Senin, 08 Januari 2018

Kisah Kiai Maksum Mengantar Santri ke Kampus Karena Sering Bolos Kuliah

Kiai Ali Maksum Krapyak. Foto : Istimews
DutaIslam.Com - Beberapa kiai atau ulama sering dianggap punya karomah atau ajian-ajian sakti. Salah satunya adalah kisah Kiai Ali Maksum saat mengajak jalan-jalan santrinya yang sering membolos.

“Kang Majidun, dipanggil Pak Kiai Ali,”kata seorang santri.

Entah mimpi apa Ahmad Majidun tadi malam. Pagi-pagi itu K.H. Ali Maksum, pengasuh Pesantren Krapyak, mencarinya. Bagi santri, dipanggil seorang kiai itu bisa mengandung beragam kemungkinan dan arti.

Dipanggil karena pernah melakukan kesalahan di pesantren, misalnya. Ini jelas bukan panggilan yang menyenangkan. Rasanya malah sangat menakutkan. Bisa juga dipanggil karena kiai hapal dengan si santri. Dalam beberapa aspek, tentu saja ini menyenangkan. Akan tetapi, perlu diketahui, dikenal dan dihapal oleh pengasuh sebenarnya lebih banyak tidak enaknya daripada enaknya. Dan hal ini disadari betul oleh Majidun yang bersiap-siap menuju kediaman Kiai Ali.

Kiai Ali memang  sebagai sosok yang dekat dengan anak didik. Ada banyak kisah yang bisa menjadi contoh. Seperti memberi uang kepada santri-santrinya yang ingin melihat acara sekaten tetapi, karena kere, mereka hanya bisa melihat acara sekaten dari jauh tanpa berani mendekat.

Kiai Ali juga dikenal selalu mencoba mengenal lebih jauh santri-santrinya yang nakal. Mencoba akrab, agar tahu apa sebenarnya permasalahan yang dialami santrinya tersebut. Dan inilah yang dialami oleh Ahmad Majidun, santri pesantren Krapyak sekaligus mahasiswa semester akhir IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada periode awal 1980-an.

Seperti halnya mahasiswa aktif lain, Majidun adalah tipe mahasiswa yang sibuk dengan komunitas dan organisasi kampus. Dan yang namanya organisasi kampus, kadang Majidun harus berkegiatan dan menginap di luar kota. Itu artinya Majidun sering tidak kembali ke pondok selama beberapa hari dan jelas membuat Majidun hampir setiap saat membolos ngaji. Bahkan termasuk jadwal ngaji yang diajar oleh Kiai Ali sendiri.

Itulah membuat Kiai Ali memanggil Majidun pagi-pagi.

“Injih, Pak Kiai. Ada apa, ya?” kata Majidun menghadap Kiai Ali.

“Oh, Kang Majidun. Aku mau tanya, hari ini lagi ada acara tidak, ya?” tanya Kiai Ali.

Majidun heran. Ada urusan apa Kiai Ali menanyakan jadwal acara seorang santri seperti dirinya?

“Tidak ada Kiai,” kata Majidun.

“Oh, kalau begitu ikut saya jalan-jalan,” kata Kiai Ali.

Majidun tentu kaget bukan kepalang. Tanpa alasan yang jelas, Kiai Ali tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan. Dalam pikiran Majidun, ini jelas sebuah kehormatan bisa diajak jalan-jalan dengan Kiai Ali.

“Jalan-jalannya naik mobil, ya?” kata Kiai Ali.

Majidun bingung. “Oh, Pak Kiai mau saya supiri?”

“Oh, ndak perlu. Kamu duduk aja jadi penumpang,” kata Kiai Ali.

Majidun semakin bingung.

Di perjalanan percakapan tidaklah terjadi begitu intens. Tentu saja Majidun kikuk. Ia satu kendaraan dengan pengasuh pesantrennya, di saat bersamaan Majidun menyadari ia sering membolos mengaji. Dadanya berdegup kencang karena mendapati ada sesuatu yang tidak beres.

“Anu, ini kita mau kemana, Pak Kiai?” tanya Majidun sambil takut-takut.

Kiai Ali diam sejenak.

“Mau ke kampus,” kata Kiai Ali.

“Hah? Kampus mana Kiai?”

“Ke Kampus IAIN,” jawab Kiai Ali.

Deg!

Tentu saja muka Majidun jadi tidak enak.

Adalah wajar ketika Majidun menggunakan statusnya sebagai mahasiswa untuk jadi alasan ketidakaktifannya mengaji. Alasan yang sama untuk jawaban kenapa ia jarang pulang ke pondok. Jika Kiai Ali sampai tahu bahwa ia juga jarang masuk kuliah dan ke kampus karena cuma aktif di organisasi saja, masalah bisa tambah runyam. Bisa-bisa Majidun tidak akan punya alasan lagi.

Sesampainya di kampus IAIN, Majidun memberanikan diri bertanya. “Ada urusan apa Kiai ke IAIN?”

Sambil tersenyum, Kiai Ali menjawab, “Ya mengantar anakku yang paling ganteng sendiri, Kang Mas Ahmad Majidun kuliah, toh,” kata Kiai Ali dengan jelas. Majudin rasanya ingin pingsan. Dalam pikirannya, Kiai Ali pasti juga tahu kalau ia juga jarang kuliah.

Karena merasa tertangkap basah, Majidun pun turun dari mobil. Tanpa membawa buku dan alat tulis satu pun. Jadwal dan ruangan kelas pun tak tahu karena memang tidak mempersiapkan diri bahwa hari ini bakal ke kampus.

“Sudah, ya? Aku pamit dulu,” kata Kiai Ali.

“Oh, baik Kiai,” kata Majidun sambil menyalami Kiai Ali.

Dalam pikiran Majidun cuma ada satu hal, kenapa Kiai Ali sampai tahu kalau ia jarang kuliah sampai mengantar dirinya ke kampus?

Nalar yang biasa dipakai saat itu adalah Kiai Ali pasti punya semacam karomah, atau seperti ajian sakti yang bisa membaca mata batin santri-santrinya. Termasuk mata batin Majidun. Hal inilah yang membuat Kiai Ali tahu bahwa ternyata selama ini Majidun pamit ke kampus bukan untuk kuliah.

Setelah ditinggal Kiai Ali, di perjalanan menuju fakultas, Majidun bertemu dengan salah satu temannya.

“Wah, Majidun keren, ke kampus diantar pakai mobilnya Pak Kiai Ali sekarang,” kata temannya.

“Lho, kok, kamu kenal? Sampai tahu mobilnya Kiai Ali segala?” tanya Majidun.

“Ya, kenal. Pak Kiai Ali, kan, dosen kampus sini. Beliau, kan, sering ke kampus.”

Mendengar itu, Majidun rasanya ingin pingsan beneran [dutaislam.com/pin]

Keterangan: 
Data dan cerita diolah dari laporan tirto.id

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini