Rabu, 14 Februari 2018

Ngaku Jurnalis, Si Jupran Sebar Fitnah dan Putarbalikkan Fakta Pelaku Penyerangan Gereja Santa

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Kasus penyerangan Gerja Santa Yogyakarta beberapa waktu lalu oleh Warga Banyuangi Suliyono jadi gorengan kelompok sebelah yang memang benci terhadap NU dan Kiai Said. Mereka memutarbalikkan fakta agar NU dibenci umat.

Nyata-nyata pelaku Suliyono benci dan anti terhadap NU. Namun oleh mereka Suliyono dianggap sebagai kader NU binaan Kiai Said. Akun bernama Jupran Machyudin adalah salah satu pelakukanya.  Jupran berusaha menggiring opini bahwa pelaku merupakan kader NU.

Baca: Anti NU, Ini Profil Singkat Pelaku Penyerangan Gereja Santa Yogyakarta

“Suliono Ternyata Kader NU, Ormas Islam Pimpinan KH Said Agil Siradj,” demikian judul tulisan Jupran di akun Facebooknya, Senin (12/02/2018).

Sayangnya, argumentasi tuduhan itu tidak jelas dan sembarangan. Anggapan Suliyono sebagai kader NU hanya didasarkan kepada fakta bahwa Suliyono pernah belajar di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, asuhan ketua PCNU Banyuwangi KH. Masykur Ali. Dimana, Suliyono hanya mondok selama setengah tahun.

“Jadi bekal keilmuan dan tradisi Nahdliyyin sudah cukup menjadi bekal Suliyono,” tulis Jupran.



Di sini Suliyono mengabaikan fakta bahwa Suliyono termasuk orang yang anti terhadap NU. Bahkan pernah menuduh sesat warga salah satu NU. Dia juga tidak sepaham dengan kedua kakaknya Totok Atmojo dan Mohamad Sarkoni karena berpaham NU.

"Suliono ini berseberangan dengan paham kakaknya. Akhirnya merantaulah ke Palu dan sekolah SMA di sana," kata Ketua Majelis Ta'mir Masjid (MTM) di Desa Kandangan dan Desa Sarongan, Mubarok, Minggu (11/2/2018).

Bahkan, Mubarok mengaku, sempat bertemu dengan Suliono saat berada di Palu pada 2013 lalu. "Pas saya ke Palu, sempat ketemu dengan Suliono. Bertemu, dia menyalahkan saya kalau paham yang saya anut itu salah," katanya.

Tak hanya itu, Jupran juga menuduh bahwa kejadian pembacokan para Romo Pastur dan Jemaat Gereja St. Lidwina karena kesalahan kurikulum di NU.

“Ini membuktikan ada kesalahan mendasar dari kurikulum Ponpes NU khususnya sejak dipimpin SAS yang sudah lama disusupi paham Liberal,” tuduhnya.

Dari keterangan akunnya, Jupran tinggal di Bandung. Dia mengaku sebagai Kabiro Surat Kabar Umum Jawa Barat. Dia juga mengaku sebagai wartawan, jurnalis surat kabar umum (SKU), wartawan, korwil priangan, dan bagian Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI).

Kalau memang benar jurnalis macam apakah dia sampai-sampai tak bisa kritis informasi dan sembarangan menyebar tuduhan tak berdasar? [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini