Sabtu, 06 Januari 2018

Memahami Makna Kiasan Hadits Nabi, Biar Tidak Asal Fatwa


Oleh Wajidi Sayadi

DutaIslam.Com - Rasulullah SAW lahir dan besar hidup di lingkungan masyarakat yang tinggi nilai sastra dalam ungkapan bahasanya. Ungkapan Beliau dalam bahasa hadis terkadang bisa dipahami bukan dalam arti hakikat atau makna sebenarnya, tapi dipahami sebagai makna kiasan, simbolik, atau perumpamaan. 

Misalnya Rasulullah SAW. bersabda: "IDZAA JAA RAMADHANU FUTTIHAT ABWAAB AL-JANNAH WA GULLIQAT ABWAAB AN-NAAR WA SHUFFIDAT ASY-SYAYAATHIN". Artinya: "Apabila tiba bulan Ramadhan, maka pintu-pintu surga terbuka, pintu-pintu neraka tertutup, dan setan-setan terborgol atau terbelenggu". (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Ketika bulan Ramadhan terjadi pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pencurian dan berbagai kejahatan lainnya, muncul pertanyaan: Bagaimana bisa terjadi padahal setan sudah diborgol atau dirantai? Apakah borgolnya lepas? Antara hadis dengan fakta di masyarakat tidak sesuai? Dimana kebenaran hadis tersebut?

Pertanyaan dan kebingungan tersebut muncul karena hadis tersebut di atas dipahami dalam arti fisik yang sebenarnya. Disebut pintu dan borgol atau rantai, lalu kita membayangkan pintu dan rantai secara fisik yang ada di rumah atau di tempat lain.

Makna hadis ini bisa dipahami dalam arti kiasan. Dalam teks hadis lainnya, disebutkan: "Apabila tiba bulan Ramadhan, maka pintu-pintu langit terbuka. (HR. Bukhari). 

Makna yang dimaksud pintu surga atau pintu langit terbuka adalah Rahmat Allah yang melimpah ruah selama bulan Ramadhan sejak awal hingga akhir. Rahmat Allah bentuknya macam-macam, seperti amal kebaikan sekecil apa pun nilai dan pahalanya pasti dilipatkangandakan. Dosa dan kesalahan sebesar apa pun pasti diampuni. Rahmat Allah yang sangat berlimpah inilah yang membuka peluang sangat besar masuk surga. 

Sebaliknya, sangat kecil peluang masuk neraka; peran malaikat selama Ramadhan ini lebih banyak dan sebaliknya peran setan semakin kecil bagi orang-orang yang memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik. Jangan dibatasi, Rahmat Allah pada awal Ramadhan saja, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka. 

Hadis yang populer bahwa "Awal Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari nereka". (HR. Dailami dan Ibnu Asakair). Hadis ini termasuk hadis matruk (tertolak), hadis yang sangat daif beda tipis dengan hadis palsu. Intinya bulan Ramadhan sejak awal semuanya adalah rahmat full khusus bagi umat Islam, sebagaimana dijelaskankan hadis riwayat Muslim di atas yang dipahami dengan makna kiasan.

Demikian juga cara memahami doa Rasulullah SAW. yang berbunyi: "ALLAHUMMA AHYIINI MISKINAN WA AMITNII MISKINAN WAHSYURNI FI ZUMRATIL MASAAKIIN YAUMAL QIYAAMAH". Artinya: "Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, wafatkanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku pada hari kiamat bersama orang-orang miskin". (HR. Ibnu Majah). 

Ayoo siapa yang mau menghidupkan dan mengamalkan sunnah Nabi SAW dengan selalu membaca doa tersebut agar menjadi orang miskin?

Pasti banyak yang tidak mau. Tapi kalau doa Nabi SAW ini: ALLAHUMMA INNII A'UDZU BIKA MINAL FAQRI. Artinya: "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kemiskinan. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah). Pasti banyak yang mau mengamalkan doa ini. Apabila kata "Miskin" dalam doa hadis pertama di atas, dianggap bertentangan dengan doa pada hadis kedua. 

Jadi, kata "Miskin" yang dimaksud dalam hadis pertama di atas adalah Tawadhu' atau rendah hati lawannya Takabbur. Maksud doa Nabi SAW. adalah Ya Allah hidupkanlah aku selalu dalam keadaan tawadhu' atau rendah hati, jauh dari sikap takabbur. Doa Nabi SAW di atas tidak ada yang bertentangan. Dua-duanya silakan praktekkan. Wa Allahu A'lam bi ash-Shawwab. [dutaislam.com/gg]

Source: fb Wajidi Sayadi

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini