Jumat, 23 Februari 2018

Savic Ali: Mayoritas Akun Penyebar Ujaran Kebencian dan Hoax Adalah Partisan Parpol

Savic Ali (tengah) saat menyampaikan materi Deteksi Peta Media dalam MaCDI Dutaislam.com ke 1 di Semarang (Ahad, 03/09/2017).
DutaIslam.Com - Mayoritas unggahan ujaran kebencian dan berita bohong atau hoax berasal dari akun-akun yang terhubung dengan partai politik (parpol) tertentu. Hal itu dikatakan Aktivis Jaringan Gusdurian, Savic Ali, berdasarkan pemantauan dan penelusurannya selama tiga bulan terakhir terhadap ribuan akun di berbagai media sosial.

"Kami lacak satu tahun terakhir itu 80 persen ungkapan hate speech dan hoaks bukan datang dari akun yang teridentifikasi dari kelompok radikal, tapi teridentifikasi akun yang partisan parpol," kata Savic , di Universitas Atmajaya, Jakarta Selatan, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Rabu (21/02/2018).

Savic tidak mengungkapkan parpol apa yang terkait dengan para penyebar ujaran kebencian tersebut. Survei ini disebutnya berbanding terbalik dengan hasil kajian yang dilakukannya tiga tahun yang lalu. Saat itu, akun-akun yang menyebarkan ujaran kebencian di media sosial teridentifikasi dilakukan oleh kelompok intoleran.

"Tiga tahun lalu itu yang menyerang orang dicap kafir liberal itu memang akun yang teridentifikasi dia intoleran dan fundamentalis. Kan kita bisa baca tweet-nya," lanjutnya.

Ia menjelaskan, akun-akun penyebar hoaks dan ujaran kebencian yang dikelola oleh partisan parpol itu kebanyakan menyebarkan sentimen bernuansa Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Pihaknya menduga akun-akun itu bukan digunakan sebagai sarana dakwah, namun digunakan untuk menggiring opini untuk kepentingan politiknya.

"Kita bisa saksikan benar signifikan agama bagi masyarakat kita, dan ini disadari benar oleh peternak politik ini, politik untuk menggiring opini dan melemahkan lawan politik," kata Savic.

Ia khawatir jika hal ini dibiarkan akan memperuncing perpecahan di masyarakat dan membahayakan demokrasi di Indonesia. Terlebih, Indonesia akan menyelenggarakan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

"Kampanye hate speech berdasarkan agama, ini bisa menajamkan polarisasi yang lama dan bisa berubah menjadi kebencian yang berujung kekerasan," jelasnya.

Menurut Savic, parpol memiliki tanggung jawab besar jika polarisasi konflik di masyarakat semakin meluas akibat memelihara akun-akun tersebut. Baginya, parpol diklaim turut menyumbang hancurnya nilai kebangsaan di Indonesia jika hal itu dibiarkan terus terjadi.

"Jadi parpol punya tanggung jawab banyak soal ini, bagaimana hancurnya kebangsaan gara-gara ini," tandas Savic. [dutaislam.com/gg]

Source: CNN Indonesia

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini