Senin, 11 Desember 2017

Perbedaan Felix dan Abu Janda Setelah Dikritik Mahfud MD di ILC

Permadi Arya, Mahfud MD, Felix Siau di ILC. Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Belum lama TVOne menyajikan sebuah diskusi soal Reuni 212. Dua orang yang menjadi sorotan dan ramai di Media Sosial (Medsos) diantaranya Ustad Felix Siauw dan Pegiat Medsos Permadi Arya atau Abu Janda.Abu Janda dan Felix saling berdebat dan adu argumentasi. Meskipun pada akhirnya keduanya sama-sama dikritik oleh Mantan Ketua MK Mahfud MD karena argumennya dinilai lemah.

Abu Janda dikritik mengenai pandangannya soal Hadis Nabi yang mulai dibukukan setelah 200 tahun nabi wafat. Sedangkan Felix dikritik soal pandangannnya tentang khilafah. Mahfud menegaskan bahwa khilafa tidak ada sistem baku di dalam Al Qur’an atau hadis. Khilafah adalah produk ulama. Sehingga hanya sebuah pilihan. Bukan kewajiban sebagaimana dikatakan Felix. Dilihat dari fakta sejarah, sistem khilafa juga berbeda-beda di dalam Islam. Mahfud mengatakan, menegakkan lhilafah di Indonesia merupakan pelanggaran terhadap Pancasila dan NKRI.

Bagaimana sikap Felix dan Abu Janda setelah dikritik oleh sosok yang lebih senior dan lebih berpengalaman baik dari sisi agama, hukum, maupun bernegara?

Sikap Felix dan Abu Janda berbeda drastis. Abu Janda menerima kritik tersebut. Untuk tidak semakin memperkeruh suasana, dia pun minta maaf secara terbuka. Dia menyadari ada kesalahan dalam ucapannya. Dia menyadari sebagai manusia bisa salah, baik dalam berucap maupun cara berpikir. 

Sikap berbeda yang berbeda ditunjukkan Felix. Felix masih tetap dengan pandangan dan keyakinannnya. Dia tak mau membuka diri dengan pandangan-pandangan yang lain yang bersebarangan di luar dirinya. Mungkin saja pandangannya soal khilafah sudah dijadikan sebagai iman yang tidak membutuhkan penalaran logika dan pemikiran rasional.

Felix merupakan membela khilafah. Ketika Mahfud MD menantang debat soal khilafah seharusnya Felix menjadi orang yang paling depan angkat suara dan memberikan alasan-alasan logis dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun dalil-dalil agama. Sebenarnya ini bukan perkara wajib bagi Felix. Tapi sebagai orang yang kalau mau disebut publik figur seharusnya Felix bisa menyatakan sikap dan mengemukakan pandangan-pandangannya menjawab tantangan Mahfud MD. Inilah sikap kesatria.

Dari sini kita musti banyak belajar bahwa dunia pemikiran dan pengetahuan sangat komplek. Begitu juga pemahaman tentang agama. Sehingga dialog untuk melihat kesamaan pandangan mutlaq diperlukan. Membuka diri dengan pandangan yang berbeda ada kunci kedamaian dan persatuan.

Indonesia merupakan negara hiterogen dengan beragam suku dan dan agama. Tegaknya NKRI tak lain karena kesamaan tujuan dan legowo menerima segala perbedaan. Ini dapat dipahami kalau kita mau mengambil ibrah. Semoga tuhan memberikan kita petunjuk. [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini