Selasa, 20 Februari 2018

Belajar dari Kisah Pergolakan Politik era Sultan Trenggana untuk Melihat Pola Teror ke Kiai Akhir-akhir Ini

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Dafid Fuadi

DutaIslam.Com - Kejadian teror dan onar yang menimpa para kiai, ustadz, di Ponpes-ponpes, Masjid dan Musholla tentunya sebuah kejahatan, yang tidak boleh terjadi. Tapi jika melihat polanya, jelas bahwa semua ini bagian dari permainan politik.

Tentu kita harus tetap waspada dalam menghadapinya,  tapi jangan sampai kita terprovokasi dan terbawa opini yg diinginkan oleh penyekenario permainan tersebut.

Dimulai dari penyebaran berita hoax, lalu munculnya tulisan/simbol aneh di dinding pesantren, masjid atau rumah tokoh agama, ramainya isu bangkitnya "PKI", disusul dengan kekerasan fisik yang menimpa tokoh-tokoh agama, pesan panjang di medsos yang diakhiri dengan kalimat "PKI mulai bangkit" dan seterusnya.

Semua ini adalah bagian dari permainan politik yang telah disekenario sedemikian rupa, untuk membuat masyarakat merasa terancam, lalu fitnah-fitnah dimunculkan, endingnya kerusuhan masal bisa terjadi dan tujuan akhirnya adalah perebutan kekuasaan.

Strategi politik untuk meraih kekuasaan dengan cara semacam ini sudah sering terjadi dalam dunia perpolitikan, sejak zaman dulu hingga sekarang.

Sejenak, mari kita mengambil ibrah dari  kisah pergolakan politik di era Sultan Trenggana pada Kerajaan Demak.

Alkisah, Jaka Tingkir mulai meniti karir sebagai prajurit di istana Sultan Trenggana Demak. Namun, karier Jaka Tingkir yang hebat itu tidak berjalan mulus. Jaka Tingkir dipecat karena melakukan kesalahan saat ia melakukan rekrutmen calon prajurit baru. Dia dikabarkan sebagai penyebab kematian Dadungawuk ketika pria itu menjalani tes sebagai calon prajurit.

Akhirnya Jaka Tingkir diusir dari istana Demak. Lalu ia pergi menemui dan berguru kepada Ki Buyut Banyubiru. Di sana dia mendapat banyak ilmu termasuk siasat politik agar bisa diterima kembali dan menjadi pejabat penting di Kerajaan Demak.

Jaka Tingkir diperintahkan mencari seekor kerbau yang dikenal dengan nama Kerbau Danu, lalu mulut kerbau itu dimasuki segumpal tanah yang telah diberi mantera-mantera yang ia bawa dari Banyubiru. Lalu kerbau itu dilepas dan langsung mengamuk di dekat Pesanggrahan Sultan Trenggono yang sedang berlibur di Gunung Prawoto. Dalam waktu sekejap, kekacuan dan huru hara dahsyat terjadi.

Para prajurit Demak kewalahan menghadapi kerbau yang terus mengamuk hingga tiga hari itu. Bahkan banyak prajurit yang tewas karena ditanduk dan diinjak kerbau tersebut. Pesanggrahan Sultan pun porak poranda.

Dalam kondisi kecemasan dan kekacauan seperti itu, muncullah Jaka Tingkir. Tentu saja Sultan Trenggana langsung memerintahkan Jaka Tingkir untuk menghentikan kerbau tersebut. Jaka Tingkir bertarung melawan kerbau tersebut dan memukul kepala kerbau itu hingga hancur. Kerbau mati seketika.

Karena jasanya itulah, Jaka Tingkir berhasil menarik simpati Sultan Trenggana. Sehingga ia diterima kembali ke istana, lalu ia diangkat menjadi Lurah Wiratamtama (pemimpin sebuah kesatuan militer Demak) bahkan ia kemudian dijadikan menantu Sultan dan Putra Mahkota. Di kemudian hari, Jaka Tingkir menjadi pewaris Kerajaan Demak, dan memindahkan kerajaannya ke Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya.

Dalam konteks perpolitikan saat ini, jangan sampai kita mau dijadikan sebagai "kerbau yang telah diprovokasi tersebut" lalu mengamuk yang berakhir dengan kehancuran kita sendiri. Sementara orang yang membikin kerbau mengamuk itu yang meraih keuntungannya. [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini