzul mempunya porsi penting dalam memahami Al-Qur'an. Sebab, asbabun nuzul merupakan piranti untuk meneropong sosial historis yang terjadi pada era Nabi Muhammad.

DutaIslam.Com - Dalam mengetahui asbabun nuzul suatu ayat atau surat tertentu, para ulama selalu memperhatikan betul sumber riwayat yang dijadikan rujukan, baik validitas dan keabsahan riwayatnya, ataupun integritas perawinya. Ada seleksi yang ketat dalam proses penerimaan riwayat yang berkaitan dengan asbabun nuzul.

Proses seleksi ini dilakukan mayoritas ulama untuk menjaga keontetikan riwayat tersebut. Proses seleksi yang ketat tadi meliputi pribadi rawi, jalur riwayat atau isnad, dan matan. 

Dalam hal ini, Imam al-Wahidi menegaskan:

لا يحل القول في أسباب نزول الكتاب إلا بالرواية والسماع ممن شاهدوا التنزيل, ووقفوا على الأسباب وبحثوا عن علمها وجدوا في الطلب.

Artinya: “Tidak dibenarkan mengemukakan pandangan terkait dengan Asbab Nuzul al-Qur’an, kecuali berdasarkan riwayat dan informasi yang didengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan secara langsung peristiwa turunnya ayat, mencermati sebab-sebab tersebut, dan bersungguh-sungguh dalam mencarinya”.

Pemilihan dan pemilahan riwayat yang berkaitan dengan asbabun nuzul dilakukan para ulama dengan sangat teliti. Ada proses pengecekan dan seleksi yang ketat. Para ulama tidak begitu mudah menerima riwayat tersebut, ada penelitian yang mendalam terlebih dahulu.

Untuk mengetahui asbabun nuzul suatu ayat atau surat bukanlah pekerjaan yang mudah. Sehingga, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan satu riwayat yang berkaitan dengan asbabun nuzul.

Menurut Imam al-Dahlawi ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat kesulitan dalam menentukan riwayat asbabun nuzul:

1. Para sahabat atau tabi'in dalam menyebutkan suatu riwayat terkadang tidak dijelaskan dengan tegas bahwa riwayat tersebut berkaitan dengan asbabun nuzul suatu ayat. Dan ternyata, setelah diteliti  riwayat tersebut berkaitan dengan sebab turunnya ayat tadi.

2. Para sahabat atau tabi'in dalam menjelaskan suatu hukum dengan disertai penjelasan ayat tertentu. Lalu mereka menyatakan "ayat tersebut berkaitan dengan kasus ini". Pernyataan sahabat tadi terkesan pertama kali menunjukkan bahwa riwayat tersebut merupakan asababun nuzulnya. Namun, bisa juga pernyataan sahabat tadi hanya sebatas kutipan dari istinbat hukum yang dilakukan Nabi Muhammad mengenai ayat yang dipaparkan tersebut.

Maka dari itu, para ulama memberikan kriteria tertentu pada hadis yang dapat dijadikan sumber rujukan dalam riwayat asbabun nuzul. Kriteria itu meliputi hadisnya harus berupa hadis marfu', tidak terputus sanadnya, dan matan serta sanadnya harus sahih.

Klasifikasi redaksi dalam periwayatan asbabun nuzul

Para ulama mengklasifikasikan secara garis besar redaksi dalam pengungkapan riwayat asbabun nuzul ke dalam tiga kategori:

1. Ada tiga kriteria bentuk redaksi yang disepakati para ulama. Tiga kriteria itu mencakup beberapa unsur utama. Pertama, redaksi yang menyebutkan secara jelas bahwa peristiwa dalam riwayat tersebut merupakan sebab turunnya ayat.

Kedua, riwayat yang diceritakan sahabat memuat redaksi yang mengarah secara jelas pada definisi asbabun nuzul. Ketiga, redaksi yang diucapkan sahabat dalam riwayatnya harus menggunakan pola bahasa yang bersifat tegas menunjukkan asbabun nuzul.

Redaksi yang bersifat tegas dalam menunjukkan asbabun nuzul dapat berupa: حدث كذا وكذا فأنزل الله كذا, حدث كذا وكذا فنزلت آية كذا, سبب نزول الآية كذا, atau سئل وسول الله كذا    فنزلت الاية.

2. Bentuk redaksi yang diriwayatkan sahabat masih mengandung kemungkinan lain. Artinya redaksi tersebut memungkinkan menunjukkan selain asbabun nuzul. Sehingga para ulama masih memperselisihkan redaksi tadi ditujukkan untuk asbabun nuzul atau tidak. Redaksi yang diungkapkan perawi  dalam riwayatnya berupa ungkapan seperti: إن الآية نزلت في إباحة كذا… أو في منع كذا…” , atau نزلت هذه الآية في …, atau  نزلت الآية…”.

Dalam menyikapi redaksi ini, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Imam Bukhari memahami bahwa redaksi tersebut sudah menunjukkan terhadap asbabun nuzul suatu ayat. Sedangkan Imam az-Zarkasy melihat bahwa redaksi-redaksi tadi justru  mengarah pada penafsiran atau penjelasan hukum yang terkandung dalam suatu ayat.

Berbeda dengan pendapat yang dikemukakan Imam Ibnu Taimiyah. Beliau berpendapat bahwa redaksi tersebut memuat dua kemungkinan: bisa dinilai mengarah pada asbabun nuzul suatu ayat atau sebagai penjelas dari maksud suatu ayat. Kemungkinan-kemungkinan itu, menurut Imam al-Qasimi, bisa diketahui dengan melakukan upaya ijtihad. Sehingga dapat ditentukan riwayat sahabat tadi sebagai asbabun nuzul atau bukan.

3. Bentuk redaksi yang ketiga ini, para ulama bersepakat tidak masuk kategori redaksi yang menjelaskan asbabun nuzul. Ada dua indikator redaksi tersebut tidak menunjukkan pada asbabun nuzul, yakni:

Pertama, perawi memang tidak menyebutkan redaksi yang jelas mengarah pada asbabun nuzul. Misal, perawi mengungkapkannya dengan redaksi seperti حدث كذا فقرأ النبي صلى الله عليه وسلم......أو فتلا النبي كذا وكذا

Redaksi dengan ungkapan qiraah atau tilawah, menurut ulama, hanya menunjukkan pada ayat yang dibaca Rasulullah SAW pada waktu itu, tidak menjelaskan pada asbaun nuzul suatu ayat. Beliau membacakan ayat itu guna memperjelas kandungan ayat tersebut atau menjelaskan hubungan suatu ayat dengan ayat lain yang berkaitan dengan suatu kejadian.

Kedua, redaksi yang diungkapkan perawi tidak secara pasti mengarah pada asbaun nuzul suatu ayat. Redaksi yang digunakan masih bersifat dugaan. Adapun contoh redaksinya seperti حدث كذا فأحسب أن الآية نزلت فيه …, atau حدث كذا فأظن أن هذه الآية نزلت فيه, atau “ما أحسب أو ما أظن أن هذه الآية نزلت إلا في كذا …”.

Pada tataran ini, perawi memahami asbabun nuzul ayat hanya berlandaskan pada konteks sosial historis yang bersifat dugaan. Di mana, sumber riwayatnya tidak berdasarkan kesaksian perawi secara langsung akan turunnya ayat atau tidak berdasarkan informasi dari orang yang menyaksikan secara langsung.

Namun, bentuk redaksi yang ketiga ini bisa dijadikan sumber memahami asbabun nuzul jika didukung riwayat lain yang menguatkan redaksi tersebut. Para ulama membatasi riwayat pendukungnya harus dengan menggunkan redaksi yang jelas menunjukkan pada asbabun nuzul suatu ayat. [dutaislam/in]

Artikel dutaislam.com

Demikian penjelasan bagaimana cara memahami asbabun nuzul suatu ayat atau surat dalam Al-Qur'an, silahkan baca di artikel berikutnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini