Jumat, 13 April 2018

Ahmad Sahal: Kitab Suci Menurut Rocky Gerung Sama dengan Babad Tanah Jawi

Ahmad Sahal dan Rocky Gerung. (sumber foto: @sahaL_AS)
DutaIslam.Com - Pengurus PCI NU Amerika, Ahmad Sahal, kembali menanggapi pernyataan Rocky Gerung perihal ucapannya "kitab suci adalah fiksi". Melalui akun Twitternya @sahaL_AS, ia kembali menuliskan kultwit lanjutan dari kultwitnya yang pertama: Tanggapan Ahmad Sahal Atas 'Kitab Suci Fiksi' Rocky Gerung: RG Menggunakan Filsafat Untuk Hantam Jokowi

Berikut lanjutan kultwitnya, Kamis (12/04/2018):

17. Lanjutan kultwit saya menanggapi @rockygerung: "Kitab Suci dan Fiksi". RG bilang, "kalau saya pake definisi fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi. Krn belum selesai, belum tiba itu." Dlm soal ini, kitab suci mnrt RG sama dgn Babad Tanah Jawi.

18. Bgmn respon kaum yg hobi koar2 anti penistaan agama thd pernyataan RG bahwa kitab suci adalh fiksi? Ternyata mrk memaklumi dan bisa mengerti, paling2 mau minta tabayun ke RG..

19. Cara mrk mendukung RG juga macem2. Ada yg bilang: oh ga apa2. Fiksi yg dimaksud RG adalh "al-ghaib," dan muslim meyakini 'al ghaib."  Ada yg berkilah, kan RG bilang "kitab suci", dan tak scr eksplisit menyebut "Qur'an." Jadi itu bukan penistaan thd qur'an.

20. Ada jg yg mengaimini distingsi yg dibuat RG antara “fiksi” dan “fiktif”, terus dimaknai sendiri scr mengarang bebas utk nyinyirin pemerintah. Pdhl distingsi tsb tak dikenal sepanjang sejarah filsafat, krn baru lahir 3 hari lalu, hasil karangan RG sendiri. (Akan saya jelaskan).

21. Tp lepas dari akrobat pembelaan kubu sebelah thd RG yg bernada apolojetik tsb, pernyataan RG buat saya BUKAN penistaan kitab suci, dan konyol kalo dipolisikan. Buat saya, ini bkn soal penistaan kitab suci, tp soal sikap pengecut RG dlm mempertahankan argumennya sampe pol.

22. Sikap pengecut RG ini terlihat saat merespon pertanyaan Bang @akbarfaizal68 ttg apa yg dimaksud RG dgn "kitab suci adlh fiksi." Qur'an adalh kitab suci umat Islam. Apakah mnrt RG qur'an adalah fiksi? Kalo mau konsisten scr logika, RG harusnya mengiakan... Tp ia ngeles.

23. Ngelesnya RG ini saya sebut pengecut krn sbg orang yg selalu membanggakan tingginya mutu keruntutan nalarnya, RG tak berani menyatakan implikasi logis dari pernyataannya:
RG bilang "kitab suci adlh fiksi."
Qur'an adalh kitab suci.
Berarti mnrt RG, Qur'an itu fiksi.

24. Di sini RG yg selalu bangga2in logika tiba2 jadi takut berlogika, menolak utk menegaskan silogisme sederahana dari pernyataannya sendiri. Harusnya RG berani bilang, kalo saya bilang kitab suci itu fiksi, maka qur'an juga termasuk fiksi, dlm arti pengaktifkan imajinasi.

25. Andai RG punya nyali utk menyatakan implikasi logis dari penyataannya tsb, RG bisa aja bilang bahwa kalo dia menyatakan qur'an itu fiksi, itu artinya qur'an sbg kitab suci berperan mengaktifkan imajinasi. Tp taruhlah dimaknai demikian, tetep pernyataan RG problematis.

26.  Penyataan bahwa kitab suci adlh fiksi (dlm arti mengaktifkan imajinasi) mengandaikan adanya human agency/ author di belakangnya yg mencipta imajinasi tsb? Dgn kata lain, pandangan RG ini mengasumsikan kitab suci mrpkn produk budaya manusia sbgmn Babad tanah Jawi.

27. Dlm kasus Qur'an, RG bisa masuk dlm perdebatan dlm teologi skolastik Islam ttg apakah Qur'an itu eternal krn mrpkn kalam Ilahi, atau makhluk yg haadits (profan). Mgkn menarik mengaitkan pandangan Mu'tazilah yg bilang Qur'an itu makhluk dgn ide RG bahwa kitab suci itu fiksi..

28. Penyataan RG ttg kitab suci adalh fiksi sebenarnya bisa memunculkan perdebatan menarik, di luar forum ILC, ttg filsafat dan teologi kitab suci, termasuk qur'an. Itu kalo tujuan RG murni ilmiah.
Tp apa yg dikemukanan RG ttg fiksi di ILC tujuannya ke yg lain: menyerang Jkw.

29. Bagian terakhir kultwit saya:  "@rockygerung, Fiksi, Filsafat, dan Jokowi." Ketika RG bicara ttg fiksi di ILC, fokus utamanya sebenarnya bukan ttg kitab suci. Itu hanya dipake sbg ilustrasi aja oleh RG. Targetnya sebenarnya menyerang Jkw, dgn pretensi berfilsafat.

30. RG menyerukan perlunya rehabilitasi makna fiksi sbg pengaktifan imajinasi, dan membedakan antara "fiksi" dgn "fiktif. Kata RG, fiksi itu kreatif (baik), fiktif itu kebohongan (buruk). Distingsi semacam ini jelas tak berdasar sama sekali dari sudut ilmiah.

31. Seperti penjelasanku di awal, fiksi sbg pengaktifan imajinasi bisa ditemukan rujukannya dlm bhs Latin "fictio."  Beda dgn kamus Inggris yg menyempitkannya jd semata2 "khayalan. Tp kata "fictive" juga di Latin akarnya "fictio." Yg satu nomina, satunya adjectiva.

32. Kalo RG ngotot memperlawankan antara "fiksi" dan "fiktif", itu bukan penjelasan ilmiah, tp mengarang bebas. Boleh2 aja sih, tp kalo atas namanya ilmu ya lucu. Itu kan sama aja dgn menulis artikel ilmiah tp dgn footnote yg sepenuhnya pandangannya sendiri. Tanpa referensi lain.

33. Yg menarik buat saya, kenapa RG ngotot dgn dsitingsi antara "fiksi" sbg narasi yg kreatif (positif) dgn "fiktif" sbg narasi kebohongan? Ada bbrp kemungkinan penjelasan yg bisa saya ajukan di sini.

34. Pertama, dgn merehabilitasi makna fiksi sbg hal yg positif, RG mem-branding narasi anti Jokowi dlm bentuk2 semacam hestek, kaos ganti presiden 2019 sbg narasi yg mengaktifkan imajinasi yg kreatif. Sebaliknya, narasi kubu Jkw yg kontra thdnya adlh fiktif, narasi kebohongan.

35. bahkan mnrt RG, kubu Jokowi tak hanya berkubang dlm "fiktif", melainkan membunuh fiksi yg mengaktifkan imajinasi dari kubu penentangnya. Jokowi bahkan diledek oleh RG sbg "kaosfobia," punya ketakutan purba thd energi kreatif yg mendasari kaos ganti presiden 2019.

36. Bagi saya, cara bernalar RG ini "ajaib:" berkutat membahas konsep2 secara  filosofis (meski sering ngarang sendiri), tp ujung2nya selalu dipake utk nyerang Jokowi. Dan cara melakukannya pun arbitrer (sewenang2), cenderung culas.

37. Misal, bagi RG, narasi apapun yg keluar dari kubu Jokowi langsung dicap negatif, sbg "fiktif", fobia thd imajinasi kreatif dll. Sedang apapun yg keluar dari kubu haters Jkw akan diapresiasi dan diberi justifikasi filosofis oleh RG. Dasarnya cuma satu: antipati thd Jkw.

38. Saya tidak bilang RG atau siapapun mesti memuja Jkw. Antipati thd Jkw sah2 aja. Yg jd masalah, pemujaan atau antipati dijadikan sbg batu pijakan utk berfilsafat. Filsafat tak lagi sbg sarana kritik, tp sbg pemoles fanatisme thd sesuatu/seseorang, baik antipati atau pemujaan.

39. Repotnya, kecenderungan RG utk berfilsafat sbg pemoles antipatinya thd Jkw mendapat aplaus dari kaum sumbu pendek, dan RG tampaknya oke2 aja, meski tak otomatis RG sepaham dgn mrk. Mgknkah krn saat ini mrk disatukan oleh "common enemy."

40. Apapun alasannya, cara berfilsafat RG yg didasari antipati thd Jkw begitu luas di-"subyo-subyo" kaum sumbu pendek. Di Abad Pertengahan, yg terjadi "philosophia ancilla theologiae" (filsafat menjadi pelayan teologi). Dlm kasus RG, "philosophia ancilla sumbupendekae."

41. Saya tak bilang RG sumbu pendek. RG tetaplah pemikir liberalis, sekuler, feminis, pendukung kebebasan berpikir. Tp tidakkah ia sadar, bahwa meski saat ini kaum sumbu pendek mengelu2kannya, kalo mrk menang dan berkuasa, yg akan jadi korbannya ya sosok kek RG? Wassalam. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini