Senin, 05 Februari 2018

Wanita Ikut Ziarah Makam Wali, Bolehkah?

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Ziarah kubur bagi wanita secara umum bersumber dari hadis berikut:

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ - رضى الله عنه - قَالَ مَرَّ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - بِامْرَأَةٍ عِنْدَ قَبْرٍ وَهِىَ تَبْكِى فَقَالَ « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى » (رواه البخارى ومسلم)

Dari Anas bahwa Nabi berjumpa dengan wanita yang menangis di dekat kubur (anaknya). Sabda Nabi: “Takutlah kepada Allah dan sabarlah” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadis ini, Nabi tidak melarang wanita tersebut untuk ziarah kubur. Riwayat lain yang menunjukkan wanita boleh ziarah kubur adalah:

عَنْ عَلَىِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَبِيهِ : أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَتْ تَزُورُ قَبْرَ عَمِّهَا حَمْزَةَ كُلَّ جُمُعَةٍ فَتُصَلِّى وَتَبْكِى عِنْدَه (رواه البيهقى وضعفه)

Fatimah ziarah ke makam pamannya, Hamzah, setiap Jumat. Ia berdoa dan menangis di dekatnya (HR al-Hakim dan al-Baihaqi, ia menilai dhaif).

Meski riwayat ini dlaif namun diperkuat dengan jalur lain yang disampaikan oleh Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid 3/233 dan oleh Ibnu Sa’d dalam at-Thabaqat al-Kubra 3/81.

Bagaimana dengan hadis yang melarang wanita ziarah kubur? yaitu:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ (رواه احمد والترمذى وابن ماجه)

Rasulullah melaknat wanita-wanita yang sangat sering ziarah kubur (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Maka para ulama ahli hadis memberi jawaban diantaranya yang disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar:

قَالَ الْقُرْطُبِيّ : هَذَا اللَّعْنُ إِنَّمَا هُوَ لِلْمُكْثِرَاتِ مِنْ الزِّيَارَةِ لِمَا تَقْتَضِيْهِ الصِّفَةُ مِنْ الْمُبَالَغَةِ ، وَلَعَلَّ السَّبَبَ مَا يُفْضِي إِلَيْهِ ذَلِكَ مِنْ تَضْيِيْعِ حَقِّ الزَّوْجِ وَالتَّبَرُّجِ وَمَا يَنْشَأ مِنْهُنَّ مِنْ الصِّيَاحِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، فَقَدْ يُقَالُ : إِذَا أُمِنَ جَمِيعُ ذَلِكَ فَلَا مَانِعَ مِنْ الْإِذْنِ لِأَنَّ تَذَكُّرَ الْمَوْتِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ (فتح الباري لابن حجر - ج 4 / ص 325)

Al-Qurthubi: “Laknat ini hanya untuk wanita yang sering ziarah, hingga ia lalai terhadap hak suaminya, bersolek secara berlebihan, jeritan di kuburan, dan sebagainya. Sementara jika tidak ada hal-hal tersebut, maka diperbolehkan. Sebab ingat akan kematian diperlukan bagi laki-laki dan perempuan” (Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Bari, 4/325).

Telah banyak riwayat diatas yang menjelaskan wanita boleh ziarah kubur meski dengan melakukan perjalanan jauh. Lalu bagaimana jika untuk ziarah makam wali yang sering dilakukan oleh Majlis Taklim maupun jamaah Masjid? Berikut adalah fatwa ulama al-Azhar:

وَأَمَّا إِنْ كَانَتْ زِيَارَتُهُنَّ لِلْاِعْتِبَارِ وَالْعِظَةِ وَالتَّرَحُّمِ مِنْ غَيْرِ بُكَاءٍ وَالتَّبَرُّكِ بِزِيَارَةِ الصَّالِحِيْنَ فَلَا بَأْسَ بِهَا مِنَ النِّسَاءِ إِذَا كُنَّ عَجَائِزَ، وَيُكْرَهُ إِذَا كُنَّ شَوَابَّ لِحُضُوْرِ الْجَمَاعَةِ فىِ الْمَسَاجِدِ، قَالَ ابْنُ عَابِدِيْنَ وَهُوَ تَوْفِيْقٌ حَسَنٌ . (فتاوى الأزهر - ج 5 / ص 496)

"Jika ziarah para wanita tersebut untuk mengambil pelajaran (ingat mati), mendoakan rahmat tanpa menangis dan untuk mencari berkah dengan ziarah ke makam orang-orang saleh, maka boleh bagi wanita yang sudah tua. Dan makruh bagi wanita muda (seperti hukum) menghadiri salat Jamaaah di masjid. Ibnu Abidin (dari Madzhab Hanafi) berkata: “Ini perincian yang bagus” (Fatawa al-Azhar, 5/496). [dutaislam.com/gg]

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center PWNU Jatim

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini