Senin, 05 Maret 2018

Mengenal Syeikh Husni Ginting, 'Simbol' Kelahiran Kembali Ulama Langkat

Foto: Istimewa
Oleh Prof Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA

DutaIslam.Com – Sepintas, kelahiran ini bisa dipahami dengan pengertian reinkarnasi, yaitu menjelmanya ruh ulama yang sudah meninggal pada masa lalu, kemudian muncul kembali ke dunia pada jasad manusia yang baru. Tetapi yang dimaksudkan dahulu banyak ulama di Langkat, terdapat sederetan panjang ulama yang pernah hidup di Langkat antara lain Syekh Abdullah Afifuddin, Syekh Abdurrahim Abdullah, Ustadz H. Ahmad Ridhwan, Ustadz Baharuddin Ali, Ustadz Thaharuddin Ali, Ustadz Amaruddin Ali, Syekh Abdul Halim Hasan dan Syekh Abdul Rahim Haitami.

Di depan Masjid Azizi dahulu disebut Kampung Mujtahid. Ini berarti di sana bermukim banyak Ulama. Tsanawiyah Langkat terkenal kerna alumninya banyak yang menjadi ulama tersebar di berbagai daerah di Sumatera Utara. Keterangan ini menggambarkan betapa banyak dan semaraknya ulama di Langkat. Kemudian ulama tersebut dipanggil Allah satu persatu tanpa pengganti sehingga beberapa dekade belakangan Langkat kehilangan Ulama. Keadaan ini diakui ulama Langkat sendiri. Memang, kelangkaan ulama ini terjadi di berbagai daerah di Sumut, dan bahkan di Indonesia secara umum.

Orang yang melaksanakan pesta pernikahan di tanah Langkat Ahad, 7 Februari 2016 lalu adalah Syekh H. Muhammad Husni Ginting al-Langkati. Selanjutnya penulis sebut dengan al-Langkati yang ternyata menurut hemat penulis adalah ulama. Penulis yang pada pesta itu bertindak sebagai pemberi tausiah sebelum ceramah diberi hadiah sebuah buku berjudul, "Ghayah ar-Rusukh fi Mu'jam asy-Syuyukh" karya pengantin sendiri. Buku ini terdiri atas 420 halaman dengan enam pengantar dari para professor dan ulama di Mesir. Buku ini berupa paparan terperinci dan lengkap tentang biografi para guru yang dari mereka Syeikh Muhammad Husni Ginting al-Langkati menerima ilmu dari sejak belajar di Madrasah Musthafawiyah Purba, Mandailingnatal sampai waktu belajar di Timur Tengah.

Buku ini menjelaskan 165 orang gurunya secara detail mengenai nama lengkapnya, masa hidupnya, pendidikannya, guru-gurunya, karya-karyanya, cara penerimaan Syekh al-Langkati darinya mengenal ilmu yang diajarkannya secara bersambung melalui perantara guru-guru yang menjadi sanad sampai kepada Rasul SAW. Dari 165 guru yang diuraikan 16 orang gurunya di Madrasah Musthafawiyah Purba, yaitu H.Mahmuddin Pasaribu, H.Ibrahim Zan Nun Lubis, H.Abdul Malik ibn Abdil Qadir Rangkuti, Syekh Muhammad Ali Nuh, Syekh Muhammad Tutup Afandi, Syekh H.Muhammad Asy-Syafii bin Hanbal Dauly, Syekh Sirajuddin, Syekh H.Ibrahim bin Sulaiman Tarutung Lubis, Syekh Mukmin Al Ruhum, Syekh H.Hasan Basri, Ustadz Ahmad Khatib, Syekh Hasan Thalib, Ustadz Amir Hamzah, Syekh Arda Bili, Syekh Sabirin dan Syekh Mukhtar, Syekh Muhammad Nuruddin Merbau al-Banjari yang sekarang mengasuh pesantren di Bogor termasuk guru Syekh al-Langkati.

Penjelasan biografi secara terperinci, dimulainya dari gurunya, Syekh Ibrahim Zan Nun bin Muhammad bin Sultan Lubis, yaitu gurunya di Madrasah Musthafawiyah di Purba Baru. Ia menjelaskan pendidikannya, guru-gurunya di Purba Baru dan di Makkah. Kemudian guru ini kembali ke Purba Baru dan berkiprah di sana sebagai guru dan ulama. Syekh al-Langkati menerima hadis dari Syekh Ibrahim secara sanad bersambung sampai kepada al-Bukhari sampai kepada Nabi SAW. Demikianlah satu persatu ia menjelaskan biografi guru-gurunya sampai guru ke-165 yang kebetulan perempuan bernama, al-Malikah Fatimah as-Sanusi, generasi ke-4 dari pendiri Tarekat Sanusiyah, Muhammad bin Ali, Syekh al-Langkati berguru kepadanya secara lansung dan secara sambung sanad demi sanad sampai kepada Rasul SAW.

Dalam buku ini juga Syekh al-Langkati menyebutkan 317 orang belajar kepadanya khususnya di bidang Hadis dari Malaysia, Indonesia, Singapura, Pakistan dan Mesir. Ini baru sebagian dari murid-muridnya. Lebih kurang 50 orang dari murid-muridnya yang tua dan yang muda datang dari Malaysia sebagai penghormatan mereka kepada gurunya. Hadir juga para alim ulama. Semua ini menjadi tanda kelebihan yang dimiliki Syekh al-Langkati.

Syeikh al-Langkati telah menulis lebih 10 judul buku (Terhitung terakhir 2016, Red) yang semuanya dalam bahasa Arab. Memang ia mahir bahasa Arab, baik Arab Fushhah (Resmi) maupun Arab 'Ammiyah (Pasar). Di antara judul, al-Ayat al-Mufashalat fi al-Ahadits al-Musalsalat, Ithaf al-Akabir bi Asanid asy-Syaikh Abdul Qodir, Asanid al-Kutub al-Asyarah, Faidh ar-Rabbani fi Man Rawa'an asy-Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani dan sepuluh buku Kumpulan Empat Puluh Hadis yang dikenal dalam bahasa Arab dengan sebutan al-Arba'in seperti al-Arbain an-Nawawiyah. Di antara Kumpulan Empat Puluh Hadis, termasuk al-Arbain al-Musthafawiyah dan al-Arba'in al-Azhariyah.

Walaupun sebagian besar buku yang ditulis Syekh al-Langkati ini mengenai Hadis dan sanad-sanadnya, namun bukan berarti bahwa bidang ini saja yang dikuasainya. Ini mungkin gambaran spesialisasinya. Akan tetapi - sebagaimana ulama-ulama lainnya - ia juga menguasai fikih, tauhid, usul fikih, tafsir, tasawwuf, tarekat, faraidh dan tarikh, sebagaimana yang tergambar pada bidang kitab-kitab yang dipelajarinya dari guru-gurunya.

Diduga, keluasan dan kedalaman ilmu Syekh al-Langkati merupakan faktor yang menyebabkan para ulama dan Profesor di Timur Tengah akrab dan cinta kepadanya. Karena itu, bukunya Ghayah ar-Rusukh diberi pengantar oleh enam Guru Besar dan ulama di Mesir, yaitu Prof Dr Muhammad Mahmud Hasyim (Dekan Fak. Usuluddin dan Dakwah di Zaqaziq), Prof Dr Sa'ad Sa'ad Jawisy (Anggota Lembaga Ilmiah tetap dalam Peningkatan Dosen Universitas Al-Azhar, Kairo), Prof Dr Rif'at Fauzi Abd al-Muththalob (Dosen Syariah dan Hadis Fak. Dar al-Ulum Universitas, Kairo), Prof Dr. Musthafa Abu Sulaiman an-Nadawi (Ulama Hadis di al-Manshur), Dr Usamah as-Sayyid Mahmud al-Azhari (Dosen Hadis Fak. Ushuluddin dan Dakwah, Zaqaziq), dan ulama Hadis, 'Isham Anas az-Zaftawi (Sekretaris Fatwa dan Direktur Kantor Fatwa Elektronik). Keenam ulama tersebut ini adalah nama-nama yang tidak asing lagi di kalangan ulama dunia. Memang Syekh al-Langkati dekat dengan para ulama Timur Tengah. Semua memberikan apresiasi yang tinggi kepadanya dan secara khusus peranan yang dilakukannya di bidang historiografi.

Menurut Prof Dr Wael Hallaq, Dosen Usul Fikih di McGill University, Kanada, usul fikih dan historiografi merupakan dua ilmu yang hanya dimiliki Islam. Historiografi mengalami kemandengan dalam waktu yang relatif panjang. Sementara Syekh al-Langkati menghidupkan kembali ilmu ini. Kontribusi ini sungguh signifikan. Hemat penulis, untuk menjadi ulama dan pemikir besar itu diperlukan tiga syarat, yaitu pendidikan yang menunjang, ketekunan dan IQ yang tinggi. Penulis melihat bahwa ketiga syarat ini ada pada diri Syekh al-Langkati. Karena itu, ulama telah lahir kembali di bumi Langkat. [dutaislam.com/pin]

Prof. Ramli AW, Direktur pasca UINSU. Artikel ini tayang pertama kali di Harian Waspada.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini