Senin, 05 Maret 2018

Kisah KH Dimyati Wonosobo Bai'at Langsung dengan Syaikh Abdul Qodir Al Jailani

Foto: Istimewa
Oleh Gus Faqihuddin

DutaIslam.Com - Beliau adalah KH Dimyati bin Syihab berasal dari daerah Kaliwiro Wonosobo, menuntut ilmu di Pesantren Jampes Kediri asuhan Syaikh Ikhsan.

Dalam satu perjalanan spiritualnya, suatu saat beliau datang kepada Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah Wonosobo, KH M. Chasbulloh, beliau matur kepada Mbah Kiai Chasbulloh minta izin ikut ngaji thoriqoh, tapi Mbah Kiai Chasbulloh tidak mengizinkan, beliau ngendiko "nggak mau saya, kamu bocah edan kok mau ngaji thoriqoh" tetapi mbah Kyai Dimyati tetap memohon untuk bisa mengaji.

Kemudian Mbah Kiai Chasbulloh ngendiko " ya sudah, kalo kamu memang mau ngaji, kalau kamu memang laki laki sejati, ngaji langsung sama kanjeng Syaikh Abdul Qodir jailani... Mbah Kyai Dimyati pun sendiko dawuh, "nggeh kalau itu yang Mbah Chasbulloh dawui, saya nderek.

Singkat cerita, kemudian Mbah Kiai Dimyati mujahadah di musholla milik Mbah Kiai Abu Hamid, adik ipar Mbah Kiai Chasbulloh, yang sekarang menjadi Madrosah Ponpes Futuhiyyah Bumen selama 3 hari 3 malam, dan akhirnya sampai pada malam yang ke 3, Kanjeng Syaikh hadir menemui Mbah Kiai Dimyati dan mentalqinnya, YA DIMYATHI, QUL LAA ILAAHA ILLALLOH. Dan ditirukan oleh Mbah Kiai Dimyati... Ba'da shubuh tepat.

Mbah Kiai Chasbulloh yang memang tajam mata batinnya, mengetahui rawuhnya Kanjeng Syaikh pada malam tersebut langsung bergegas ke musholla tempat Mbah Kiaii Dimyati mujahadah,, langsung menemui.. Mbah Dim langsung dipeluk sambil ngendiko.. Alhamdulillaaaah, pancen lanang temenan deke (kamu memang lelaki sejati) ditalqin kanjeng Syaikh Abdul Qodir Jailani.

Kemudian beliau berpesan, itu tidak boleh kamu ajarkan, hanya untuk kamu sendiri, Mbah Dim pun nderek dawuhnya Mbah Kiai Chasbulloh, beliau hanya memakai untuk pribadi, tidak diajarkan kepada orang lain. Itulah sekelumit kisah perjalanan spiritual Mbah Kiai Dimyati Syihab.

Sewaktu masih di Jampes, beliau juga guru ngaji Ihya' ulumiddin dan salah satu muridnya adalah Mbah Kiai Abdul Hamid Kajoran, Magelang. Beliau berdua sama-sama ahli dzikir, ahli hikmah, menyukai kedigdayaan sehingga beliau berdua sering tanding satu sama lainnya.

Dan menurut satu riwayat, sejak masih di Jampes sampai muqim, Mbah Kiai Dim selalu kalah dari Mbah Kiai Hamid Kajoran, hingga sampai beliau berdua muqim pun masih sering tanding adu kesaktian.

Hingga suatu saat diceritakan kalau Mbah Hamid Kajoran rawuh ke Kaliwiro pada hari Jum'at, setelah sholat Jum'at di masjid jami' Kaliwiro, beliau berdua adu tanding di lapangan Kaliwiro, ditonton oleh masyarakat sekitar.

Pada saat itu yang pertama unjuk kesaktian adalah Mbah Dim, beliau mengibaskan tangan kanannya di dada, tiba-tiba di tangannya sudah tergenggam sebilah keris, masyarakat pun bertepuk tangan. Setelah itu giliran Mbah Hamid mengibaskan tangannya, dan muncullah keris ditangannya. Tepuk tangan pun bergema lagi.

Selanjutnya Mbah Dim melempar kerisnya ke arah langit, dan keris tersebut terbang hingga tak terlihat, Mbah Hamid pun melakukan hal yang sama, namun ketika mbah hamid melempar, kerisnya tidak mampu terbang, berulangkali dicoba, tidak terbang juga, hingga disoraki oleh masyarakat yang menonton akhirnya beliau membaca sesuatu (wirid) pada keris tersebut dan dilempar ke atas, keris itupun terbang ke langit hingga tak terlihat dan masyarakat pun bertepuk tangan.

Itu adalah adu kesaktian terakhir antara Mbah Kiai Dimyati dan Mbah Kiai Hamid Kajoran, sejak kekalahan Mbah Hamid tersebut, mbah hamid tidak pernah datang lagi ke Kaliwiro untuk bertanding.

Mbah Kiai Dimyati adalah salah satu ulama yangat ketat dalam syariat, setelah Mbah Kiai Dimyati muqim di desa Bumen, dahulu tidak ada yang berani lewat depan masjid Bumen memakai celana pendek atau rok pendek, karena kalo ketahuan Mbah Dim maka akan di dukani... Ke*ek kowe, dengkul ora ditutupi, begitu juga jika tidak memakai peci, maka beliau akan duko, complo*g (tengkorak) kowe, sirah ora ditutupi, bahkan tak jarang tongkat beliau dilemparkan kepada orang yang tidak menutup aurat, (berpeci/celana panjang atau sarung. Begitulah beliau, sangat ketat dlm syariat.

Beliau berpuasa dalam satu minggu selama 5 hari, Senin, Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu. Tiap jam 12 malam selalu istiqomah qiyamullail. Beliau termasuk salah satu ulama yang membagi malam menjadi 3 bagian. Beliau dikaruniai usia yg panjang, hingga beliau wafat usianya diatas 110 tahun, pastinya berapa usia beliau narasumber tidak mengetahui secara pasti.

Ketika penulis ngaji Safinah kepada beliau waktu masih SD, beliau sudah berumur 105 lebih, dan beliau ketika mengaji tidak menggunakan kacamata alias masih normal. Al Qur'an beliau pun masih menggunakan Al Qur'an yang kecil. Bahkan Hizib Ghozali milik beliau pun masih memakai tulisan tangan beliau sendiri yang ditulis didalam semacam buku saku Pramuka.

Beliau sangat disegani dan dihormati oleh siapa saja, bahkan tercatat Alm Gus Dur kurang lebih 4x sowan kepada beliau baik sebelum menjadi Presiden maupun saat masih menjadi Presiden. Dalam satu kesempatan pada acara pertemuan pengasuh pondok pesantren se Jawa tengah di Salatiga, Gus Dur sempat ngendiko, ulama sepuh yang saya takuti di Jawa tengah itu cuma satu, yaitu KH Dimyati Kaliwiro Wonosobo.

Nafa'anallohu bi ulumihi wa amaddana bi asroorihi wa a'aada alaina min barokatihi wa uluumihi wa anwaarihi fiddiini wad dunyaa wal akhiroh amiin. [dutaislam.com/gg]

Narasumber:
Al Walid
Alm. KH Thoifur Dalhar Pliyangan Selomerto Wonosobo
KH Ahmad Sirojuddin Yogyakarta

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini