Sabtu, 03 Februari 2018

Pengembangan Madrasah Tidak Boleh Meninggalkan Ruh Pesantren


DutaIslam.Com - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Jepara menggelar Seminar dan Bedah Buku “Madrasah Menatap Masa Depan, Mencari Format Sekolah Unggul” yang dilaksanakan di Aula Kampus Universitas Diponegoro (Undip) desa Teluk Awur kecamatan Tahunan kabupaten Jepara, Selasa (30/01/2018) kemarin. 

Kegiatan yang diikuti oleh ratusan guru se-kabupaten Jepara itu menghadirkan dua narasumber Prof. Dr. H. Fatah Syukur, guru besar ilmu manajemen pendidikan UIN Walisongo Semarang dan Drs. M. Asyhari, S.H. M.SI (penulis buku).

Hadir dalam kesempatan itu Fatkhul Huda, Ketua LP Maarif Kabupaten Jepara serta KH Hayatun Abdullah Hadziq, Ketua PCNU Jepara yang juga membuka acara tersebut.

Prof. Fatah Syukur yang diberi kesempatan perdana untuk berbicara menyampaikan madrasah adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu menarik untuk diperbincangkan.

Madrasah kata dia lahir sekitar abad ke-18 dilahirkan dari ruh pesantren. Masih kata Fatah madrasah boleh mengambil terobosan yang lebih, tidak hanya sesuai dengan regulasi sekolah tetapi yang penting digarisbawahi tidak boleh meninggalkan ruhnya (pesantren, red.)

Lembaga pendidikan Islam itu memiliki keunggulan daripada lembaga yang lain yaitu bisa mengintegrasikan nilai-nilai pesantren dan manajemen modern.

Dalam kesempatan itu Profesor kelahiran Kudus, 12 Desember 1968 itu melansir data yang keluarkan Kemenag Jawa Tengah. Pada tahun 2014 – 2015 Jawa Tengah sebutnya memiliki 10.740 madrasah.

“10.441 madrasah atau 95.21 % adalah swasta. Sisanya sejumlah 229 atau 4.79 % adalah madrasah negeri,” jelasnya.

Setiap tahun lanjutnya ada sekitar 100 pemohon yang mengajukan izin operasional madrasah baru. Meski demikian dari tahun ke tahun perkembangan madrasah semakin tambah jumlahnya perlu juga dipikirkan kualitasnya.

Suami dari Uswatun Marhamah membeberkan hasil akreditasi madrasah di tahun itu juga. Untuk madrasah yang terakreditasi A ada 1796 madrasah atau 16.72 %, madrasah akreditasi B sebanyak 5581 atau 51.96 %. Sedangkan akreditasi C sejumlah 1.327 setara dengan 12.36 % dan yang belum terakreditasi di angka 2036 atau 18.96 %.

Dari data yang dipaparkannya guru besar bidang ilmu manajemen pendidikan itu berharap madrasah tidak hanya investasi di bidang fisiknya saja tetapi juga penting untuk investasi di bidang sumber daya manusia (SDM).

Sementara itu, penulis buku, M. Asyhari mengungkapkan buku kedua yang telah ditulisnya itu prosesnya 60 % digarap saat dirinya menginap di Rumah Sakit (RS).

Sesuai judul buku yang ditulisnya, bahwa ciri-ciri madrasah yang unggul ungkap Pengawas MTs di Jepara itu ada dua syaratnya. Pertama, murid harus fasih membaca al-quran.

Kedua, madrasah tegas Asyhari harus menjamin moralitas anak. “Dangdut adalah “musuh” madrasah. Maka, kami sangat menunggu stake holder terkait untuk segera melarang hiburan yang kerap untuk konsumsi miras dan narkoba,” harapnya.

Pengurus Yayasan Pendidikan Darul Hikmah desa Menganti kecamatan Kedung kabupaten Jepara menambahkan Islam di Indonesia dijaga oleh 3 pilar; masjid, madrasah dan pesantren.     

Salah satu dari 3 pilar itu yang memiliki tugas berat ialah madrasah. “Mari kita pelihara “makhluk-makhluk” madrasah dengan sebaik-baiknya,” tandas Asyhari. [dutaislam.com/sm/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini