Rabu, 14 Maret 2018

Karomah Kiai Shoichah, Kakek Buyut KH Hasyim Asy’ari dari Jalur Ibu


Silsilah KH Hasyim Asy'ari dari Mbah Usman Gedang Tambak Beras Jombang.
DutaIslam.Com - Silsilah KH Hasyim Asy'ari, yang lahir pada 10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H) dan wafat pada 25 Juli 1947, lazim disambungkan dengan Joko Tingkir dari jalur ibu, Nyai Halimah, putri Kiai Usman.

Jarang ditemui situs yang menulis silsilah KH Hasyim Asy'ari hingga paling tidak sampai kepada biografi kakek buyut beliau, yakni Kiai Abdus Salam, Gedang, Jombang.

Siapa Kiai Abdus Salam ini, menjadi penting dibahas karena dua putri beliau (Layyinah dan Fatimah) melahirkan pendiri dua ulama besar pendiri NU (KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah) sehingga berkah kedua tokoh itu ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia terus dan semakin berkembang.

Kiai Abdus Salam disebut buyut Kiai Hasyim karena Nyai Halimah (ibu) adalah cucu Kiai Abdus Salam. Silsilah lengkapnya begini; Kiai Hasyim (1) bin Nyai Halimah (2) binti Nyai Layyinah (3) binti Kiai Abdus Salam (4).

Kiai Asy'ari (ayah Kiai Hasyim dari Demak) adalah murid yang dijadikan menantu oleh Kiai Usman, dijodohkan dengan Nyai Halimah (Winih). Kiai Usman juga sama dengan Kiai Asy’ari, murid yang dijadikan menantu dari Kiai Abdus Salam dari putri pertama, Nyai Layyinah.  Ceritanya, baca: Berkah Tirakat Puasa 22 Tahun, Mbah Hasan (Demak) Melahirkan Kakek Pendiri NU.

Jika diruntut, baik dari ibu maupun ayah, silsilah Kiai Hasyim Asy’ari bertemu di Pangeran Benowo (Kiai Abdul Halim). Begini urutannya.
  1. Asy'ari (dari Demak).
  2. Anu Sar'wan. 
  3. Abdul Wahid.
  4. Abdul Halim (Pangeran Benowo). 
  5. Abdurrahman (Pangeran Sambud Bagda).
  6. Abdul Halim. 
  7. Abdurrahman (Jaka Tingkir).

Dari jalur ibu, selisih satu generasi untuk sampai ke Pangeran Benowo. Urutannya begini:
  1. Halimah (istri Kiai Asy’ari)
  2. Layyinah (istri Kiai Usman).
  3. Abdusssalam (Kiai Shoichah)
  4. Abdul Jabbar. 
  5. Abdul Halim (Pangeran Benowo).
  6. Abdurrahman (Pangeran Sambud Bagda).
  7. Abdul Halim. 
  8. Abdurrahman (Jaka Tingkir).

Silsilah KH Hasyim Asy'ari Hingga Rasulullah. 


Dari Abdul Halim (Pangeran Benowo) inilah, jalur keturunan ayah dan ibu Kiai Hasyim bertemu di Kiai Abdurrahman, Jaka Tingkir (Sultan Pajang, keturunan Rasulullah ke-25), yang merupakan Putra Raden Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq. Silakan simak silsilahnya di bawah ini mulai Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.

  1. Nabi Muhammad Rasulullah SAW
  2. Fatimah Zahra (zaujah Ali bin Abi thalib) 
  3. Al-Imam Husain 
  4. Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad Al-Baqir 
  6. Ja’far Shadiq 
  7. Ali Uraidli 
  8. Muhammad An-Nagieb
  9. bin Isa Arrumi 
  10. Ahmad al-Muhajir 
  11. Ubaidillah bin 
  12. Ali Alawiyyin 
  13. Muhammad 
  14. Alwi 
  15. Ali Khala’ Ghasam 
  16. Muhammad Shohibul Mirbat 
  17. Alawi
  18. Amir Abdul Malik 
  19. Abdullah Khain 
  20. Ahmad Syah Jalal
  21. Jamaluddin Husen (Jamaluddin Akbar) 
  22. Maluna Ibrohim Asmoro
  23. Maulana Ishak (Syeikh Awwalul Islam, Aceh)
  24. Ainul Yaqin (Sunan Giri)
  25. Abdurrahman (Jaka Tingkir)
  26. Abdul Halim
  27. Abdurrahman (Pangeran Sambu)
  28. Abdul Halim (Pangeran Benowo)
  29. Abdul Jabbar
  30. Abdus Salam (Kiai Shoichah)

Kiai Abdus Salam yang dalam silsilah kepada Rasullah itu ada di urutan ke-30, adalah sosok yang disebut memiliki daya linuwih luar biasa dalam ilmu kanuragan, syariat dan tasawwuf.

Saat datang ke Dusun Gedang, Jombang, pada kisaran tahun 1825, ia harus babat alas hingga belasan tahun hingga tahun 1838 (atau lebih) agar bisa dihuni oleh penduduk dan membuat padepokan (pondok) sekitar daerah situ.

Karena daya linuwihnya itu, Kiai Abdus Salam lebih dikenal sebagai Kiai Shoichah (صائحة), yang artinya "peneriak". Ceritanya, dulu beliau pernah menghentak keras (pethak) kepada seorang penjajah Belanda yang datang ke beliau hanya dengan sekali teriakan. Orangnya klenger (pingsan) dan kuda yang ditungganginya juga mati seketika. Pethak dipakai karena sang penjajah kolonial itu datang tak diundang tapi tidak berkelakuan sopan ke tuan rumah.

Dalam dunia kenuragan pesantren, hal semacam ini ada yang menyebutnya sebagai "Ilmu Pethak (teriak)". Disebut "Pethak Sayyidina Ali", ada pula yang disebut "Pethak Sayyidina Hamzah".

Kemungkinan, Kiai Abdus Salam menguasai ilmu “pethak” ini, karena dulu pernah ikut menjadi tentara perang bersama Panglima Diponegoro sebelum akhirnya pindah ke Jombang pasca kalah.

Pasca perang, semua murid Diponegoro diminta untuk beralih strategi "perang" mengembangkan pendidikan. Cikal bakal Gontor, Tambak Beras dan pesantren tua lainnya, ternyata adalah murid Pangeran Diponegoro.

Semua jadi tokoh agama dan tokoh masyarakat. Sandi yang dipakai untuk mengenalkan kalau mereka ini dulu pernah satu kompi atau satu guru bersama Pangeran Diponegoro adalah pohon Sawo.

Karena itulah, kita mudah menjumpai bila ndalem utama pendiri pondok selalu ada pohon Sawonya (jika tidak ditebang). [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini