Selasa, 06 Maret 2018

Orang yang Mengharamkan Tasawwuf Bagian Penghancur Islam?

Ilustrasi tokoh sufi Maulana Jalaluddin Rumi. (Foto: Istimewa)
Oleh al-Zastrouw

DutaIslam.Com - Dalam salah satu sajaknya KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) pernah menggambarkan berbagai keanehan dan kontradiksi dalam perilaku ummat akhir-akhir ini. Di antara paradok yang disebutkan Gus Mus: "orang rendah ilmu banyak bicara, orang tinggi ilmu banyak diam", "ilmu makin tersebar, adab dan akhlak semakin lenyap".

Berbagai paradog ini terlihat fenomena agama tanpa Tuhan, karena tanpa sadar ada beberapa perilaku ummat beragama yang telah menuhankan pikiran dan simbol-simbol agama. Mereka rela membenci, mencaci bahkan membunuh siapa saja yang berbeda dengan pikiran dan keyakinan mereka. Mereka tidak segan-segan melakukan tindakan melanggar norma dan etika bahkan sampai menista sesama manusia demi tegaknya tatanan kehidupan yang sesuai dengan kemauan mereka. Memfitnah, menghasut, adu domba dan berbuat kekacauan dianggap sebagai strategi perjuangan dan dakwah yang sah untuk dijalankan.

Inilah yang membuat kelompok ini merasa dikriminilisasi ketika aparat hukum bertindak tegas. Mereka merasa didhalimi ketika hendak diproses secara hukum. Alih-alih melakukan instropeksi, bahwa tindakan menggunakan simbol agama dengan mengabaikan etika, moral dan akhlak itu justru bisa merusak kesucian dan kemuliaan agama. Mereka justru merasa menjadi korban kedhaliman, kemudian terus beusaha memobilisir umat masuk dalam persoalan  mereka.

Dalam kondisi demikian, akan sulit bagi kita untuk membedakan mana tindakan yang benar-benar ikhlas memperjuangkan nilai-nilai dan ajaran agama dan mana yang hanya menjadikan agama sebagai topeng untuk menyembunyikan kepentingan politik dan kebusukan moral. Jika sudah demikian, keadilan seolah terabaikan, terhalang oleh dinding teks dan kekuatan simbol. Sebaik apapun perilaku seseorang, setinggi apapun prestasi seseorang dan seadil apapun sikap seseorang semua akan sia-sia dan dihilangkan begitu saja jika orang tersebut tidak sesuai dengan pemahaman keagamaan mereka atau tidak sesuai kemauan kelompoknya.

Padahal Allah secara tegas memerintahkan agar umat Islam bersikap adil pada siapa saja, termasuk pada golongan lain yang berbeda; "Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Maidah: 8).

Fenomena hilangnya sikap adil ummat beragama karena kuatnya belenggu teks dan formalisme agama ini telah dimanfaatkan oleh para petualang politik yang mengejar kekuasaan demi ambisi keserakahan. Mereka ini dengan mudah membodohi umat melalui ayat dan simbol-simbol agama demi keuntungan material dan nafsu kekuasaan.

Ketika para setan, dhemit, iblis, tuyul, rampok dan sejenisnya tampil menggunakan topeng malaikat hingga terlihat anggun dan menawan, maka diperlukan kejernihan hati dan kepekaan batin untuk mengenali mereka. Karena hanya hati yang jernih dan batin yang peka yang dapat memembus tebalnya topeng untuk menyingkap wajah asli mereka. Kepandaian akal dan ketrampilan bicara tanpa akhlak mulia, hati yang jernih dan jiwa yang peka justru akan mempertebal topeng para durjana. Hanya orang yang berpikir dangkal dan mereka yang berbalut nafsu syahwat yang mudah terpikat oleh keindahan topeng-topeng itu, sehingga mudah diperdaya para durjana bertopeng malaikat.

Atas dasar inilah maka para sufi selalu mengingatkan pentingnya menjaga kejernihan hati dan bersihan jiwa agar bisa menangkap nur ilahi. Dengan cara ini manusia akan memiliki kepekaan batin untuk melihat dan membedakan kebusukan dan kebejatan yang disembunyikan di balik jargon-jargon dan simbol yang menawan dan penuh pesona.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, hujjatul Islam Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Dengan demikian jika hati manusia benar-benar bersih niscaya ia akan bisa menangkap cahaya petunjuk Ilahi dan memantulkan cahaya tersebut ke sekitarnya.

Metode sufistik ini sebenarnya merupakan cara efektif untuk keluar dari jerat kepalsuan para durjana bertopeng mailakat. Melalui laku sufi, ajaran Islam yang mulia dapat digali dan diamalkan secara komprehensif. Karena sufisme tidak hanya terkait dengan simbol dan ritual formal yang lahiriah semata, tetapi masuk ke dalam dimensi ruhaniah yang menjadi spirit dan substansi dari simbol dan ritual agama. Sufisme berupaya menggapai hikmah, sesuatu yang bisa menembus di balik simbol dan ritual formal. Inilah yang menyebabkan kaum sufi tidak mudah hanyut dan terpukau oleh gemerlap simbol dan syiar agama tanpa makna.

Sayangnya metode spiritual sufistik yang selama berabad abad terbukati secara sangat efektif sebagai benteng moral dan kultural ini justru ditolak oleh kaum skripturalis Wahabi bahkan menganggapnya sebagai kesesatan. Laku keagamaan untuk menjaga kepekaan jiwa dari tipu muslihat para durjana berwajah malaikat bertopeng ayat ini dianggap bid'ah hanya karena dianggap tidak ada dalam teks agama.

Melihat kenyataan yang ada saya jadi khawatir jangan-jangan kaum yang mengharamkan tasawwuf ini bagian dari gerakan mengahancurkan pertahanan Islam atau tanpa sadar mereka telah digunakan untuk merusak kekuatan Islam dengan mengatasnamakan Islam. Karena terbukti melalui sufisme ummat Islam justru bisa keluar dan terhindar dari tipu daya iblis bertopeng malaikat. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini