Kamis, 05 April 2018

Alasan Mengapa NU Lebih Condong Bermadzhab Syafii Dibanding yang Lain

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Kita ketahui bahwa empat Madzhab Ahlusunnah kesemuanya adalah ulama yang luar biasa, baik ilmunya, akhlak kepribadiannya dan sebagainya. Semua ulama mengakui hal itu.

Lantas mengapa kebanyakan orang NU memilih Madzhab Syafi'i? mari kita belajar dari Imam Ahmad bin Hanbal, salah satu Imam dalam 4 Madzhab. Beliau memiliki keistimewaan menghafal banyak riwayat dari Nabi, Sahabat dan Tabiin.

Abdullah bin Ahmad mengisahkan bahwa Abu Zur'ah berkata kepadanya: "Ayahmu hafal1.000.000 hadis". Ia ditanya: "Darimana anda tahu.Abu Zur'ah berkata: "Aku saling mengingatkan hadis dengan Ahmad, lalu aku ambil beberapa bab. Ternyata, Imam yang luar biasa hebat ini terkadang masih memakai fatwa Imam Syafii:

Ahmad bin Hanbal: "Jika saya ditanya suatu masalah yang tidak saya temukan hadisnya, maka saya fatwakan dengan pendapat Syafi'i. Sebab dia Imam Suku Quraisy, seperti diriwayatkan dalam hadis bahwa Nabi bersabda: 6 rang alim dari Quraisy akan memenuhi ilmu di dunia'”

Ulama yang hafal sejuta hadis saja masih mau menggunakan pendapat Imam Syafi'i, malah yang tidak hafal hadis, masih enggankah mengikuti Imam Syafi'i?

Tidak Benar Tuduhan Madzhab Syafii Tidak Berdasar Quran-Hadis
Ada satu anggapa dari segelintir orang bahwa Madzhab Imam Syafi'i ini tidak berlandaskan kepada Quran dan Hadis. Sehingga dianggap banyak bidah di dalamnya.

Anggapan ini tentu tidak benar. Kita perhatikan seksama pengakuan Imam Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal berkata: "Awalnya ahli hadis yang paling baik ada di tangan Abu Hanifah. Hingga kami melihat Syafii, ia orang yang paling mengerti al-Quran dan Hadis"

Tidak cukup sampai disitu pujian Imam Ahmad kepada gurunya tersebut, dalam riwayat lain Imam Ahmad berkata:

"Kami selalu menghujat kelompok rasionalis, mereka juga menghujat kami, hingga datang asy-Syafi'i, kemudian ia memberi jalan keluar diantara kita"

Dengan demikian, Madzhab Syafiiyah ini dikenal dengan Madzhab yang moderat, yaitu memadukan antara dalil agama dengan rasional. Namun akal diletakkan di bawah dalil agama. Sebab orang yang terlalu berlebihan kepada teks dalil agama, maka cenderung menjadi radikal. Dan orang yang berlebihan menggunakan akal, maka cenderung menjadi liberal [dutaislam.com/pin]

Keterangan: 
Diambil dari buku Buku Jawaban Tuduhan Bid’ah 2, Ustad Makruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini