Rabu, 03 Januari 2018

Hebat! Tantang Putin di Pilpres Rusia 2018, Aina Gamzatova Kampanyekan Anti Wahabi

Aina Gamzatova, perempuan Muslimah ini akan menantang Vladimir Putin dalam pemilihan presiden Rusia 2018. (sumber: tempo.co)
DutaIslam.Com - Vladimir Putin akan menghadapi Aina Gamzatova, seorang perempuang Muslim berhijab asal Dagestan dalam pemilu presiden Rusia yang akan berlangsung pada Maret 2018.

Seperti dilansir Aljazeera, Ahad 31 Desember 2017, Gamzatova, 46 tahun, menyatakan pencalonannya melalui Facebook.

Deklarasi itu disambut suka cita oleh ratusan pendukungnya di Makhachkala, ibu kota Dagestan pada Sabtu lalu. Para pendukunganya berkumpul di jalanan kota untuk melakukan selebrasi. Dagestan merupakan wilayah Rusia yang memiliki penduduk dengan mayoritas beragama Islam.

Dalam kampanyenya, dia ingin Kremlin semakin keras terhadap pejuang yang ingin mendirikan negara yang terpisah di Kaukasus Utara di bawah hukum Islam.

“Saya mendukung sikap anti-Wahhabisme setelah pemerintah daerah maupun beberapa pejabat federal yang bertanggung jawab atas wilayah tersebut telah mencoba untuk diam dalam beberapa tahun terakhir.”

Maraknya kelompok bersenjata di Rusia berasal dari awal 1990-an, ketika ratusan pejuang dari dunia Muslim bergabung dengan kelompok separatis di negara tetangga Chechnya.

Banyak orang Saudi, dan doktrin mereka melarang Sufi sebagai “orang musyrik” yang memuliakan “orang-orang kudus” dan tempat-tempat suci.

Gamzatova merupakan anggota kelompok sufi yang dipimpin mendiang Said-Afandi Chirkavi. Ulama ini tewas akibat serangan perempuan pembom bunuh diri di Kaukus pada 2012.

Gamzatova juga bukan sembarang perempuan. Dia merupakan kepala dari grup media muslim terbesar Rusia, Islam.ru. Grup itu terdiri atas stasun televisi, radio, surat kabar, serta penerbit buku-buku Islam.

Sumber: Al Jazeera
Adapun suaminya, Akhmad Abdulaev, adalah seorang mufti di Dagestan. Abdulaev adalah suami kedua Gamzatova. Suami pertamanya Said Muhammad Abubakarov, meninggal pada 1998 dalam ledakan bom mobil di Dagestan. Pembunuhnya tak pernah ditemukan namun ia secara umum mengecam "Wahabi", istilah yang sering dia gunakan untuk menggambarkan para petempur yang banyak berasal dari Arab dan ia katakan akan ia hadapi dengan tegas.

"Mereka haus darah", katanya dalam berbagai buku dan pernyataan, walaupun ia sering mendapat ancaman mati.

Bangkitnya kelompok bersenjata di Rusia dimulai pada awal 1990 saat ratusan petempur bergabung dengan separatis di Chechnya.

Sejak 2013, para petempur dari Kaukasus Utara banyak yang mengikuti kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS di Suriah dan Irak.

Gamzatova mengatakan masalahnya masih jauh dari selesai walaupun pemerintah-pemerintah daerah mulai melakukan dialog dengan para petempur. [dutaislam.com/gg]

Keterangan: diolah dari tempo.co dan bbc.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini