Rabu, 07 Maret 2018

Jonru, Jonruisme, dan Cara Beragama yang Membutakan

Foto: Istimewa
Oleh M Hasani Mubarok

DutaIslam.Com - Jonru Ginting atau Jon Riah Ukur Ginting, nama yang sebelumnya belum pernah saya dengar namun begitu akrab sejak beberapa tahun belakangan ini. Seorang pegiat media yang konsisten menyebarkan konten-konten dakwah keislaman dengan corak yang begitu kuat memikat banyak follower. Melalui akunnya, dia mampu menyebarkan dakwah -kalau pantas disebut demikian- dengan pola agitasi yang bisa menjaring banyak orang untuk ikut berbagai pandangannya.

Belakangan, nama Jonru semakin viral setalah ILC (Indonesian’s Lawyers Club) edisi 29 Agustus 2017 yang tayang di Tvone menghadirkannya sebagai salah seorang tamu yang dianggap masuk sebagai salah seorang yang rajin menyebarkan ujaran kebencian di media sosial. Buntut dari diskusi para elit di ini adalah ditariknya Jonru ke meja pengadilan atas serangkaian ujarannya yang dianggap merugikan sebagian kelompok atau personal terutama di Fanspage Faceebooknya.

Baca Juga: [Kasihan] "Diadzab" 1,5 Tahun Penjara, Jonru Doakan Pelapornya Kena Adzab

Ada empat tulisan Jonru yang disebar lewat postingan di fanpage Facebook miliknya. Postingan pertama pada 23 Juni 2017 soal Quraish Shihab yang akan menjadi khatib salat Ied di Masjid Istiqlal; kedua postingan terkait Syiah bukan bagian dari Islam pada 15 Agustus 2017. Ketiga, postingan soal Indonesia belum merdeka dari jajahan mafia China pada Kamis 17 Agustus 2017. Semua itu telah menjerat Jonru dan dianggap melakukan tindakan pidana setelah dengan sengaja menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu sebagai perbuatan berlanjut. Ujar Hakim Ketua Antonius Simbolon.

Pada tanggal 2 Maret 2018 Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjatuhkan vonis 1,5 tahun penjara serta denda sebesar 50 juta kepada Jonru akibat postingan provokatifnya di media sosial. Meski demikian, Jonru tetap berdalih bahwa perkara yang telah mengantarkan ia ke meja pengadilan ini adalah sebuah bentuk kedzaliman, dan apapun keputusan selain kebebasan dia adalah ketidakadilan. Hal ini sebagaimana dirilis oleh detiknews. Pembelaan Jonru sebagai bentuk ketidakterimaan terhadap keputusan sidang tersebut juga diteriakkan setelah pembacaan vonis usai. Dengan lantang dia berdiri dan menyeru Takbir sebanyak tiga kali dan berteriak “kebenaran bisa disalahkan, tapi kebenaran tidak bisa dikalahkan” pekiknya, seraya beranjak dari kursi terdakwa.

Baca Juga: Jonru Tersangka, Akun "Jonru Ginting" Sawangen

Fenomena kalang kabut arus media sosial melahirkan istilah “Jonruisme” sebagai sebuah logika khas Jonru dalam membuat arus opini ke tengah publik. Cara mengolah dan mentransfer pemikiran keislaman yang dibuat Jonru memang sangat provokatif. Taruhlah contoh opini tentang rencana pemboikotan Istiqlal pada pelaksanaan salat Ied 2017, karena Prof. M Quraish Shihab bertindak sebagai Khotibnya. Pakar Tafsir Quran di Indonesia yang banyak beroleh fitnah karena pendekatan simpatiknya kepada Syiah ini, menjadi modal utama Jonruisme untuk mengajak agar masyarakat tidak salat di Istiqlal jika ingin aqidahnya terselamatkan dari kontaminasi Syiah. Begitulah kira-kira narasi yang sering didengungkan.

Pengaruh logika keislaman Jonru pada intinya mengajak masyarakat untuk terus menjaga aqidahnya dari berbagai serangan pemikiran dari luar Islam baik liberal, Syiah apalagi PKI. Semua itu menjadi modal utama bagi Jonru maupun Jonruisme untuk terus mewaspadai dan apriori terlebih dahulu terhadap berbagai macam pemikiran yang tidak seragam dengan potret Islam yang dia atau mereka anggap benar sesuai versi dan interpretasi mereka sendiri. Dalam hal ini NU sebagai representasi organisasi keislaman akan selalu menjadi musuh yang berseberangan oleh karena prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun dan i’tidal yang konsisten disuarakkan. Tak hanya NU, bahkan perorangan juga akan tolak jika visi keislamannya berbeda dengan mereka.

Baca Juga: Isi Postingan Jonru Banyak Hoax dan Fitnah

Tingkat penerimaan terhadap perbedaan pemikiran bahkan agama di Indonesia sedemikian besar disuarakan oleh NU akan senantiasa beroleh benturan dengan pemahaman Jonru yang tak bisa menerima keragaman pemikiran di Islam sendiri apatah lagi dengan agama lain. Benturan pandangan antar pemikiran dalam Islam yang sangat beragam senyatanya adalah sebuah fenomena yang sangat lama dan memang tak jarang berakhir dengan sebuah persitegangan yang kalut.

Sejarah mengatakan kepada kita, bahwa perbedaan konsep teologis antara Sunni dan Mu’tazilah pada abad pertengahan telah melahirkan perdebatan panas bahkan berakhir dengan sebuah persekusi mengerikan di bawah komando pemerintah. Korbannya adalah ulama pakar fiqih, sejarah dan bahasa bahkan muhaddist seperti Imam Ahmad Bin Hanbal. Tak hanya dalam Islam perbedaan sering berujung pada ketegangan, di belahan dunia Barat, pertentangan antara Katolik dan Protestan yang mana kedua-duanya sama berangkat dari agama Kristen bahkan lebih sadis lagi akibatnya. Dua faksi besar agama Kristen ini tak sudi untuk sekadar hidup di satu negara secara bersama-sama. Akibatnya, negara-negara di Barat menjadi kecil-kecil secara teritorial.

Baca Juga: Jika Melamar Pekerjaan, Jangan Share Postingan Jonru. Bahaya! 

Perbedaan memang tak akan terpisahkan karena itu adalah bagian integral dari kekuasan Tuhan. Tanpa adanya perbedaan, maka sesuatu apapun tak akan bisa bergerak dinamis. Dan mungkin sudah konsekuensi dari adanya perbedaan, persitegang akan tetap ada agar manusia mampu menyikapinya dengan baik dan bijak. Pertumpahan darah oleh karena perbedaan yang demikian luas spektrumnya dalam kehidupan tak hanya menumpahkan darah, tapi juga sampai meluluhlantakkan sebuah peradaban hingga tersisa puing-puingnya belaka. Pertanyaanya, bagaimanakah seharusnya manusia menyikapi perbedaan yang sangat beragam ini?

Minimal ada dua model pendekatan atau sikap yang dilakukan oleh manusia lintas sejarah dalam rangka menyikapi setiap perbedaan yang ada di sekitar kita. Perbedaan sikap ini dideterminasi langsung atau tidak oleh banyak faktor salah satunya adalah sosiologis dan intelektualitas yang dimiliki oleh seseorang.

Baca Juga: Tokoh-Tokoh yang Gagal Akibat Selfie Bersama Jonru

Pertama, pendekatan dialogis: sebuah sikap yang dikembangkan seseorang guna menyikapi perbedaan di depannya dengan sebuah dialog berkelanjutan. Dia akan menjadikan perbedaan itu sebagai bahan untuk membangun sebuah dialektika dinamis yang nantinya berguna bagi pengembangan poin-poin yang berbeda itu sendiri. Proses rekoreksi dan introspeksi akan berjalan karena benturan antara tesis dan antitesis.

Sebagai pra-syarat, pendekatan dialogis ini tentu berangkat dari sebuah penerimaan eksistensial terhadap sebuah perbedaan yang membentang di depannya. Tanpa adanya penerimaan semacam itu, maka dialog tidak akan pernah berjalan. Sebuah pemikiran akan jumud oleh karena selalu bergerak linier dan tak mau sejenak mentafakkuri atau bahkan berkompromi dengan perbedaan itu. Demikian pula nasib berbagai sektor lain, di mana sisi-sisinya selalu diwarnai oleh perbedaan seperti ekonomi, politik bahkan dalam tafsir terhadap konsep-konsep keagamaan.

Baca Juga: Sindiran "Nyengit" Deny Siregar Soal Penahanan Jonru, Netizen Ikutan Kepo

Kedua, pendekatan konflik. Pendekatan ini berwujud sebuah sikap yang tak bisa sama sekali menerima keberadaan perbedaan sebagai sebuah fakta dan keniscayaan. Dalam merespon sebuah silang pendapat dia tak bisa melihat kecuali dari satu sisi saja, yakni kesalahan. Akhirnya, kebenaran adalah apa yang dia persepsikan, sementara kesalahan apa yang di luar mereka bicarakan.

Masing-masing pendekatan ini berangkat dari faktor sosiologis di mana dia lahir dan berkembang serta sejauh mana perkelanaan intelektualnya mampu menerjemahkan. Satu contoh, perbedaan antara Sunni dan Syiah yang perdebatannya sangatlah menguras tenaga telah melahirkan dua sikap umat Islam. Dari Sunni ada yang mengatakan bahwa Syiah selamanya sesat dan tak akan pernah bisa berada dalam satu naungan ukhuwwah dengan Sunni. Demikian juga menurut Syiah, Sunni tidak akan pernah pantas untuk bersanding dalam hal apapun bagi Syiah baik dalam agama, pemikiran atau hal-hal prinsip lainnya.

Baca Juga: Untuk Abang Jonru

Kesimpulan seperti di atas itu adalah hasil dari pendekatan konflik yang berangkat dari latar sosiologis atau pengayaan intelektual yang sama-sama tak dapat menerima Syiah ke dalam Sunni sebagai ukhuwwah atau sebaliknya. Akibat dari pendeatan konflik semacam inilah pertumpahan darah bahkan kehancuran sebuah peradaban dimulai. Hal ini karena minimnya pengetahuan terhadap Syiah atau minimnya pengetahuan terhadap Sunni yang dimiliki oleh umat Islam dari dua belah pihak pelaku perbedaan atau bisa jadi karena dendam pribadi yang tak dapat dinegosiasikan demi terwujudnya ukhuwwah dalam perdamaian.

Jika seorang dengan kondisi sosial di mana dia bisa bersahabat baik dengan Syiah –jika dia dari Sunni-, serta mengetahui secara mendalam ajaraan dan konsep yang ada di dalam Syiah dan secara konstan pula mendialogkan semua itu dalam sebuah komitmen perdamaian. Maka, sebuah kondisi plural akan terus bergerak dinamis tanpa adanya pemaksaan satu pemikiran kepada yang lain. Prinsip penerimaan menjadi kunci pertama yang ditentukan oleh kontur sosial sejauh mana sebuah komunitas plural dapat bergerak harmonis. Kemudian, penjelajahan intelektual menjadi basis bagi kontinuitas sebuah dialog interaktif-dialektis antara dua hal yang berbeda itu.

Untuk selanjutnya, dari Jonru kita bisa belajar bahwa membuka perspektif terhadap banyak hal serta memandangnya dari berbagai sudut sebuah permasalahan menjadi sangat mahal harganya zaman sekarang. Pada akhirnya, kita boleh menggenggam erat prinsip kebenaran, namun jangan sampai ia membutakan! [dutaislam.com/pin]

Penulis adalah pecinta kedamaian

source: nukhatulistiwa.com 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini