Rabu, 14 Maret 2018

Berkah Tirakat Puasa 22 Tahun, Mbah Hasan (Demak) Melahirkan Kakek Pendiri NU

Silsilah KH Hasyim Aya'ri dari jalur Mbah Shoichah dan Mbah Usman bin Hasan
DutaIslam.Com - Mbah Usman, salah satu menantu Mbah Shoichah (Abdus Salam) yang mendirikan pondok thoriqoh adalah putra dari Mbah Hasan yang berasal dari Demak yang katanya masih keturunan Raden Fattah, pendiri kerajaan Demak Bintoro.

Mbah Hasan adalah seorang yang haus ilmu. Suatu saat, dia bermimpi bertemu dengan seseorang yang menyuruhnya pergi kea rah Timur Selatan. Mimpi tersebut sangat mempengaruhi pikiran Mbah Hasan, karena datang berulang-ulang.

Tanpa dibekali informasi yang cukup, Mbah Hasan menuruti perintah dalam mimpi yang sangat dia percayai kebenarannya tersebut. Sepanjang hidupnya, Mbah Hasan terus mencari arah seperti yang ditunjukkan dalam mimpinya itu.

Bertahun tahun kemudian sampailah dia di padepokan yang dipimpin Mbah Shoichah. Saat itu usianya sudah agak lanjut, sehingga ketika bertemu mbah Soichah dia merasa terlalu tua untuk memulai menimba ilmu.

Namun hasratnya untuk berguru pada mbah Soichah sangat tinggi, sehingga dia harus mencari siasat lain agar tidak sia-sia hanya karena terlambat belajar. Dia kemudian memutuskan untuk menikah agar penerusnyalah yang akan melanjutkan cita-citanya. Ketika istri Mbah Hasan mengandung, kedua pasangan suami-istri itu melakukan tirakatan dengan melakukan puasa selama 22 tahun.

Suatu saat, ketika Nyai (istri) Hasan sedang memasak nasi dalam tungku, pernah nampak benda berkilau di dasar tungku. Setelah diamati oleh Mbah Hasan, bongkahan-bongkahan emas terlihat dari dasar tungku itu.

Tanpa pikir panjang, Mbah Hasan mengambil cangkul dan menggali tanah untuk mengubur emas tersebut. Sambil menggali beliau meratap, "bukan ini Gusti, yang hamba cari. Bukan ini (emas)..”. Yang di harapkan Mbah Hasan sesungguhnya adalah keturunan yang bisa melampiaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan. Kemudian lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Usman.

Usman kemudian di titipkan kepada mbah Shoichah untuk di didik secara langsung. Harapan Mbah Hasan terwujud. Terbukti kemudian pemuda Usman menjadi salah seorang murid terpandai sehingga Mbah Shoichah merasa perlu mengangkatnya sebagai menantu. Karena tidak punya putra laki-laki, Mbah Shoichah mewariskan padepokannya kepada para menantunya, termasuk Mbah Usman.

Ketika Mbah Shoichah masih memangku padepokan, sebenarnya ada tiga gothakan (kamar/gubug) yang menggambarkan symbol tertentu. Pertama, kamar yang menekankan pada pendidikan syari’at, kedua, menekankan pendidikan kanuragan dan kamar ketiga adalah kamar para santri yang belajar mendalami ilmu tasawuf.

Amalan dan Tikarat Kakek Pendiri NU


Karena itulah, pondok Kiai Shoichah terkenal dengan sebutan podok telu (tiga kamar) atau nyelawe (karena muridnya selalu selawe: 25). Kamar terakhir inilah yang kelanjutannya diwariskan pada Mbah Usman, yang kemudian memindahkan lokasi pengembangan pendidikannya ke wilayah Selatan (dekat makam Mbah Usman sekarang) yang kelak dikenal dengan nama pondok thoriqoh.

Mbah Usman pernah diasuh langsung oleh Mbah Wahab dari Jorosan yang mengamalkan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah.

Versi yang beredar dari situs tambakberas.or.id, Mbah Usman (dengan istrinya, Nyai Layyinan) mempunyai keturunan lima orang. Halimah (Winih) diperistri Kiai Asy’ari (ayah KH Hasyim As'ari), Nyai Jebul (disunting Abdulloh) dari Kapas, Nyai Tandur (diperistri Qosim) dari Ponorogo, Fadhil dan Nyai Hannah (yang disunting Aqib).

Kepada putranya, Fadhil, Mbah Usman berharap keberlangsungan pondok yang dia didirikan. Namun Fadhil merasa keberatan. Di sisi lain, Mbah Usman sendiri pernah bermimpi sedang memperbaiki masjid.

Saat itu beliau minta bantuan Fadhil untuk memperbaiki, tetapi putranya tersebut tidak bisa membantu. Justru yang terdengar adalah suara bahwa yang bisa membetulkan bangunan itu adalah Abdulloh, menantunya (suami Nyai Jebul, versi lain nama suami Nyai Jebul bukan Abdullah tapi Fadil, yang dalam versi tambakberas.or.id disebut putra Kiai Usman).

Kondisi fisik Abdulloh yang saat itu lumpuh, tidak menyurutkan niat Abdulloh memenuhi panggilan Mbah Usman ke Tambakberas. Tanpa mau dibantu siapapun, Abdulloh berjalan "ngesot" dari Kapas ke Tambakberas.

Dan, ketika Mbah Usman meninggal dunia, pengembangan pondok thoriqot pindah ke Kapas. Sementara sisa yang masih ada sebagian pindah ke sebelah Barat sungai, bergabung dengan Pondok Mbah Said, menantu Mbah Shoichah dari putri kedua, Nyai Fatimah, yang menurunkan Kiai Hasbullah, ayah dari KH Wahab Hasbullah.

Dari Mbah Hasan yang berjalan dari Demak ke Jombang berguru kepada Kiai Shoichah (Abdussalam), lahir Kiai Usman, yang berkah tirakat puasa 22 tahun, KH Hasyim Asy'ari dianugerahi Allah mendirikan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) bersama adik sepupu beliau dari Mbah Shoicah sebagai penggerak (muharrik), yakni KH Wahab Chasbullah bin Chasbullah bin Said bin Abdussalam (Shoichah). [dutaislam.com/ab]

Keterangan:
  • Kisah di atas diambil redaksi Dutaislam.com dari artikel yang dimuat tambakberas.or.id hasil wawancara dengan Gus Fatkhulloh Malik, Gus Hasyim (alm) dan KH. Jamaluddin Achmad, November 2003. 
  • Diolah redaksi dengan tambahan keterangan versi karena redaksi Dutaislam menemukan ada perbedaan informasi silsilah sebagaimana dimuat dalam gambar postingan ini. 
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini