Rabu, 07 Maret 2018

Ini Hukum Membaca Shalawat Kepada Selain Nabi

Viral di Medsos Video Shalawat Nusantara. Foto: Istimewa
Oleh Dafid Fuadi

DutaIslam.Com - Penjelasan Al Imam an Nawawi dalam kitabnya al Adzkar:

(بابُ الصَّلاة على الأنبياءِ وآلهم تبعاً لهم صلى الله عليه وسلم)

أجمعوا على الصلاة على نبيّنا محمّدٌ صلى الله عليه وسلم، وكذلك أجمع من يُعتدّ به على جوازها واستحبابها على سائر الأنبياء والملائكة استقلالاً.

وأما غيرُ الأنبياء، فالجمهور على أنه لا يُصلّى عليهم ابتداء، فلا يقال: أبو بكر صلى الله عليه وسلم.واختُلف في هذا المنع، فقال بعض أصحابنا: هو حرام، وقال أكثرهم: مكروه كراهة تنزيه، وذهب كثير منهم إلى أنه خلاف الأوْلَى وليس مكروهاً، والصحيحُ الذي عليه الأكثرون أنه مكروه كراهة تنزيه لأنه شعار أهل البدع، وقد نُهينا عن شعارهم.والمكروه هو ما ورد فيه نهيٌ مقصود ,
.قال أصحابنا: والمعتمدُ في ذلك أن الصَّلاةَ صارتْ مخصوصةً في لسان السلف بالأنبياء صلواتُ الله وسلامُه عليهم، كما أن قولنا: عزَّ وجلَّ، مخصوصٌ بالله سبحانه وتعالى، فكما لا يُقال: محمد عزَّ وجلَّ - وإن كان عزيزاً جليلاً - لا يُقال: أبو بكر أو عليّ صلى الله عليه وسلم وإن كان معناه صحيحاً.واتفقوا على جواز جعل غير الأنبياء تبعاً لهم في الصلاة، فيُقال: اللَّهمّ صل على محمد وعلى آل محمد، وأصحابه، وأزواجه وذرِّيته، وأتباعه، للأحاديث الصحيحة في ذلك، وقد أُمرنا به في التشهد، ولم يزل السلفُ عليه خارج الصلاة أيضاً.وأما السلام، فقال الشيخ أبو محمد الجوينيُّ من أصحابنا: هو في معنى الصلاة، فلا يُستعمل في الغائب، فلا يفرد به غير الأنبياء، فلا يُقال: عليّ عليه السلام، وسواء في هذا الأحياء والأموات.وأما الحاضر، فيُخاطب به فيقال: سلام عليكَ، أو: سلام عليكم، أو: السَّلام عليكَ، أو: عليكم، وهذا مجمع عليه، وسيأتي إيضاحه في أبوابه إن شاء الله تعالى.[فصل]:يُستحبّ الترضّي والترحّم على الصحابة والتابعين فمن بعدهم من العلماء والعبَّاد وسائر الأخيار، فيقال: رضي الله عنه، أو رحمه الله، ونحو ذلك، وأما ما قاله بعضُ العلماء: إن قوله: رضي الله عنه مخصوص بالصحابة، ويُقال في غيرهم: رحمه الله فقط، فليس كما قال، ولا يوافق عليه، بل الصحيح الذي عليه الجمهور استحبابه،ودلائله أكثر من أن تُحصر.فإن كان المذكور صحابياً ابن صحابي قال: قال ابن عمر رضي الله عنهما، وكذا ابن عباس، وابن الزبير، وابن جعفر، وأُسامة بن زيد ونحوهم لتشمله وأباه جميعاً.

Pembacaan Shalawat Kepada Para Nabi dan Keluarganya
Para ulama' sepakat terhadap bacaan shalawat atas Nabi Muhammad SAW dan para juga sepakat terhadap shalawat yang dianggap atas kebolehan dan kesunnahannya bersholawat atas para Nabi dan para Malaikat secara mandiri.

Sedangkan untuk selain para Nabi maka tidak diucapkan shalawat atas mereka secara permulaan (maksudnya : mandiri). Maka tidak boleh diucapkan "Abu Bakar shollallohu alaihi wasallam". Dan diperselisihkan tetang makna "pelarangan bacaan sholawat mandiri" ini:

- Sebagian Ashab kami berpendapat : haram.
- Mayoritas Ashab kami berpendapat : makruh tanzih.
- Sebagian besar dari mereka berpendapat : khilaful aula (menyelisihi yang lebih utama) bukan makruh.

Pendapat yang shohih yang diutarakan mayoritas ulama' hukumnya makruh tanzih karena hal tersebut merupakan syi'arnya golongan ahli bid'ah. Dan kita sungguh dilarang menyebarkan syi'ar mereka. Dan hukum makruh itu sesuatu yang larangan yang dimaksud telah warid (datang).

Sebagian Ashab kami berkata : Pendapat yang mu'tamad mengenai hal tersebut bahwa sesungguhnya "sholawat" itu sesuatu yang dikhususkan dalam ucapan ulama' salam untuk para Nabi sholawatullohi wasalamuhu alaihim. Sebagaimana ucapan kita "azza wa jalla" dikhususkan untuk Allah subhanahu wa ta'ala.

Maka sebagaimana tidak boleh diucapkan : "Muhammad azza wa jalla" - meskipun beliau azizan wa jalilan - maka tidak diucapkan: "Abu Bakar atau Ali shollallohu alaihi wasallam" meskipun maknanya benar para ulama sepakat atas kebolehan menjadikan selain para Nabi diikutkan pada para Nabi dalam bacaan shalawat. Maka diucapkan : "Allohumma sholli ala Muhammadin wa âli Muhammadin, wa ashabihi, wa azwajihi wadzurriyyatihi wa atba'ihi."  Karena terdapat hadits-hadits yang shohih tentang hal tersebut.

Dan sungguh kita diperintah membaca demikian dalam bertasyahud. Dan juga tidak henti-hentinya ulama' salaf bersholawat demikian di luar sholat. Sedangkan mengenai salam, Asy-Syaikh Abu Hamid Al-Juwaini yang termasuk Ashab kami berkata: Salam itu semakna dengan shalawat, maka tidak boleh digunakan untuk orang yang ghoib, selain para Nabi tidak boleh disendirikan dengan salam. Maka tidak boleh diucapkan : "Ali alaihis salam." baik dalam permasalahan ini untuk orang-orang yang hidup ataupun yang sudah meninggal.

Adapun untuk orang yang hadir, maka menggunakan dhomir mukhotob/dikhitobi, sehingga diucapkan : "Salamun alaik.", "Salamun alaikum.", as Salamu alaik." atau "as Salamu alaikum." dan hal ini merupakan hal yang disepakati oleh para ulama'. Dan penjelasan mengenai ini akan datang dalam bab-babnya insyaallahu ta'ala.

Rahmat Atas Para Sahabat
Disunnahkan memohon ridho dan memohon rohmat atas para sahabat Nabi dan para tabi'in dan orang-orang setelah mereka dari para ulama', para ahli ibadah, dan para akhyar (orang-orang pilihan). seperti halnya ucapan : "rodliyallohu anhu.", rohimahulloh." dan semacamnya.

Adapun tentang pendapat sebagian ulama': "ucapan rodliyallohu anhu hanya dikhususkan untuk para sahabat." dan untuk selain sahabat diucapkan : "rohimahulloh." saja, maka bukan seperti apa yang disampaikan, tidak ada kesepakatan mengenai hal tersebut.

Dan pendapat yang shohih dari mayoritas ulama' disunnahkan mengucapkan rodliyallohu anhu atau rohimahullah untuk selain sahabat.
dan dalil mengenai hal tersebut sangat banyak tidak terhitung. Jika yang disebutkan merupakan golongan sahabat yang menjadi putra sahabat, maka diucapkan :
"Berkata Ibnu Umar rodliyallohu anhuma." begitu pula Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ibnu Ja'far, Usamah bin Zaid, dan semisalnya, agar mencakup pada diri dan ayahnya kesemuanya. [dutaislam.com/pin]

Keterangan:
Al-Adzkar An-Nawawiyah,
diambil dari akun FB Dafid Fuadi, MWC NU Centre Kediri 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini