Selasa, 16 Januari 2018

Jatman, Thariqah, dan Islam Moderat

Foto: Istimewa
Oleh Ahmad Rofiq

DutaIslam.Com - Hamdan wa syukran liLlah. Puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita syukuri rahmat dan pertolongan-Nya. Karena pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita dan mengabdi kepada Allah SWT. Shalawat dan salam mari kita wiridkan untuk Baginda Nabi Muhmmad Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut yang setia meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah dan kelak kita mendapat perlindungan syafaat beliau.

Saudaraku, hari ini 15-17/1/2018 Jamaah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) menggelar Muktamar XII dan Halaqah Internasional Ulama Thariqah se-Dunia di Kabupaten dan Kota Pekalongan. Upacara pembukaan pagi hari ini dipustakan di Pendopo Kabupaten Pekalongan di Kota Kajen. Hadir para Ulama Thariqah dari berbagai negara seperti Yaman, Syria, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan lain-lain.

Multamar XII ini merupakan momentum strategis dan sarat tafsir ganda politis, karena digelar dalam tahun politik. Karena tahun 2018 ini akan digelar pilkada serentak untuk 177 kepala daerah, termasuk di Jawa Tengah, akan memilih gubernur dan wakil gubernur, serta enam bupati-wakil bupati, dan satu walikota-wakil walikota. Sudah barang tentu, tergantung yang menafsirkannya.
     
Apakah JATMAN itu berpolitik? Jika berpolitik dalam konteks atau orientasi kekuasaan dalam urusan pemerintahan dan negara, tentu jawabannya, pasti tidak. Apakah JATMAN sengaja menggelar Muktamar XII dan Halaqah Internasional, adalah untuk “menyediakan panggung politik” kepada “petahana” saya yakin, tidak ada maksud seperti itu. Seandainya ada anggapan seperti itu, tetapi saya yakin tidak ada, ya sangat bisa dimaklumi, karena momentumnya memang tahun politik.
     
Bahwa JATMAN itu berpolitik dalam konteks kebangsaan, keumatan, kerakyatan, dan keagamaan, adalah suatu keniscayaan. Thema yang diusung dalam Muktamar XII ini adalah “Dengan Thariqah yang Berdasarkan Ahlussunnah wal Jamaah untuk Meningkatkan Ubudiyah dan Mampu Mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin”. Pada bagian belakang sampul undangan, tertulis “Bagi JATMAN, NKRI adalah Harga Mati, Bagi Ahlussunnah wal Jamaah, NKRI adalah Harga Mati”. Kalimat-kalimat di atas tentu kalimat politik. Karena, JATMAN, meyakini, bahwa NKRI adalah bahian dari hasil ijtihad dan jihad kolektif para ulama yang menjadi bagian utama pendiri bangsa Indonesia ini bersama founding fathers negeri nusantara ini.
   
Identifikasi diri JATMAN sebagai penganut Aswaja dan berkomitmen dengan NKRI Harga Mati, telah melalui perenungan dan pengkajian panjang dengan latar belakang kesejarahan perjuangan ulama mengusir penjajah dan mendirikan  NKRI ini. Bahkan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah bagian dari “kearifan sejarah dan kesadaran nasionalisme” para Ulama NU yang lebih mengedepankan nasionalisme dan kebersamaan sebagai entitas sebuah bangsa, katimbang ingin memenuhi orientasi dan kepentingan kelompok.
Mengapa para Ulama Thariqah yang tergabung dalam JATMAN masih merasa penting menyebut identitas Aswaja dan thema Islam Rahmatan lil ‘Alamin? Indonesia sebagai negara yang berpenduduk terbesar keempat dan berpenduduk Islam terbesar di dunia, menjadi sasaran para avonturir ideologi dalam berbagai ragam versi dan fahamnya. Dari ideologi kapitalisme, sosialisme, komunisme, dan liberalisme di sebelah kiri, yang cenderung mengarah kepada fundamentalisme sekuler, seperti upaya-upaya sistematis yang memperjuangkan LGBT dan free sex, adalah bagian dari  upaya perang tanpa senjata atau proxywar untuk merusak Indonesia. Selain itu, upaya-upaya politik adu domba antarumat Islam juga menjadi agenda pelemahan umat secara sistematik.
     
Di sisi lain, proyek Islamophobia baik internasional maupun regional-nasional terus dilakukan. Modus dan formulasinya bisa macam-macam. Kadang dilakukan dengan cara oknum yang melakukan persekusi pada ulama-ulama dan muballigh yang dianggap akan mengancam “masa depan politik” mereka. ISIS adalah contoh nyata dari proyek Islamophobia internasional yang dibuat oleh negara adidaya dengan sekutu setianya. Karena umat Islam makin cerdas, maka ISIS tentu tidak akan efektif dikembangkan.

Anehnya, ada sebagian dari umat Islam di Indonesia ini, yang boleh jadi karena “ketidakfahaman” mereka terhadap permainan politik internasional, ada yang bahkan oleh pimpinan kelompok mereka, mendeklarasikan dengan “bangganya” padahal sesungguhnya mereka “telah terjebak” oleh permainan islamophobia itu, tetapi mereka tidak sadar. Ada modus yang lebih sistematis lagi, melalui framing pemberitaan di media. Setiap ada kasus yang dilakukan oleh “oknum yang beragama Islam” maka tanpa melalui pendalaman, berita langsung muncul itu, adalah kelompok teroris.
     
Harus diakui ada fenomena ideologi transnasional yang cenderung radikalis, bahkan ada yang tampaknya masih bermimpi atau berangan-angan mengganti NKRI dan Pancasila sebagai dasar negara. Karena teman-teman dan saudara-saudaraku pasti sudah cerdas, maka saya tidak perlu sebut di sini. Maksudnya, kita perlu mewaspadai masih adanya kelompok-kelompok pemahaman agama yang model seperti ini. Kelompok-kelompok ini, dengan mudahnya mengafirkan kelompok lain yang tidak sefaham dengan mereka.

Saya pernah dimintai pendapat teman, yang anaknya, pernah sempat “terjebak” dalam kelompok faham agama, yang mendoktrinkan bahwa ajaran yang benar adalah ajaran kelompoknya itu yang benar. Sementara kelomlok lain, dianggap beragamanya tidak benar. Bahkan sampai pakaian yang dicuci dan dijemur ketika ada hujan, orang tuanya ditelpon agar tidak mengambilkannya. Sejak itu, anaknya itu cenderung menyendiri, bahkan melihat wajah orang tuanya pun tidak, tetapi menunduk. Anak yang biasanya bisa berkumpul pada acara makan bersama keluarga, tidak mau lagi, tetapi cenderung mengisolasi diri. Seakan-akan orang tua kandungnya sendiri pun, dianggap seperti najis mughalladhah.

Saya sendiri juga heran, kok ada ya, orang yang memahami ajaran agama kok aneh dan cenderung ekstrim. Padahal ajaran Islam diturunkan adalah untuk memberi kemudahan dan jalan yang lurus, agar manusia ini hidupnya lebih mudah, lebih terarah, dan lebih mashlahat hidupnya di dunia dan akhirat.
     

Saudaraku, risalah agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw adalah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang membawa kasih sayang bagi seluruh penghuni jagad raya ini. Bukan hanya rahmatan lil insan (untuk manusia) saja, apalagi rahmatan lil muslimin atau lil mu’minin (untuk orang Islam atau orang yang beriman) saja. Dalam Islam, menyembelih hewan saja diatur sedemikian rupa, dengan pisau yang taham, dihadapkan ke kiblat, harus membaca basmalah atau menyebut nama Allah, dan tidak boleh menyakiti binatang. Dalam peperangan, tidak dibenarkan membunuh anak-anak dan ibu-ibu serta warga sipil yang tidak bersalah. Dan masih banyak aturan lainnya, demi mewujudkan kasih sayang untuk semua penghuni alam raya. Bahkan buang air di lobang semut saja dilarang, agar tidak menyakiti para semut.

Karena itu upaya pemahaman Islam dengan model yang moderat atau Islam wasathiyah perlu penguatan oleh JATMAN. Jika para Ulama yang tergabung dalam Jamaah Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah saja memiliki komitmen tinggi untuk menegaskan bahwa NKRI Harga Mati, karena isu-isu yang akan menjadi ancaman keutuhan NKRI masih ada. Sebagai negara yang memiliki 714 suku, meskipun sudah sangat teruji oleh berbagai macam cobaan dan ujian, alhamduliLlah, keutuhan, persatuan, dan kesatuan NKRI masih bisa kita jaga dengan baik.

Pluralitas atau kemajemukan bangsa ini adalah “irisan surga” karunia Allah yang diturunkan di bmi nusantara ini. Kemajemukan yang bisa dan mampu dikelola dengan baik, laksana sebuah orkestra yang meskipun berasal dari alat musik yang berbeda dan suara yang berbeda pula, seorang konduktor yang piawai, akan mampu menghasilkan harmoni yang enak didengar, dirasakan, dan dinikmati. Bahkan menurut penelitian, musik yang merdu dan indah, mampu memotivasi dan mengungkit kecerdasan emosional jabang bayi yang masih berada dalam kandungan.

Mari kita renungkan secara seksama Firman Allah ‘Azza wa Jalla:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Ali ‘Imran:64)

Bagaimana peserta atau muktamirin akan merumuskan komitmen tentang pemahaman dan pengamalan ajaran Islam moderat, dan bisa didesiminasikan bukan saja kepada para jamaah thariqah al-mu’tabarah an-nahdliyah (JATMAN), dan para mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Ahli Thariqah an-Nahdliyah (MATAN) akan tetapi juga oleh masyarakat dan penganut agama Islam.

Mengapa thariqah? Thariqah secara bahasa artinya jalan. Secara terminologi, thariqah ialah Ilmu untuk mengetahui hal ihwal nafsu dan sifat-sifatnya, mana yang tercela kumudian dijauhi dan ditinggalkan, dan mana yang terpuji kemudian diamalkan (tasawuf01.wordpress.com). Syaikh Ahmad Al Kamisykhonawi An-Naqsyabandi mengatakan: “Thariqah adalah laku tertentu bagi orang-orang yang menempuh jalan kepada Allah, berupa memutuskan atau meninggalkan tempat-tempat hunian dan naik ke maqam-maqam/tempat-tempat mulia)”.

Rais ‘Am JATMAN menyatakan: “Thariqah itu terbagi menjadi dua bagian: Thariqah Syari’ah dan Thariqah Wushul. Thariqah Syari’ah adalah aturan-aturan fiqh sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab para fuqaha’ yang mu’tabar(diakui) keimaman mereka, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, yang mereka semua adalah para Mujtahid Mutlak. Juga para fuqaha’ dari kalangan Mujtahid Madzhab, seperti An-Nawawi, Ar-Ramli, Al-‘Asqalani, As-Subki, Al-Haitami, Ar-Rafi’i dan sebagainya. Dari kalangan muhadditsun dan mufassirun, seperti Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, al-Turmudzi, an-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, As-Suyuthi, Al-Mahalli, Al-Baidlawi, Ibnu Katsir dan sebagainya. Mereka adalah para alim yang telah tersebar luas ilmu-ilmu mereka dan telah diakui keagungan kewalian serta keimaman mereka di Dunia Islam. Masing-masing mereka telah diakui kedalamannya dalam ilmu syari’at, akhlaq, tafsir, hadits dan lain sebagainya.” Sedangkan Thariqah Wushul adalah natijah (hasil) dari Thariqah Syari’ah dan terbagi menjadi dua kelompok, yang keduanya senantiasa menempuh jalan untuk bisa wushul (sampai kepada Allah SWT).

Dengan bahasa sederhana saya, thariqah adalah jalan untuk lebih serius untuk mendekatkan diri kepada Allah, selain dengan menjalankan syariat yang sudah ditetapkan, juga dengan melalui tahapan-tahapan atau maqamat-maqamat guna meraih buah mahabbah (cinta) Allah. Semoga Allah meringankan hati, fikiran, dan perasaan kita untuk menjadi lebih ringan, nyaman, dan nikmat dengan berasyik masyuk dalam dekapan kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla. Selamat bermuktamar. [dutaislam.com/pin]
      
Ahmad Rofiq, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini