Minggu, 28 Januari 2018

Ini Hasil Penelitian Tentang Buku yang Paling Diminati Generasi Milenial

Ilustrasi cover penelitian Literatur Keislaman Generasi Milenial
DutaIslam.com - Penelitian ini merupakan bagian dari Program Convey yang digagas bersama oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tujuannya memetakan literatur keislaman yang tersebar dan diakses kalangan pelajar SMA dan mahasiswa Indonesia.

Literatur keislaman yang dimaksud di sini bukan semata buku-buku teks yang dipakai di dalam kelas melainkan juga buku-buku bacaan luar kelas, majalah, leaflet dan lainnya yang diasumsikan berpengaruh terhadap konstruksi pengetahuan, aspirasi dan ideologi para pelajar dan mahasiswa tersebut.

Penelitian diselenggarakan di 16 kota, yaitu Medan, Pekanbaru, Padang, Bogor, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jember, Pontianak, Banjarmasin, Makasar, Palu, Mataram, Ambon dan Denpasar. Kota-kota ini dipilih dengan mempertimbangkan sebaran, tipologi dan karakteristik penting yang melekat di dalamnya.

Sebagai sampling kami memilih beberapa SMA, SMK dan MA, baik negeri maupun swasta, juga PT negeri yang berada di bawah Kemenristek-Dikti dan Kemenag serta PT swasta yang keseluruhannya mewakili peta keragaman dan ketersebaran institusi pendidikan menengah atas dan tinggi di masing-masing kota tersebut. Melalui observasi, survey, FGD, dan wawancara mendalam, penelitian ini pertama-tama berusaha mengidentifikasi buku-buku yang beredar di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Di luar aspek-aspek geografis literatur, yang meliputi judul, pengarang, penerbit dan ketersebarannya (availability), penelitian ini juga berusaha untuk memahami isi, tipologi, dan ideologi yang berkembang dalam literatur-literatur tersebut serta tingkat keberterimaannya (accessibility) di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kerentanan kaum muda Indonesia, khususnya pelajar dan mahasiswa, terhadap radikalisme, ekstremisme, dan terorisme berkait erat dengan kegamangan mereka menghadapi problem-problem struktural dan ketidakpastian masa depan. Ekspansi teknologi komunikasi, yang dipicu penemuan internet, meruntuhkan jarak-jarak spasial dan sosial yang akhirnya melipatgandakan kegamangan tersebut.

Dampak paling nyata dari perubahan ini tentu saja dirasakan oleh generasi milineal. Lahir dalam rentang 25 tahun terakhir, mereka tumbuh dan besar dalam dominasi budaya digital yang erat bersinggungan dengan penyebaran pola konsumsi dan gaya hidup instan. Generasi ini terbiasa menyederhanakan gambaran tentang dunia yang begitu kompleks ke dalam layar smartphone yang dapat diklik dengan mudah untuk menemukan ‘apapun yang dibutuhkan’. Kefrustrasian dapat dengan mudah menghinggapi ketika dunia virtual kerap berbeda dengan dunia nyata penuh paradoks yang mereka hadapi.

Dalam situasi serba tidak pasti generasi milineal berhadapan langsung dengan masifnya pengaruh ideologi Islamis yang datang menawarkan harapan dan mimpi tentang perubahan dan masa depan yang lebih bersinar. Dibangun di atas narasi yang menekankan pentingnya semangat kembali kepada dasar-dasar fundamental Islam dan keteladanan generasi awal, ia berusaha membuat jarak dan demarkasi antara Islam dengan dunia terbuka (open society) yang digambarkan penuh dosa-dosa bid’ah, syirik, immoralitas dan kekafiran.

Kegagalan melakukan hal ini dipandang sebagai hal utama yang bertanggungjawab di balik keterpurukan umat Islam berhadapan dengan dominasi politik, ekonomi dan budaya sekular Barat. Khilafah didengungkan sebagai kunci untuk mengembalikan kejayaan Islam. Meskipun bersifat utopis, ideologi Islamis ternyata memiliki daya tarik terutama karena kemampuannya menawarkan pembacaan yang ‘koheren’ dan ‘solutif’ atas berbagai persoalan kekinian serta mengartikulasi rasa ketidakadilan dan membingkai semangat perlawanan terhadap kemapanan.

Peran literatur keislaman dalam persemaian ideologi Islamis di kalangan pelajar dan mahasiswa sangatlah signifikan. Ideologi Islamis umumnya menyusup melalui buku-buku dan bacaan keagamaan yang menyebar di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pada kenyataannya, literatur yang berusaha menjajakan ideologi Islamis—yang berpusat pada tuntutan tentang totalitas penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan dan bermuara pada keinginan untuk mengganti sistem negara-bangsa demokratis dengan khilafah bahkan jika perlu ditempuh dengan kekerasan—hadir mencolok, membanjiri arena dan landskap sosial di sekitar SMA dan Perguruan Tinggi Indonesia.

Target utamanya tentulah pelajar dan mahasiswa, yang dianggap potensial untuk direkrut menjadi kader baru yang menopang keberlangsungan dan penyebaran lebih lanjut ideologi tersebut. Beragam buku, referensi, dan majalah keislaman tumpah ruah di hadapan mereka, menawarkan cara baca dan pemahaman yang beragam terhadap Islam dan dunia. Dari isi, pendekatan, dan gaya persuasi yang dikembangkan, buku-buku tersebut dapat dikategorikan menjadi jihadis, tahriri, tarbawi, salafi dan Islamisme popular.

Literatur-literatur itu diproduksi oleh berbagai penerbit yang berafilisasi dengan gerakan-gerakan dan organisasi Islamis yang berkembang di berbagai kota di Indonesia. Solo menjadi kota yang paling banyak melahirkan penerbit yang aktif memproduksi literatur Islamisme, diikuti Yogyakarta, Jakarta dan Bogor. Dalam konteks ini peran agency jelas tidak bisa diabaikan. Ada hubungan yang paralel antara pertumbuhan produksi literatur keislaman di sebuah kota dengan perkembangan gerakan-gerakan Islamis di kota tersebut.

Solo menjadi rumah utama bagi penerbit-penerbit dan toko buku semisal Jazera, Arafah, Aqwam, Al Qowam, dan Gazza Media, yang memiliki kedekatan dengan Pesantren Ngruki dan aktif memproduksi buku-buku yang jihadisme di Indonesia. Penerbit Era Adicitra Intermedia yang gencar menerbitkan buku-buku bercorak tarbawi juga bermarkas di Solo. Demikian halnya Al-Ghuroba, Zamzam, dan al-Qalam (Solo) yang menerbitkan buku-buku bercorak Salafi, juga melebarkan sayap pengaruhnya melalui Solo.

Counterpart-nya memang ada di beberapa kota lain, misalnya Al-Qamar Media (Yogyakarta), Pustaka Ibnu Umar (Bogor), Pustaka At-Taqwa (Bogor), Darul Haq (Jakarta) Pustaka Imam Adz-Dzahabi (Bekasi), Pustaka Imam asy-Syafi’i (Bekasi), dan Risalah Ilmu (Cibubur).

Di Yogyakarta terdapat penerbit Pro-U Media yang terhubung dengan Masjid Jogokaryan dan aktif memproduksi literatur tarbawi dalam berbagai genre, termasuk yang bercorak popular. Di Jakarta dan Bogor berkembang Al-Fatih Press dan Khilafah Press, yang gigih menerbitkan buku-buku yang memuat pesan tentang pentingnya perjuangan menegakkan khilafah, baik secara eksplisit maupun implisit.

Merespons gencarnya serbuan literatur keislaman yang berusaha menjajakan ideologi Islamis dengan berbagai variannya, pemerintah melalui kementerian terkait melakukan berbagai terobosan, di antaranya dengan menerbitkan buku standard PAI bagi pelajar SMA berjudul Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Mengikuti kurikulum 2013 buku ini berusaha menyajikan materi keislaman yang bercorak “moderat-progresif”, dengan penekanan tertentu terhadap pendidikan karakter.

Sekalipun ada beberapa hal yang agak vague, misalnya terkait narasi tentang tokoh-tokoh pembaru Islam dan kesetaraan gender, pesan tentang toleransi dan anti radikalisme serta kekerasan hadir signifikan dalam buku ini. Buku ini menjadi pegangan utama bagi pelajar SMA seluruh Indonesia yang, berbeda dengan generasi muda Muslim 1980-an, sudah tidak meminati lagi karya-karya ideolog Islamis klasik seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la al’Mawdudi dan Ayatullah Khomeini.

Di Madrasah Aliyah situasinya tidak jauh berbeda. Buku-buku yang dijadikan pegangan utama di kelas adalah buku-buku terbitan Kementrian Agama yang bercita-cita “menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan umat beragama”, sebagaimana dinyatakan tegas oleh Dirjen Pendis dalam kata pengantar buku-buku tersebut.

Namun di beberapa tempat masih terdapat gap antara cita-cita dan kenyataan yang ada dalam buku. Bab “Indahnya Hidupku dengan Menjaga Toleransi dan Etika dalam Pergaulan”, misalnya, meskipun mengutip banyak ayat dan hadis yang mendukung toleransi, tampak masih menekankan kewaspadaan dan kecurigaan dalam praktik membangun relasi antar agama.

Masalah khilafah juga dibahas di dalam buku Fiqih kelas XII dengan maksud memperluas cakrawala kesejarahan pelajar. Sekalipun penekannya pada aspek kesejarahan khilafah, hal ini tak pelak dapat menjadi titik bermasalah bagi para pelajar, jika tidak disertai penjelasan dan kontekstualisasi yang memadai.

Gambaran berbeda kita dapatkan menyangkut buku Pendidikan Agama Islam Bagi Mahasiswa terbitan Kemenristek-Dikti (2016) yang memuat topik-topik di seputar bagaimana manusia bertuhan dan agama menjamin kebahagiaan, konsep insan kamil, paradigma Qur’ani, membumikan Islam di Indonesia, peran Islam dalam membangun persatuan dan keberagaman, Islam menghadapi tantangan modernisasi, peran dan fungsi masjid kampus dalam pengembangan budaya Islam, serta masalah zakat dan pajak.

Namun buku yang disebarkan secara resmi oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek-Dikti kepada Pimpinan PTN, Koordinator Kopertis I s.d. XIV, dan Pimpinan PT di Kementerian dan lembaga lain ini gagal menempatkan dirinya sebagai bacaan utama dalam mata kuliah PAI di perguruan tinggi.

Alih-alih, dosen mendorong mahasiswa membaca literatur karya dosen itu sendiri atau hasil kompilasi mereka atas bacaan dari berbagai sumber dalam bentuk modul-modul, handout serta slide presentasi. Jika tidak, mereka akan menengok buku-buku keislaman klasik atau buku-buku daras yang tersedia di pasaran, misalnya Dasar-Dasar Agama Islam: Buku Teks Pendidikan Agama Islam dan Perguruan Tinggi Umum disusun Zakiah Daradjat, dkk (Jakarta: Bulan Bintang), Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim ditulis oleh Muhammad Alim (Bandung: Remaja Rosdakarya), dan Pendidikan Agama Islam karya Toto Suryana Af, dkk. (Bandung: Tiga Mutiara).

Walaupun demikian, celah bagi literatur keislaman bermuatan ideologi Islamis masih cukup terbuka untuk memengaruhi aspirasi dan pandangan para pelajar dan mahasiswa. Celah tersebut masih terbuka bukan saja karena beberapa ketidakjelasan arah diskusi yang dikembangkan dan ketidakpercayaan stakeholders—terutama untuk PAI perguruan tinggi—terhadap buku-buku tersebut, namun juga karena penekanan yang berlebihan terhadap isu-isu moralitas dan pendidikan karakter.

Hal terakhir ini melipatgandakan kegamangan kaum muda, terutama pelajar dan mahasiswa, menghadapi masa depan, yang diperparah terjangan isu ‘kepanikan moral’ sebagai akibat meluasnya pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika dan kenakalan khas remaja dan kaum muda lainnya.

Mereka kemudian berupaya untuk membentengi diri dengan mengeksplorasi lebih jauh literatur-literatur keislaman yang memberi pesan kuat tentang dekandensi moral yang melanda umat sebagai dampak ekspansi budaya sekuler Barat atau dunia kontemporer yang digambarkan penuh dosa-dosa bid’ah dan kekafiran—hal yang hanya bisa diatasi dengan penerapan syariah secara menyeluruh. Jika tidak, mereka akan berusaha mencari literatur yang muatan ideologisnya lebih ringan, namun tetap menekankan pentingnya moralitas dan religiusitas.

Di sinilah literatur bercorak jihadi, tahriri, salafi, tarbawi, dan Islamisme popular menemukan celah untuk masuk ke dalam alam pikiran pelajar dan mahasiswa.

Piramida penyebaran literatur keislaman ideologis
Meskipun dalam skala terbatas, literatur jihadi—yang menggambarkan dunia saat ini berada dalam situasi perang menyeluruh sebagai akibat diabaikannya kedaulatan mutlak ilahi dan karena itu, menekankan keharusan bagi umat Islam mengobarkan jihad di manapun mereka berada—mengisi peta literatur keislaman di tanah air.

Di antara buku jihadi yang laku dan mengemuka adalah Tarbiyah Jihadiyah karya Abdullah Azzam dan Jihad Jalan Kami karya Abdul Baqi Ramdhun. Masing-masing diterbitkan Jazera dan Era Intermedia, yang keduanya berbasis di Solo. Selain kedua buku itu, Kepada Aktivis Muslim karya Najih Ibrahim terbitan Aqwam Solo juga diakses dan dibaca oleh sebagian pelajar dan mahasiswa di beberapa kota di Indonesia.

Literatur tahriri mengintip di belakangnya dan berhasil—dalam skala yang lebih luas dibanding literatur jihadi—menyebarkan pengaruhnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Gagasan revitalisasi khilafah yang ditekankan dalam literatur tersebut sebagai jalan mengembalikan kejayaan Islam rupanya berhasil menenangkan kegalauan mereka terhadap situasi yang dirasakan penuh ketidakadilan sekaligus membantu mereka membangun harapan tentang masa depan yang lebih gemilang.

Literatur jenis ini meliputi buku-buku terjemahan karya Taqiyyuddin An-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum, pendiri dan ideolog utama Hizbut Tahrir. Dalam perkembanganya para aktivis Hizbut Tahrir atau simpatisan mereka mengadaptasi dan mengapropriasi ide-ide tahriri ke dalam bahasa yang lugas, sederhana dan sesuai dengan aspirasi kaum muda Muslim saat ini.

Termasuk dalam kategori ini dua buku karya Felix J. Siauw, penulis dan ustadz kondang di kalangan kaum muda yang sangat aktif di media sosial, yang berjudul Beyond the Inspiration dan Muhammad Al-Fatih 1453. Kedua buku yang diterbitkan Al-Fatih Press ini banyak dibaca dan beredar di kelompok-kelompok mentoring keislaman baik di SMA maupun perguruan tinggi.

Literatur salafi juga berhasil mengembangkan pengaruhnya di kalangan pelajar dan mahasiswa, bahkan lebih menonjol dibandingkan literatur tahriri. Bagi pelajar dan mahasiswa buku-buku salafi menarik karena berhasil membangun demarkasi atas dunia kekinian yang dibayangkan berlumuran dosa bid‘ah, syirik, immoralitas dan kekafiran, di satu sisi, dan dunia ideal yang diyakini mendatangkan keselamatan dan kepastian, di sisi lain.

Buku-buku tersebut sekaligus menawarkan landasan untuk mengklaim identitas dan otentisitas dalam beragama karena memiliki rujukan yang kuat terhadap sumber-sumber utama Islam. Di antara literatur salafi yang membidik pelajar dan mahasiswa adalah buku-buku terjemahan karya Aidh al-Qarni, semisal La Tahzan dan Pelajar Berprestasi yang keduanya diterbitkan Qisthi Press. Literatur salafi yang lebih klasik, semisal karya-karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, ataupun literatur salafi yang ditulis otoritas salafi kontemporer seperti Nasir al-Din al-Albani dan Muhammad Salih al-Usaimin, juga banyak beredar di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Dibandingkan literatur salafi, buku-buku tarbawi yang membawa misi menyebarkan ideologi Ikhwanul Muslimin—yang berhasrat mengubah tatanan politik yang berlaku saat ini—berhasil menancapkan akar secara lebih luas dan mendalam di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pertumbuhan literatur-literatur tarbawi di Indonesia sejalan dengan perkembangan gerakan tarbiyah di kampus-kampus yang bertransformasi menjadi partai politik (PK-PKS) di akhir tahun 1990-an.

Corak awal dari literatur tarbiyah adalah terjemahan karya-karya ideolog Ikhwanul Muslimin seperti Hasan Al-Banna, Sayyid Qutb, dan Said Hawwa. Buku-buku ini beredar dan dibaca mahasiswa yang aktif di kelompok-kelompok studi dan halaqah-halaqah di kampus, terutama yang berkembang pada dekade 1980-1990-an.

Dalam konteks kekinian literatur tarbawi yang banyak disebut dan dikonsumsi oleh pelajar dan mahasiswa adalah buku-buku yang mengapropriasi misi ideologis Banna, Qutb dan Hawwa menjadi pesan perubahan yang menempuh jalan bertahap, dengan terlebih dahulu menanamkan moralitas dan komitmen keberislaman. Contohnya adalah karya Salim A Fillah; Jalan Cinta Para Pejuang, Saksikan Aku Seorang Muslim, dan Dalam Dekapan Ukhwah, serta karya-karya Solikhin Abu Izzuddin berjudul Zero to Hero: Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa dan New Quantum Tarbiyah: Membentuk Kader Dahsyat Full Manfaat.

Menarik untuk ditekankan bahwa jika literatur tahriri, salafi dan tarbawi berhasil dalam beberapa tingkat mengambil hati sebagian pelajar dan mahasiswa, literatur jihadi tampaknya mengalami kegagalan signifikan. Sekalipun tersedia cukup memadai, pengaruhnya tetap terbatas di kalangan yang selama ini telah bersentuhan secara intens dengan simpul-simpul dan tokoh-tokoh gerakan jihadis ataupun institusi yang mendukungnya.

Ini terutama karena literatur jihadi memberikan pilihan yang serba hitam-putih kepada kaum muda dan memaksa mereka untuk mengikuti kode prilaku dan tindakan tertentu yang berbahaya. Usaha pemerintah yang gencar mengobarkan perang melawan terorisme, yang didukung kekuatan-kekuatan masyarakat sipil, memberi sumbangan tertentu terhadap gagalnya literatur jihadi memperluas pengaruhnya.

Lebih nyata lagi, tokoh-tokoh yang aktif dalam gerakan salafi juga menulis buku-buku yang berusaha mendelegitimasi ideologi jihadis. Contohnya adalah karya Lukman Ba’abduh, Mereka Adalah Teroris, yang menjawab klaim pembenaran Imam Samudra atas aksi pengeboman di Bali dengan menulis buku Aku Melawan Teroris!

Menghadapi serbuan literatur keislaman, kaum muda milineal rupanya tetap memiliki daya seleksi, adaptasi, dan apropriasi, mengikuti kecenderungan mereka sebagai generasi milineal yang tumbuh dalam arus budaya digital yang konsumtif. Sesuai ekspresi kultural dan suasana kebatinan kaum muda (youthfulness), mereka tidak mudah terbawa ke dalam pusaran ideologi tertentu, apalagi yang ingin mendikte dan mengunci mereka dengan pilihan yang serba kaku dan hitam-putih.

Alih-alih, pelajar dan mahasiswa mencoba mencari literatur yang dapat memahami suasana hati dan identitas budaya mereka, sambil menunjukkan jalan bagaimana menyelesaikan problem-problem keseharian yang mereka temui sekaligus membangun optimisme menghadapi tantangan kekinian dan harapan masa depan.

Dalam konteks inilah buku-buku dan majalah keislaman yang mengusung tema-tema keseharian dan popular rupanya mendapat tempat yang sangat penting di kalangan pelajar dan mahasiswa. Pengaruhnya paling luas dibandingkan dengan corak-corak literatur keislaman yang dijelaskan di atas. Kuncinya antara lain, literatur Islamisme popular mengemas isi dengan renyah dan trendy serta menawarkan berbagai tuntunan praktis dalam mengarungi kehidupan, sekalipun disisipi dengan pesan-pesan ideologis.

Disuguhkan dengan corak fiksi, popular dan komik, ia menyodorkan narasi-narasi pendek dengan bahasa sederhana yang tidak menggurui, dan dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik. Dengan cara demikian, ia mampu masuk ke dalam alam pikiran kaum muda seiring usaha mereka mencari berbagai alternatif mengatasi dilemma dan paradoks kehidupan yang sedang mereka hadapi.

Di antara buku-buku yang masuk dalam kategori Islamisme popular adalah 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam Eropa karya Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra, Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Api Tauhid karya Habiburrahman el-Shirazy, Negeri 5 Menara karya A. Fuadi, dan beberapa karya Tere Liye seperti Hapalan Shalat Delisa. Contoh lain adalah karya-karya bergenre motivasi, seperti La Tahzan for Hijabers karya Asma Nadia, La Tahzan Untuk Para Pencari Jodoh besutan Riyadus Shalihin Emka, La Tahzan for Jomblo karya Nasukha Ibnu Thobari dan Man Shabara Zhafira: Success in Life with Persistence, karya Ahmad Rifai Rif’an. Tak kalah penting buku-buku karya Felix J Siauw seperti Udah Putusin Aja! dan Yuk Berhijab!

Rekomendasi
Sebagai bagian dari signifikansi sosial penelitian ini, di bawah ini terdapat poin-poin rekomendasi yang penting dipertimbangkan oleh pemerintah, para pemangku kepentingan dan masyarakat luas.

1. Kurikulum, materi, dan buku-buku PAI di SMA-MA dan Perguruan Tinggi perlu terus disempurnakan dengan berpijak pada apa yang ada dan capaian yang telah diraih saat ini. Satu hal yang dapat segera dilakukan oleh Kemenag, Kemendikbud, dan Kemenristek Dikti adalah mempersolid kurikulum dan materi PAI di semua jenjang pendidikan untuk mendukung tercapainya tujuan kerukunan, perdamaian dan berkembangnya Islam yang moderat.

2. Untuk mengimbangi penyebaran pengaruh literatur keislaman ideologis yang disebarkan jaringan penerbit Islamis, pemerintah juga perlu memperkuat literatur keislaman yang mengemban misi menyemai Islam arus-utama bercorak moderat, yang dapat dijadikan buku pegangan tambahan bagi pelajar dan mahasiswa dalam mempelajari Islam.

3. Penyediaan literatur Islam moderat perlu diikuti dengan penguatan kesadaran dan perluasan wawasan seluruh stakeholder yang terlibat dalam pengajaran agama Islam di sekolah dan perguruan tinggi, terutama guru dan dosen, sehingga mereka dapat dengan baik menjelaskan isu literatur tersebut.

4. Penekanan berlebihan pada pendidikan karakter, yang seolah-olah menuntut seluruh pelajar dan mahasiswa menjalani pendidikan dalam bayang-bayang keharusan menjadi pribadi yang berkarakter dan religius, perlu dikurangi jika pemerintah belum mampu menyediakan literatur terkait yang proporsional, tepat dan memadai, serta mampu membaca dan memahami jalan pikiran kaum muda. Ketiadaan literatur semacam itu hanya akan memberi jalan bagi literatur-literatur keislaman ideologis berkembang lebih jauh dan menancapkan pengaruhnya di kalangan pelajar dan mahasiswa melalui kegiatan-kegiatan keislaman luar kelas.

5. Jika tidak melakukan kontrol dan pembatasan atas literatur keislaman yang dapat diedarkan di pasaran, pemerintah bisa mengimbangi penyebaran literatur keislaman ideologis yang berbahaya dengan mendorong publikasi buku-buku yang mengusung misi penyemaian Islam arus-utama yang moderat, termasuk karya-karya terjemahan penulis Muslim progresif dari berbagai belahan dunia, oleh penerbit-penerbit swasta dengan insentif tertentu yang menggairahkan.

6. Karena ditujukan bagi pelajar dan mahasiswa, karya-karya semacam itu harus ditulis dengan gaya popular dan isinya dikemas dengan renyah dan trendy menawarkan berbagai tuntunan praktis dalam mengarungi tantangan-tantangan kehidupan, tanpa mendikte secara berlebihan. Karya-karya itu dapat disuguhkan dengan corak fiksi dan komik atau corak lainnya yang popular.

Keterangan:
Executive Summary ini hasil riset Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang bekerjasama dengan PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan PusPIDep Yogyakarta. Judul diubah oleh Dutaislam.com dari judul asli: Literatur Keislaman Generasi Milenial.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini