Sabtu, 31 Maret 2018

Asbabun Nuzul Surah At-taubah Ayat 122 Tentang Keharusan Menuntut Ilmu

Kandungan surah at taubah ayat 122.
Asbabun nuzul surat At-Taubah, jika diruntut, banyak terjadi kisah-kisah menarik. Pasalnya, sebab turunnya Surat At-Taubah itu berkaitan dengan banyak hal. Ini belum asbabun nuzul per ayat At-taubah (ayat 122, 105, 11, 119, 123 atau 102) yang sangat penting. Adapun asbabun nuzu surah At-Taubah ayat 122 berkaitan dengan keharusan menuntut ilmu.

DutaIslam.Com - Menuntut ilmu merupakan salah satu hal yang utama atau keharusan di dalam agama Islam. Islam memandang bahwa menuntut ilmu sebagai bagian dari ibadah yang harus dilakukan umat Islam kapanpun dan di manapun ia berada. Hal tersebut tertuang dalam surat At-Taubah ayat 122.


وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ibnu Abu Hatim menjelaskan Asbabun nuzul surah At-Taubah 122 dari sebuah hadis yang diriwayatkan Ikrimah. Beliau menceritakan, bahwa ketika diturunkan firman-Nya ini, yaitu, "Jika kalian tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kalian dengan siksa yang pedih." (Q.S. At-Taubah 39).

Asbabun nuzul surah At Taubah Ayat 122 

Allah menjelaskan dalam surat At Taubah ayat 122 ini bahwa pada waktu itu ada orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang. Mereka tidak berangkat perang karena sibuk mengajarkan agama kepada kaumnya di daerah Badui (pedalaman). Melihat kejadian itu, orang-orang munafik berkomentar, "Sungguh masih ada orang-orang yang tertinggal di daerah-daerah pedalaman, maka celakalah orang-orang pedalaman itu."

Kemudian turunlah surat ini (At-Taubah ayat 122) yang menjawab komentar orang-orang munafik tersebut. "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang)." (Q.S At-Taubah ayat 122).

Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lainnya yang menjelaskan Asbabun nuzul surah At Taubah 122. Riwayat hadis tersebut  melalui Abdullah bin Ubaid bin Umair yang menceritakan, bahwa keinginan umat Islam yang sangat besar untuk ikut berjihad sangat besar sehingga ketika Rasulullah mengirimkan pasukan perang, maka mereka semuanya ingin berangkat. Mereka meninggalkan Nabi SAW di Madinah bersama dengan orang-orang yang lemah. Maka turunlah surat at-Taubah ayat 122 sebagai respon atas prilaku para sahabat nabi.

Berdasarkan asbabun nuzul surat at-Taubah ayat 122 di atas, dapat dipahami bahwa ketika umat Islam berada dalam peperangan, hendaknya semua orang Islam tidak berangkat ke medan perang. Akan tetapi sebagian umat Islam harus ada yang di tinggal di daerahnya untuk menuntut ilmu. Para sahabat yang tidak berangkat ke medan perang bertugas menuntut ilmu dan mendalaminya dengan tekun agar ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.

Pendalaman ilmu agama merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti. Islam menilai orang-orang yang menuntu ilmu sama halnya dengan orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda:

يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء

"Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang)".

Tugas umat Islam adalah mempelajari ajaran agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Hal tersebut merupakan kewajiban kolektif umat Islam dan setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah telah bersabda:

بلغوا عني ولو آية

"Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) daripadaku walaupun hanya satu ayat Alquran".

Namun, tidak setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu serta mendalami ilmu agama. Ada yang dikarenakan sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya.

Oleh karena itu harus ada sebagian umat Islam yang fokus menuntut ilmu dan mendalaminya agar mereka dapat menyebarkan ilmu yang telah didapatkannya ketika kembali ke masyarakat dan menjalankan misi dakwah Islam dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.

Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi pelita bagi umatnya. Ia harus menyebarluaskan ilmunya, dan membimbing orang lain agar memiliki ilmu pengetahuan pula. Selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkan ilmunya agar menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama.

Dari penjelasan asbabun nuzul surat at-Taubah ayat 122 di atas, dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.

Menurut pengertian yang tersurat dari surat at-Taubah ayat 122, kewajiban menuntut ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu agama lah yang ditekankan Allah SWT. Namun, setiap ilmu pengetahuan yang berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan mereka, serta tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari.

Allah memerintahkan umat Islam untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik. Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya. [dutaislam.com/in]

Artikel Dutaislam.com

Demikian penjelasan Asbabun Nuzul Surat At Taubah ayat 122 yang berisi tentang keharusan menuntut ilmu. Adapun asbabun nuzul  surah At-Taubah ayat 105, atau surat At-Taubah ayat 123, akan disajikan redaksi Dutaislam.com di artikel berikutnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini