Jumat, 30 Maret 2018

Mencapai Puncak Sufi, Empat Rintangan yang Mesti Diterobos Para Salik

Ilustrasi Tari Sufi: Istimewa
Oleh Kuswaidi Syafiie

DutaIslam.Com - Dalam kitab Minhajul 'Abidin yang merupakan karya terakhir dari Imam Ghazali disebutkan bahwa setidaknya ada 4 rintangan yang mesti diterobos oleh para salik agar sampai kepada Tuhan semesta alam. Ketika kita dengan perkenan-Nya sanggup membereskan empat macam rintangan itu, maka dengan sangat riang gembira kita akan melambaikan tangan sembari mengucapkan sayonara kepada segala sesuatu yang fana dan musnah oleh gilasan kereta waktu, akan terbebaskan kita dari semua yang centang-perenang dan menguap ditelan kehampaan, dan kita hanya akan tertegun kepada wajah hadirat-Nya belaka.

Pertama, dunia. Idiom ini memiliki makna yang pararel dengan kata dunuw dan dina'ah yang berarti rendah dan hina. Karena itu, semenjak dunia ini diciptakan Allah Swt sama sekali tidak pernah "memandangnya". Yakni tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang mulia dan pantas untuk disanjung.

Di zaman Nabi Muhammad Saw, pernah ketika beliau duduk-duduk dengan para sahabat, di hadapan mereka melintas seorang perempuan yang sangat tua, kerempeng, penyakitan dan badannya bungkuk seperti sebuah busur yang sedang ditarik. Nabi pungkasan itu bertanya kepada para sahabatnya: "Adakah di antara kalian yang tertarik terhadap perempuan itu?" Para sahabat itu tidak ada satu pun yang menaruh minat padanya. Rasulullah Saw lalu bersabda: "Itu tak lain adalah dunia."

Dunia adalah jebak raksasa yang langitnya terlihat seperti mangkok terbalik. Semenjak lahir, setiap manusia langsung dikepung dari berbagai arah dengan lengkung langitnya. Siapa pun aku, engkau, dia dan mereka, jika hanya mengisi hidup dengan tertegun terhadap aneka panorama dan rayuan yang ditawarkannya, sungguh sama saja dengan jatuh hati kepada kedudukan paling rendah dan antologi kehinaan. Karena itu kemudian menjadi semakin jelas bagi kita kenapa Quran menyebut kehidupan dunia ini sebagai genangan kesenangan yang sesungguhnya tak lebih dari sarang tipudaya.

Kedua, makhluk. Apa bedanya dengan dunia? Jelas bahwa konotasi makhluk di sini lebih spesifik dibandingkan dengan dunia. Dan di antara makhluk yang seringkali mengecoh dan membelokkan perjalanan ruhani manusia kepada Tuhannya adalah kepemilikan harta benda yang terdiri dari uang, tempat tinggal, perhiasan, kendaraan, perabot-perabot rumah tangga, asesoris, binatang-binatang peliharaan dan lain sebagainya. "Berlomba dalam memperbanyak kekekayaan telah membuat kalian lalai," firmanNya dalam Quran surat at-Takatsur syat 1.

Termasuk pula dari kalangan makhluk yang kadang jadi penghambat kemajuan spiritual adalah keluarga: bisa istri, bisa suami, bisa saudara, bisa anak dan cucu, juga bisa kawan. Konsentrasi yang berlebihan dan menuruti kemauan mereka yang tidak tertuju kepada hadiratNya akan menjadikan siapa saja memandang remeh perjalanan ruhani dan upaya-upaya yang menuju kepada ridaNya.

Ketiga, setan. Idiom ini berasal dari kata syathnun yang berarti jauh dari petunjuk dan rahmat Allah Swt. Setan adalah setiap jin yang kafir. Ia bisa menyelusuf ke dalam diri manusia dengan sedemikian leluasa. Sampai-sampai digambarkan oleh Nabi Junjungan Saw bahwa setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah.

Setan juga bisa dipahami sebagai kekuatan negatif yang tidak pernah jenuh berusaha menggiring manusia kepada berbagai macam pengingkaran dan perbuatan terlarang. Tidak tanggung-tanggung, ia senantiasa merapat kepada manusia dari berbagai arah: dari depan, dari belakang, dari sebelah kiri dan dari sebelah kanan.

Menurut Syaikh Muhyiddin Ibn 'Arabi (1165-1240) dalam kitab tafsirnya, yang dimaksud datang dari depan adalah bahwa setan akan senantiasa menancapkan angan-angan di kepala manusia tentang berbagai macam harapan dan impian yang kosong di masa-masa yang akan datang. Lalu banyak manusia yang hidup dalam keadaan lena dibuai mimpi-mimpi. Bahkan seringkali angan-angan itu jauh lebih panjang dibandingkan dengan usia manusia itu sendiri.

Sedang yang dimaksud datang dari belakang adalah bahwa setan selalu berusaha menggemuruhkan kecemasan dalam diri manusia. Cemas terhadap hari esok dan selanjutnya. Cemas terhadap nasib kehidupan anak-cucu kelak. Sehingga banyak kehidupan mereka yang dihantui oleh debar-debur kekhawatiran.

Sementara yang dimaksud datang dari sebelah kanan adalah bahwa setan akan selalu menjadikan manusia bangga diri dan merasa mulia dengan kebaikan-kebaikan yang pernah dikerjakannya. Sehingga dengan demikian mereka merasa lebih baik dan lebih terpuji ketimbang orang lain. Sungguh, ini tak lain adalah sebuah arogansi spiritual yang nista.

Lalu, yang dimaksud dengan datang dari sebelah kiri adalah bahwa setan dengan secara langsung menyeret manusia kepada keburukan-keburukan. Inilah cara paling kasar dan paling terang-terangan dari sekian jurus yang dimiliki oleh setan. Jurus ini biasanya digunakan terhadap orang-orang yang telah menjadi bagian dari jama'ah setia setan.

Keempat, nafsu ammarah. Inilah yang paling bandel dan paling dekil dibandingkan dengan rintangan-rintangan yang lain. Maklum, yang satu ini diciptakan oleh Allah Swt satu paket dengan kehidupan manusia itu sendiri. Nafsu adalah musuh yang paling dekat. Bahkan ketika tidur pun, manusia senantiasa ditemani oleh nafsunya sendiri.

Nafsu ammarah merupakan kekuatan destruktif dalam diri manusia yang terdiri dari gejolak syahwat kepada segala sesuatu yang tidak diperbolehkan, terdiri dari gelegar emosi yang tidak terkendalikan, terdiri dari kesombongan yang keruh dan menyesakkan. Dari saking kuat dan lihainya kekuatan penhancur ini, berusaha untuk senantiasa bertarung dan mengalahkannya oleh Sayyid al-Kaunayn Saw disebut sebagai perang terbesar yang sangat dahsyat.

Ya Allah, tumpuan dari segala hasrat dan pengharapan kami, sungguh tidak mudah bagi kami untuk menerobos empat macam rintangan itu. Masing-masing rintangan memiliki jenis taring dan racunnya sendiri, memiliki jenis tipuan dan rayuannya sendiri.

Sementara, ya Allah, kami adalah generasi yang begitu lemah, gampang limbung dan terkulai oleh segala godaan yang sesungguhnya sangat artifisial dan sangat picisan. Tidak sebagaimana generasi sahabat dan tabi'in yang memiliki keimanan yang kukuh dan senantiasa tegar seperti gunung-gemunung.

Ya Allah, di rimba ilmu pengetahuan kami genggam berbagai rumus dan teori yang berjibun-jibun. Kami melakukan investigasi tentang berbagai hal dan kami kuak ilmu yang Kau miliki sebanyak mungkin sesuai dengan keahlian-keahlian kami. Kami dokumentasikan semua itu menjadi ribuan buku, menjadi jutaan buku, menjadi milyaran buku, menjadi tak terhingga sehingga kami seolah terkepung oleh buku-buku.

Tapi, lihatlah ya Allah, lihatlah dengan pandangan belas-kasihMu, betapa hidup dan nasib kami begitu lapuk, gampang robek oleh duri-duri dan paku-paku problematika kehidupan. Tataplah dengan pandangan belas-kasihMu, betapa kami sangat mudah diadu sehingga kami seringkali cakar-cakaran dengan saudara-saudara sendiri semata karena memperebutkan klaim-klaim kebenaran.

Ya Allah, betapa tidak mudah jalan yang mesti kami tempuh untuk sampai kepadaMu. Biarpun seluruh airmata kami kuras, biarpun seluruh darah kami tuang, biarpun seluruh tenaga kami kerahkan, tanpa bimbingan dan tuntunanMu, sampai umur ini habis, sungguh kami tidak akan pernah sampai kepadaMu. Maka ya Allah, berbelaskasihlah kepada kami. Karena secara hakiki kami tidak punya siapa-siapa selain Engkau. Inna 'ala kulli syay'in qadir. Wa bil ijabati jadir. [dutaislam.com/pin]

Kuswaidi Syafiie, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi, Sewon, Bantul, Yogyakarta.


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini