Senin, 26 Maret 2018

Kiai Sholihin, Santri Mbah Hasyim yang Membunuh Jenderal Mallaby dengan Dua Jari

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Dalam Film “Sang Kiai”, Kiai Solihin - disapa Kang Solihin - diperankan sebagai pembantu kiai [khadim/dalem] yang lucu dan lugu. Sangking ta’zimnya sama kiai, tanpa diminta kiai dan tanpa instruksi Jepang Kiai Solihin meminta sendiri menemani Hadratu Syaikh Kiai Hasyim Asyari di dalam penjara di Bubutan, Surabaya, selama 4 bulan.

Bahkan seperti diceritakan dalam Film “Sang Kiai” juga, Kiai Solihin berlari mengejar dan melompat ke atas truk yang membawa Sang Kiai.Ini cerita nyata.

Kiai Solihin tak sekadar pembantu melainkan “tangan kanan” Hadratu Syaikh Kiai Hasyim. Beliau dikenal tegas, pemberani, dan ditakuti santri-santri.

Beliaulah, menurut cerita tutur banyak orang, yang membunuh Jenderal Mallaby, dengan kedua jarinya tepat di tenggorokannya. Bukan oleh Harun, tokoh fiktif yang diperankan Adipati Dolken itu.

Kiai Solihin dikenal sakti dan pernah menjadi kepala Pondok Tebuireng. Kesaktian dan keberanian Kiai Solihin sudah diketahui Hadratu Syaikh dan santri-santri.

Ada satu cerita, bahwa Kepala Madrasah Tebuireng, Mas Dawam, ditembak mati serdadu Jepang. Jenazahnya dibiarkan tergeletak dan dipertontnkan di alun-alun. Dijaga beberapa serdadu Jepang. Tak satu pun santri berani mengambil.

Hadratu Syaikh Kiai Hasyim menyuruh Kiai Solihin mengambil dan mengurus mayat tersebut. Ia hanya dibekali sepucuk pistol milik Gus Kholik putra Hadratu Syaikh.

Hari itu hujan deras. Sebelum berangkat ke alun-alun, Kiai Solihin berhenti di sebuah musholla. Beliau salat sunah dua rakaat. Setelah itu membaca Hizbu Nashar, Hizbu Nawawi, juga Ilmu Penakluk berbahasa Jawa Cirebon.

Sampai menjelang maghrib Kiai Solihin baru berangkat ke alun-alun sendiri. Di depan serdadu Jepang yang menjaga jenazah tersebut, Kiai Solihin menembakkan pistolnya ke atas langit. Atas izin Allah SWT, suara pistol tersebut menggelegar seperti suara meriam, hingga membuat ciut nyali tentara Jepang dan mereka lari terbirit-birit. Kiai Solihin lantas membawa mayat tersebut ke Tebuireng untuk dimandikan, dikafani, disalati, dan dikubur.

Kiai Solihin dikenal dekat dengan keluarga Hadratu Syaikh [di samping itu saudara-saudaranya mondok di situ, seperti adiknya sendiri, Kiai Bulkin Fanani, dan kakak iparnya, Kiai Masduki Ali. Juga masih bersaudara dengan Kiai Idris Kamali, menantu Hadratu Syaikh].

Hubungan kekeluargaan tersebut masih terjalin sampai Kiai Solihin pulang ke Kampung Halamannya di Pondok Pesantren babakan Ciwaringin – Cirebon. Gus Kholik, Gus Ya’kub, juga Gus Yusuf sering silaturahmi dan bertandang ke rumahnya. Bahkan, menurut sebuah cerita, Gus Ya’kub sering sekali ke rumah Kiai Solihin untuk meminta Jimat.

Kiai Solihin merupakan putra tertua Kiai Muhammad Amin [Ki Madamin]. Beluiau wafat 17 Agustus 1968 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Kiai Abdul Hannan di Babakan Ciwaringin Cirebon. Pada saat dimakamkan tak sedikit keluarga Hadratu Syaikh yang hadir dan ikut mendoakan langsung.

Kiai Ali - adik Kiai Idris Kamali menantu Hadratu Syaikh - menyebut “hadza sohibussijni Hasyim Asyari” pada saat menalkin beliau menuju peristirahatan terakhirnya. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: 
Diolah dari santrinews.com dari, dari wawancara dengan Ny. Syamsyiyyah [putri Kiai Solihin], Kiai Makhtum dan Kiai Tamam Kamali [keponakan Kiai Solihin] oleh Jamaluddin Mohammad. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini