Minggu, 25 Maret 2018

Contoh dan Pesan Kiai Djazuli Ploso kepada para Guru Agar Muthola'ah Sebelum Mengajar

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Saat mbalah kitab, apabila ada perbedaan ma’na yang diperoleh dari guru-gurunya, beliau sebutkan semuanya : “Lafadz ini kalau menurut Yai Hasyim ma’nanya begini, Menurut Yai Zainuddin begini, sedangkan menurut Yai Dimyati begini.”

Suara jelas, bacaan perlahan-lahan, dan nada yang enak membuat pengajian Yai Djazuli dapat diikuti dengan mudah. Bahkan dalil-dalil dari kitab lain dapat dicatat, karena disampaikan perlahan dan berulang-ulang. Tanpa berpikir beliau mengeluarkan dalil tersebut karena sudah hapal di luar kepala. Sampai usia tuanya beliau masih hapal dengan baik untaian bait-bait Al-Fiyyah Ibni Malik beserta syair-syair contoh pelengkapnya begitu juga Imriti, Aqidatul Awam, Jauharatut Tauhid dan sebagainya.

Begitu jelas dan tuntas keterangan-keterangan yang beliau berikan, santai, tak tergesa-gesa, tak ada kesan beliau dikejar oleh waktu. Daya hafalnya memang kuat sekali, sehingga apabila ada permasalahan yang timbul, dengan cepat sekali beliau dapat menunujukkan nama kitab bahkan halaman berapa yang membahas masalah tersebut. Ini semua berkat mempeng dan Riyadlohnya di waktu masih belajar.

Setiap bahasan yang diajarkan telah dimathla’ah terlebih dahulu. Mathla’ah ini seolah-olah wajib bagi beliau sebelum mengajar dan begitu pula pesan beliau kepada para guru. Apabila tak sempat mathla’ah, lebih baik pengajian diliburkan. Beliau sendiri telah memberi contoh tentang pentingnya mathla’ah sebelum mengajar. Bayangkan saja, beliau sudah dikenal sebagai orang yang ‘alim luar biasa, cerdas, dan telah membaca kita Fathul Qarib lebih dari ratusan kali, tetapi kitab kecil itu masih tetap dimathla’ah setiap hari, seakan-akan dalam mengaji tak ada istilah sudah maklum.

Disamping membaca kitab (mengajar) beliau tidak henti-hentinya selalu mohon berkah dan do’a kepada Allah SWT. Terbukti di sela-sela membaca kitab, secara pasti beliau mengucapkan kalimat:

قال المصنف رحمه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه في الدارين أمين

Kalimat ini sudah menjadi kebiasaan beliau setiap hari.

Kepada santri-santri beliau berpesan agar menulis makna (sah-sahan) sampai penuh walaupun makna tersebut sudah maklum. Menurut beliau kalau kitab sudah gelap dengan sah-sahan akan segera timbul terang (mudah dipaham karena maknanya lengkap). [dutaislam.com/gg]

Source: Pondok Pesantren Al Falah Ploso

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini