Rabu, 31 Januari 2018

Nasehat Gus Dur Kepada Modin Berkelas

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Namanya KH. Wahyudi, dia berasal dari keluarga sederhana. Tinggal di Desa Pacar Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan. Beliau adalah salah satu mudin di kampunya yang begitu aktif dalam menjalankan tugasnya, dari menjadi pencramah di masjid sampai mushola-mushola yang ada di kampungnya itu.

Selain aktif dalam syi'ar agama beliau juga aktif di organisasi, baik dulu sewaktu kecil di IPPNU, remaja mengikuti ANSOR dan dewasa ini adalah NU. Dan hebatnya jabatan ketua selalu ditempatinya.

Tak hanya itu, beliau juga aktif di politik. Dengan berpedoman khitthah NU,  "NU bukan milik siapa-siapa tapi NU ada dimana-mana," beliau memutuskan untuk masuk dalam partai (warna merah), selanjutnya disebut WM.  Beliau konsisten di partai ini, dari petama menggeluti politik sampai sekarang tak pernah ganti di partai WM ini, dan walhasil beliau menjadi DPRD wilayah Jawa tengah, sesuai kepribadiannya beliau, beliau ditempatkan dalam hal pendidikan dan keagamaan.

Pada suatu ketika saat beliau menjabat sebagai DPRD, beliau dimintai untuk Mulang (menghajar agama) oleh ketua DPD parpol tersebut. Serasa Mak jleb,,kaget bukan kepayang dan heranya beliau, beliau yang hanya berlatar belakang kiai ndeso merasa dirinya tak pantas dengan tugas tersebut. Tapi akhirnya sebelum memutuskan antara "iya" atau "tidak", sebagai kader NU yang menjunjung tinggi wejangan (petuah/saran) para sesepuh, beliau sowan dulu ke ketua PBNU pada saat itu adalah KH. Abdurrahman Wahid allauyarham atau yang biasa akrab disapa Gus Dur.

KH. Wahyudi menemui Gus Dur di Ciganjur tempat kantor PBNU berada dan menceritakan perihal masalahya tersebut. Beliau bertanya kepada Gus Dur. "Gus saya ini orang NU, saya ini disuruh mulang/nuturi anggota DPD partai WM di Semarang, yang notabene bukan org NU. bagaimana ini Gus?"

Gus Dur pun dengan santainya menjawab. "Bagus itu. Sampeyan kalau mulang di tempat orang-orangnya NU/para santri, itu sama saja sampeyan nguyahi segoro (menabur garam dilaut) artinya orang-orang yang sudah paham tentang agama kok digurui. Yaa lebih baik yang sperti itu."

"Laksanakan tugas mulia itu," tegas Gus Dur.

Kemudian Gus Dur pun memberi nasehat. "Kalau sampeyan mulang di manapun, jangan sekali-kali sampeyan meminta imbalan (upah). Tapi kalau ada yang memberi jangan sekali-kali menolaknya."

Mendengar nasehat yang pertama seakan Pak Wahyadi senyum kecut dan mendengar yang kedua kecutnya hilang. Hehehe.

Dan yang terakhir Gus Dur pun mendo'akan, agar ilmunya manfaat dan berkah kehidupanya. Pak Wahyudi pun mengamini dan pamitan untuk segera pulang.

Dengan modal silaturahmi ke kediaman Gus Dur, KH. Wahyudi pun memberanikan diri untuk meng-iya kan tawaran dari petingginya. Modin ini yang dulu hanya riwa-riwi di kampunya saja sekarang makin berkelas membagi ilmunya kepada para anggota dewan di kota besar sampai sekarang. sekian. [dutaislam.com/ed]

Keterangan: Cerita dari KH. Wahyudi saat memperingati HARSANAS di depan kantor Kecamatan Tirto, Pekalongan 2016.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini