Sabtu, 31 Maret 2018

Islam Nusantara, Model Islam yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW

Ulil Abshar Abdalla dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) di Tangerang Selatan, Sabtu (31/03/2013). (Foto: NU Online)
DutaIslam.Com - Model Islam yang menghormati tradisi lokal, ramah, toleran, dan moderat ala Islam Nusantara tidak hanya ada di Indonesia. Model Islam seperti ini juga banyak dipraktikkan di banyak belahan dunia Islam lainnya dan menjadi dominan seperti Mesir, Maroko, Yaman, Pakistan, dan lainnya. Islam yang dipraktikkan dengan hikmah seperti ini merupakan model Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. dan diteruskan oleh generasi selanjutnya hingga hari ini.

“Saya tidak yakin ada praktik semacam ini kalau tidak ada presedennya dulu,” kata Cendekiawan Islam Indonesia Ulil Abshar Abdalla dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC) di Tangerang Selatan, Sabtu (31/03/2013).

“Ini tidak hanya di Indonesia. Di seluruh dunia Islam yang begini. Saya punya keyakinan yang mendalam Islam sejak zaman nabi ya seperti ini. Islam Nusantara itu Islamnya nabi, para sahabat, para tabi'in,” tambahnya.

Ia menjelaskan, di dalam sejarahnya ada kelompok yang memiliki ‘model lain’ dalam berislam. Diantaranya adalah kelompok puritan yang kerap kali menuding bid’ah terhadap mereka yang tidak sepaham dengannya. Sebelum kelompok Wahabi eksis, kelompok model ini sudah ada sejak zaman Dinasti Abbasiyah. Namun demikian, sejak dulu hingga nanti kelompok puritan ini tidak akan menjadi besar dan akan tetap menjadi minoritas.   

“Kita harus menghormati mereka juga, meskipun saya tidak setuju dengan pendapat mereka karena ini adalah bagian dari kekayaan sejarah Islam,” ujarnya.

Ulil menerangkan, di dalam sejarahnya kelompok yang mempraktikkan Islam dengan hikmah atau ‘kelompok tengah’ dalam Islam selalu menjadi mayoritas. Kelompok yang mempraktikkan model Islam seperti ini pun tidak hanya ada di Sunni, tapi juga di Syi’ah. Kelompok tengah dalam Islam ini memiliki tiga karakter. Pertama, menghindari percampuran politik dan agama.

“Kelompok ini menghindari terlalu mencampurkan politik dan agama,” katanya.

Dulu, Kelompok tengah ini menjadi penengah antara Syi’ah dan Khawarij yang bertikai soal hubungan agama dan politik. Syi’ah yang menganggap agama dan politik harus satu, sementara Khawarij sebaliknya.

“Leluhurnya dulu memang radikal sekali, tapi belakangan mereka mengalami moderasi,” ucapnya.

Kedua, menggabungkan pendekatan naqliyah (ilmu-ilmu yang berbasis teks keagamaan) dan aqliyah (ilmu-ilmu yang berbasis pada akal). Para ulama besar zaman dulu tidak pernah mempertentangkan antara ilmu naqliyah dan aqliyah.  Hal itu juga dipraktikkan di pesantren, zaitunah, dan ribat di seluruh dunia.

Ketiga, tasawuf. Kelompok tengah dalam Islam selalu mempraktikkan tasawuf. Menurut Ulil, tasawuf menjadi ‘alat’ untuk menyebarkan Islam sehingga bisa tersebar dimana-mana tanpa ada pertentangan dengan masyarakat setempat. “(kelompok tengah) Ini bukan khas hanya Indonesia, tapi seluruh dunia Islam,” kata alumni LIPIA ini. [dutaislam.com/muchlishon/gg]

Source: NU Online

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini