Senin, 05 Maret 2018

Perjuangan-perjuangan Gus Dur yang Selalu Relevan dan Layak Diteruskan

Foto: Istimewa
Oleh Fajar Kurnianto

DutaIslam.Com - Sudah sewindu Abdurrahman Wahid atau akrab disebut Gus Dur wafat (30 Desember 2009–2017). Namun, pemikiran-pemikiran serta kiprah praksisnya di ranah sosial, politik, keagamaan, budaya, dan seterusnya meninggalkan warisan yang tidak lekang digerus zaman.

Dia seperti hadir di tempat dan waktu yang tepat. Pemikirannya terus-menerus dibicarakan, diawetkan, dan dirujuk untuk membaca fenomena perubahan masyarakat –muslim terutama– yang begitu cepat dengan segala problem di dalamnya seiring dengan berkembangnya teknologi informasi pada era digital saat ini.

Harus diakui, perkembangan dan perubahan masyarakat pada era digital atau milenium ini telah menimbulkan banyak problem serius yang tidak hanya perlu dicermati, tetapi juga ditangani dengan tepat oleh semua pihak, terutama negara.

Ibarat bom waktu, jika tidak cepat ditanggapi, ia akan meledak dan meluluhlantakkan semua bangunan kebangsaan, keagamaan, dan kemanusiaan yang telah susah payah dicoba dibangun dan diperjuangkan para pendiri bangsa. Gejalanya bisa dilihat secara kasatmata saat ini. Tidak hanya di berbagai media sosial (medsos), misalnya Facebook, Twitter, dan Instagram, tetapi juga di dunia nyata.

Bangunan kebangsaan (keindonesiaan) yang ditopang oleh pilar demokrasi yang memberikan penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan dan pluralitas dalam masyarakat, baik pluralitas agama, keyakinan (kepercayaan), politik, maupun budaya, tampak mulai tergerus.

Fenomena tersebut seiring dengan bangkitnya populisme dalam politik yang dimanfaatkan para petualang politik dengan memainkan isu keagamaan atau isu rasialis untuk mendulang keuntungan politik pragmatis. Mereka memanfaatkan momentum itu tanpa peduli ekses negatif yang terjadi di tengah masyarakat. Masyarakat menjadi terbelah begitu tajam dan kerap terlibat konflik yang mencemaskan.

Gus Dur, baik dalam kapasitas dirinya sebagai seorang kiai maupun pemikir (cendekiawan) sekaligus politikus yang pernah menjadi kepala negara sebelum dilengserkan oleh kekuatan politik di parlemen saat itu dan tetap berlanjut setelah dilengserkan, telah banyak memberikan sumbangsih berharga bagi generasi saat itu dan setelahnya.

Meskipun telah tenang di pusaranya sejak delapan tahun lalu, semangat perjuangannya tidak pernah surut dan mati. Suara-suaranya dari alam kubur seperti berteriak-teriak mengingatkan bangsa ini. Apa yang Gus Dur perjuangkan saat itu sebagian buahnya telah berhasil, tetapi banyak juga yang belum terwujud.

Setidaknya ada tiga bentuk perjuangan Gus Dur yang selalu penting dan relevan diperjuangkan sampai kapan pun. Pertama, demokrasi dan keadilan. Bagi Gus Dur, demokrasi sejauh ini adalah pilihan terbaik karena ia mengakomodasi kebebasan dan kepentingan elemen masyarakat dan individu. Karena itu, dia menolak keras sistem lain yang antidemokrasi. Namun, demokrasi yang Gus Dur inginkan adalah demokrasi yang tidak berhenti pada tataran prosedural seperti rutinitas pemilihan umum (pemilu). Tetapi, itu mesti berlanjut ke tataran yang lebih substantif, yakni demokrasi yang menciptakan keadilan sosial dan kemaslahatan seluruh rakyat, terutama mereka yang paling lemah, papa, miskin, dan tertindas.

Keadilan, kata Gus Dur dalam bukunya, Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), adalah salah satu ketentuan dasar yang dibawakan Islam, baik itu keadilan perorangan (individual) maupun keadilan politik (kolektif). Keadilan adalah tuntutan mutlak dalam Islam. Alquran berkali-kali memberikan rumusan: ’’hendaklah kalian bertindak adil’’ (an ta’dilu) dan rumusan ’’menegakkan keadilan’’ (kunu qawwamina bi al-qisth). Dengan dua rumusan Alquran itu, UUD 1945 mengemukakan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI): menegakkan keadilan dan mencapai kemakmuran. Kalau negara lain mengemukakan kemakmuran (prosperity) dan kemerdekaan (liberty) sebagai tujuan, negara kita lebih menekankan prinsip keadilan daripada prinsip kemerdekaan itu.

Kedua, pluralisme dan kebinekaan. Gus Dur adalah seorang pluralis sejati. Dia mengerti bahwa bangsa ini sejak mula dibangun di atas kebinekaan suku, bangsa, dan agama. Ini adalah berkah Tuhan yang patut disyukuri dengan cara merawat dan mengembangkannya untuk kemajuan bangsa. Gus Dur tidak menampik kenyataan bahwa umat muslim adalah mayoritas di negara ini. Sebagai mayoritas, kata Gus Dur, mereka mesti mengembangkan budaya damai dan melindungi kelompok minoritas. Dalam hal itu, Gus Dur menekankan pentingnya mengawal konstitusi dan substansi nilai-nilai keislaman yang luhur. Bagi Gus Dur, Islam yang berorientasi kepada kebangsaan harus mampu mewarnai kehidupan bernegara.

Menurut Gus Dur, kebinekaan adalah rumah yang terdiri atas kamar-kamar. Di kamar-kamar itu penghuninya bebas berekspresi. Namun, ketika ada di ruang tamu dan ruang makan, seluruh penghuni harus mengikuti dan tunduk kepada aturan main bersama rumah tersebut. Jika ada serangan dari musuh luar, seluruh penghuni harus bersama-sama melawan. Dan, jika keluar rumah, semua penghuni harus menjaga nama baiknya. Mengutip Mahfud M.D. (2014), pluralisme hanya bisa tegak dengan pengakuan kesamaan derajat semua warga negara tanpa membedakan suku, agama, atau golongan. Supaya aspirasi dan kehendak setiap warga tidak liar, maka meniscayakan demokrasi. Lalu, supaya demokrasi tidak liar, harus ada kedaulatan hukum agar demokrasi tidak berjalan prosedural, tetapi subtansial.

Ketiga, menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Demokrasi dan pluralisme sangat membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat menopang dan memperkuat keduanya. Bagi Gus Dur, Islam adalah agama yang meletakkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasinya. Nilai-nilai kemanusiaan itu misalnya disebutkan dalam Al-Qu'ran, ’’Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.’’ (QS al-Hujurat [49]: 13)

Mengingat dan memperingati sewindu Gus Dur dengan demikian berarti merawat dan mewujudkan spirit Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, pluralisme, kebinekaan, dan penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Itu sesungguhnya adalah perjuangan universal, di mana pun dan kapan pun.

Gus Dur sangat mencintai bangsa dan negara ini. Dia tidak ingin bangsa ini dirusak dan dihancurkan oleh orang-orang yang lebih mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Mereka yang mengorbankan kepentingan bersama dan lebih besar demi ambisi politik sempit dan pragmatis. Perjuangan Gus Dur perlu diteruskan semua anak bangsa yang mencintai negara ini. [dutaislam.com/pin]

Fajar Kurnianto, Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta. Artikel ini tayang pertama kali di jawapos.com. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini