Kamis, 01 Maret 2018

Atas Nama Tuhan, Mereka Rusak Citra Agama

Foto: Istimewa
Oleh Kiai Husen Muhammad

DutaIslam.Com - Peneliti yang serius akan mudah menemukan bahwa semua konflik sosial dimotivasi perbuatan kekeuasaan politik” (Mohammad Abduh)

Konflik, kekerasan dan perang dalam tubuh kaum muslimin masih terus berlangsung, hampir di mana-mana, di negeri-negeri muslim sampai hari ini, meski tak selalu dan tak massif. Pembantaian, penyerangan, perampasan hak-hak hidup dan kehidupan acap meledak.

Pengingkaran atas ekspresi-ekspresi pikiran masih berhamburan sewaktu-waktu, tetapi bagai bayang-bayang hantu. Individu-individu dan kelompok-kelompok muslim berpikiran progresif dan menggugat konstruksi pemikiran keagamaan konservatif acap dituduh kafir dan menghancurkan agama. Mereka tidak mematuhi bahkan melawan hukum-hukum Tuhan. Sebagian dari kelompok itu dituduh “munafik”, sebuah terma kafir berkedok dan dengan performa muslim. Beragam stigma lain dilekatkan kepada mereka; antek barat, sekularis, liberal, sinkretis dan lain-lain.

Berbagai terma ini dianggap mereka sebagai sepenuhnya negatif, keburukan dan biang kerusakan social. Boleh jadi setan-setan gentayangan yang merontokkan keyakinan umat. Menakutkan.

Sebaliknya individu-individu atau kelompok-kelompok progresif menyebut kaum konservatif sebuah terma orang-orang yang “ngotot” mempertahankan kemapanan pikiran-pikiran kuno dan tradisi-tradisi yang tak lagi relevan, sebagai orang-orang yang memasung, menghambat dan mematikan dinamika dan sirkuit kemajuan umat dan bangsa-bangsa.

Kaum konservatif dianggap paling bertanggungjawab atas keterpurukan, kebodohan, kemiskinan dan ketidakberdayaan kaum muslimin dewasa ini. Pembatasan, pengabaian, pemenjaraan, pejorasi, stigmatisasi dan penyerangan terhadap ekspresi-ekspresi pikiran dan kehendak-kehendak intrinsik manusia adalah penghancuran potensi-potensi kemanusiaan yang dianugerahkan Tuhan kepada setiap orang, ciptaan-Nya. Masyarakat muslim, menurut kelompok muslim progresif, harus dibebaskan dari rantai dan belenggu-belenggu yang memasung mereka.

Atas Nama Apa?
Menariknya adalah bahwa dua kelompok berseberangan atau “bermusuhan” ini sepakat mencatut teks-teks agama untuk menopang pendiriannya. Sepanjang sejarah agama-agama di dunia, “bersembunyi” di balik punggung teks-teks agama merupakan strategi dan pedang paling tajam untuk menebas leher lawan-lawannya karena di balik agama ada Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Melawan Tuhan sama dengan merendahkan Kemuliaan dan Kekudusan-Nya. Ini adalah adalah wajah dari peradaban teks, meminjam terma Abu Zaid.

Pertanyaan krusial kita adalah apakah semua persitiwa saling menghancurkan antar kaum muslimin tersebut benar-benar dialasi oleh benturan-benturan teologis? Peristiwa-peristiwa adalah fenomena-fenomena yang selalu bisa ditafsirkan secara ambigu; “hammal awjuh”,mengandung dimensi-dimensi yang beragam. Masing-masing pembaca atau pendengar dapat mengindentifikasi suatu kasus berdasarkan pengalaman, pengetahuan, kecenderungan dan kepentingannya sendiri.

Zaidah Soleh, dalam responnya atas catatan saya: “Khalifah yang Toleran”, misalnya, mengatakan: “saya lebih setuju bahwa hubungan-hubungan yang terjadi saat itu lebih banyak didasari oleh kepentingan-kepentingan politis dan ekonomis tertentu, tidak melulu karena alasan ideologis, baik kepada yang sekeyakinan maupun yang tidak, ketika kepentingan mereka terancam”. Ini sangat menarik, dan saya tidak menolaknya, tetapi sembari mengapresiasi pendapatnya, saya juga mengapresiasi pandangan lain.

Zaidah tidak sendirian, amat banyak yang mengajukan alasan itu. Muhammad Abduh, dalam perdebatannya dengan Farah Anton, pernah mengemukakan pandangan tersebut. Katanya: ”perang antara kaum Salafi, Asy’arian dan Mu’tazilah, sama sekali tidak karena motiv teologis, meski di antara mereka terdapat perbedaan teologis yang amat tajam.“Hurub al Khawarij”, pemberontakan kelompok Khawarij, dan peristiwa penyerangan gerakan Karamit dan lain-lain memang terjadi.

Akan tetapi perang-perang seperti ini sejatinya tidak dipicu oleh perbedaan teologis, melainkan disulut oleh kepentingan-kepentingan politik dalam rangka penguasaan atas rakyat”. Begitu juga perang antara Iran yang Syi’ah dan Dinasti Otoman yang Sunni atau kelompok Wahabi di Saudi Arabia terhadap kelompok muslim lain. Banyak orang yang melihat ini sebagai perang atau konflik ideologis, atau teologis, tetapi Abduh mengatakan; “peneliti yang serius akan mudah menemukan bahwa semua perang tersebut adalah perebutan kekuasaan politik”.

Penjelasan Abduh tidak sampai di sini. Ia melihat kekerasan, konflik dan berbagai peristiwa pergolakan dalam dinasti Abbasiah ketika mapan. Ini katanya juga bukan karena motiv-motiv teologis. “Peristiwa-peristiwa yang dikemudian hari melumpuhkan umat Islam itu lebih dilatarbelakangi oleh kerakusan para penguasa dan karena hasrat-hasrat yang rendah mereka”.

Dan masih kata Abduh, sang pembaru abad 20 itu, “Tetapi tak ada penyakit yang lebih besar yang merasuk dalam tubuh, akal dan semangat kaum muslimin kecuali masuknya orang-orang bodoh (al jahalah) ke dalam pemerintahan. “Al-Jahalah”, (literal: orang-orang bodoh), adalah mereka yang berhati kasar (al khusyunah) dan pribadi-pribadi yang sangat arogan (al ghatrasah). Mereka tidak mengerti Islam yang benar dan keimanan mereka semu dan tak mendalam. (Baca: Farah Anton, Ibn Rusyd wa Filsafatuhu, Dar al-farabi, Beirut, cet. I, 1988, h. 217-218).

Analisis Abduh adalah pikiran, pengetahuan dan pengalamannya sendiri dan sah adanya. Meski dia hidup di zaman dan di ruang yang lain dari kita, tetapi kecerdasan dan ketajaman matanya tampak menjangkau banyak zaman dan ruang yang lain. Jika kita boleh menyimpulkan tampaknya ketamakan kekuasaan dan kebodohan telah merenggut banyak nyawa manusia.

Abduh konon “frustasi” pada kehidupan politik sampai dia harus bilang: “A’udzu billah min (syarr) al Siyasah wa Ma Yata’allqu biha”, (aku mohon perlindungan Allah dari (keburukan) Politik dan penopang-penopangnya). Saya kira apa yang dimaksud “politik” oleh al Imam, di situ, adalah realitas sistem politik, bukan idealitas politik.

Itu sekali lagi pandangan Abduh. Kita berhak menulis dan bicara yang lain, dan saya ingin menambah analisis lain dari dua tokoh besar lain dalam sejarah Imam al-Syafi’i, pendiri aliran fiqh terkemuka, dan diamini Imam al Ghazali, sang pendekar Islam dari Thus. Keduanya mengambil kesimpulan yang mungkin secara substantif tak berbeda dengan Imam Abduh, meski dengan bahasa yang lain. Kata mereka dalam sebuah syair:

كل العداوة قد ترجى سلا متها الا عداوة من عاداك عن حسد

“Semua permusuhan bisa didamaikan, kecuali satu Permusuhan dari dia yang iri hati”

Iri hati adalah keinginan merampas kenikmatan orang lain dan meraihnya untuk dirinya sendiri (atau kelompoknya) sembari membiarkan  yang lain menderita seperti pengalaman diri dan atau kelompok [dutaislam.com/pin]

source: santrionline.net 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini