Selasa, 23 Januari 2018

[Ngeri] Ini Cara Murabbi Wahabi Agar Dianggap Baik Calon Targetnya yang Sedang Sakit

Aryo Musthofa (peci putih, kedua dari kiri) saat mengisi acara seminar di Sidang Komisi F Muktamar Jatman XII di Gedung Pascasarjana IAIN Pekalongang, Rabu (17/01/2018) siang.
Dutaislam.com - Aryo Musthofa yang pernah ikut wahabi selama 13 tahun menceritakan pengalamannya kepada ikhwan Mahasiswa Ahlith Thariqoh Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Matan) di sela-sela akan dilangsungkannya sidang pleno komisi F Muktamar XII Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) di Pendopo Lama Kota Pekalongan, Rabu (17/01/2018) malam itu.

Kita akan tertawa melihat kurikulum mereka yang disebut tarbiyah. Santri akan tertawa karena sangat simpel. Tidak perlu sampai kitab tebal macam Nihayatuz Zain dan lainnya. "Ngaji mereka itu tidak seperti kita utawi iki iku, walah klenger mereka kalau ngaji begitu," ujar Aryo kepada puluhan kader Matan yang mendengarkan.

Namun, lanjut Aryo, materi-materi untuk kader inti tidak akan diberikan oleh pimpinan mereka, "misalnya siyasah wal jundiyah (politik dan militer), tidak dipublikasi," terang Aryo.

Menurutnya, yang dipublikasikan oleh salafi wahabi adalah ajaran yang sifatnya umum sehingga orang tidak perlu mempertanyakan alirannya apa. "Tingkatan mereka itu bertahap, mulai tamhidy (orang-orang awal), muayyid (mulai yakin dan mantap) dan kader inti," ucapnya.

Karena itulah, masih kata Aryo, ada materi tarbiyah muayyid, tarbiyah tamhidy hingga dibuatkan khusus aplikasinya. Jadi, para murabbi (bukan Rabi Yahudi) itu sudah ada panduan materinya. Para murabbi wahabi ini terkontrol ketika menyampaikan materi kepada kader.

Kepada ikhwan Matan, Aryo kemudian menunjukkan salah satu aplikasi yang masih aktif untuk murobbi tentang materi "risalatul insan" yang berisi kisah-kisah nabi, sahabat, ulama, "dan kadang mengutip Imam Syafi'i, yang baik-baik dikutip," tandasnya.

Ketika masih gabung di salafi wahabi, Aryo mengaku pernah menyampaikan materi "risalatul insan" kepada seorang kiai. Tujuan materi itu adalah attaqwa, "dan orang yang memiliki taqwa ia akan memiliki izzah (kemuliaan)," tambahnya.

Kalau orang sudah dijelaskan agar beribadah, memiliki taqwa, lalu izzah, yang harus berbuat begini dan begitu, maka ia harus berbuat untuk menjadi bagian dari khilafah. Pada tahapan inilah, ada materi tentang khilafah yang dibagi lagi pembahasannya, yakni imaroh (kepemimpinan) dan ri'ayah (kerakyatan).

Materi tentang khilafah itulah yang diberikan kepada kader muayyid, yakni kader-kader yang sudah mendapatkan materi ma'rifatul insan pasca risalatul insan. Untuk mengerti tentang tujuan manusia, materi lanjutan yang diberikan adalah, antara lain: manusia dibagi menjadi tiga, 1) jasadiyah (jasmani), 2). fikriyyah (pikiran), 3) arruh (rohani).

Keterangan tentang jasad misalnya, "kita butuh makanan yang halal, nah ibu-ibu yang seneng ini biasanya," ujar Aryo memberikan contoh. Untuk materi fikriyah, yang dikeluarkan adalah kegunaan ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Jadi sangat umum sekali materinya.

Jika sudah berlanjut pada pembahasan Arruh, para murabbi akan memberikan materi tentang dzikir atau mengingat Allah, yang jangan hanya dijalankan saat shalat saja. "Ketika sudah sampai sini, ghozwul fikri-nya (perang pemikirannya), sudah masuk," papar Aryo kepada kader Matan yang mengikuti obrolan.

Dalam tahapan ini, tugas murabbi adalah membuat penasaran para calon kader muayyid tersebut. Tujuannya agar datang lagi untuk kajian pekan depan. 

Dan taktiknya di lapangan adalah mencari dan mendatangi majelis-majelis tak'lim. Dibawakan sarung, gula dan disapa manis dengan salam. "Jika mendengar orang sakit mereka harus yang pertama nengok," terang Aryo.

Pertama mungkin datang sendirian. Tapi besok dia mungkin membawa istri berserta gula dan hal lain yang dipelukan, lalu mendoakan dengan sholawat "tanpa sayyidina Muhammad". "Dia mendoakan yang sakit di luar doa yang biasa dipapakai oleh kiai," lanjut Aryo.

Semua dilakukan agar mereka dianggap baik oleh yang dijenguk. "Itu dulu yang saya lakukan, kalau perlu taqiyah membawa tasbih, padahal di rumah lemparin lagi tasbihnya," aku Aryo kepada kader Matan di lokasi Muktamar, disambut tawa.

Ketika sudah sembuh, akan didatangi ke rumah. Misal ketika butuh mobil untuk keperluan tertentu, akan diusahakan tersedia. "Dia tidak ada urusan dengan uang karena bisa telpon anggota DPR nya, ketua DPC nya, ketua rantingnya," jelas Aryo. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini