Jumat, 12 Januari 2018

Polemik Ustad Shomad dan Pelajaran Penting Bagi Kaum Doyan Gembar Gembor

Foto: Istimewa
Oleh Syukron Makmun

DutaIslam.Com - Kita mulai dari kasus Ahok, kemudian dilanjut ke kasus Ustad Abdul Shomad. Masih ingat dalam ingatan kita, ketika Ahok ‘dituduh’ menista agama. Pro kontra pun terjadi. Ahok meminta maaf dan menyesali perbuatannya.

Tapi demo berjilid-jilid dengan jutaan massa terus berlangsung. Mereka tak bergeming. Intinya Ahok bersalah dan harus dihukum.

Akhirnya, pengadilan pun menyatakan Ahok bersalah dan menjebloskan dia ke dalam penjara.

Dan beberapa hari terakhir ini, media sosial kembali diramaikan pidato UAS yang oleh sebagian pihak terindikasi ada ‘pelecehan’ atau ‘penistaan’ kepada Nabi SAW. Mengapa? Karena dalam pidatonya, UAS menyatakan bahwa masa kenabian Muhammad tidak bisa mewujudkan rahmatan Lil alamin. Dan rahmatan Lil alamin baru bisa terwujud setelah tegaknya khilafah ala minhajin nubuwwah.

Pidato tersebut jelas bertentangan dengan firman Allah, "Wama arsalnaka Illa rahmatan Lil alamin".

Lalu bagaimana menyikapi perihal tersebut? Sebab bagaimana mungkin seorang muslim menista agamanya sendiri? Itu jelas tidak mungkin! Mengapa? Karena jika dilihat dari "teks", maka sama sekali tidak kompatibel dengan "konteks". Tidak ada korelasi logis dan alasan yang menunjang, bahwa UAS menista agama. Agamanya sendiri, lho..

Bagi saya, ini adalah pelajaran sangat berharga bagi kelompok Islam yang selama ini paling gemar melakukan aksi gembar-gembor terkait soal penistaan agama dan dengan mudah menuduh pihak lain sebagai pihak pendukung penista agama. Sementara, ketika hal itu menimpa kelompoknya, mereka bungkam dan tidak berkata apa-apa. Apalagi, membuat agenda untuk mengadakan demo yang berjilid-jilid itu.

Padahal, mestinya kaum ‘tekstualis’ yang suka melakukan aksidemo turun jalan atas nama Islam atau Aksi Bela Islam itulah yang semestinya berteriak paling lantang duluan. Nyatanya, untuk polemik UAS ini, mereka cenderung adem ayem. Lalu ada apa di balik itu semua?


Akan berbeda jika saja yang menempati posisi UAS dalam pidato tersebut adalah Kiai Said Aqil Siraj, mungkin ceritanya akan menjadi lain. Bisa jadi, demo berjilid-jilid  atas nama Aksi Bela Islam akan kembali memenuhi Monas lagi. Hadeuh.! (Kayak gak ada tempat lain aja selain Monas, Bung! Kan masih ada Pantai Ancol dan Bonbin Ragunan. Mbok ya.. sesekali diadakan demo berjilid-jilid di Bonbin, sana!

Oleh karena itu, wahai kaum SaWah, marilah kita belajar menjadi manusia sempurna, manusia yang berlaku adil sejak dari alam pikiran, tidak berlaku zalim kepada orang lain, meski kita tidak sepaham atau berbeda pandangan. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: 
Diambil dari postingan di akun Facebook Syukron Makmun Kediri.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini