Selasa, 12 Desember 2017

NU dalam Kerendahan Hati Ulama NU

Gambar: Istimewa
Oleh Hasan Basri Lombok

DutaIslam.Com - Setiap kali pulang kampung, saya biasa berdiskusi dengan dua saudara saya yang seprofesi : ustadz kampung. Satu sangat ahli di bidang nahwu dan shorof, dan 'arudh. Pada awalnya tidak tertarik pada tasauf, mendalami fikih belasan tahun pada seorang Tuan Guru sepuh yang tidak jauh dari kampung kami. Tapi belakangan sudah menamatkan "lathifah shugro" dalam tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Selalu mengoreksi saya kalau menulis tarekat "Qadiriyah", dan menurutnya lebih pas "Qodiriyah" karena "Qadiriyah" itu berbau Muktazilah, katanya.

Mursyidnya seorang Tuan Guru sepuh yang sanadnya bersambung kepada Tuan Guru Shiddiq Karang Kelok, Mataram: salah satu dari dua khalifah Allahuyarhamu Syeikh Abdul Karim Banten di pulau Lombok. Satunya lagi adalah Tuan Guru Amin Pejeruk, Ampenan, Mataram. Jadi, keberadaan Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah (TQN) di tanah kami termasuk awal jika ditarik dari pendirinya, Al-Murrsyidul Kaamil Syeikh Ahmad Khatib Sambas yang konon memiliki nasab ke pulau tetangga kami, pulau Sumbawa.

Saudara saya ini jago ceramah, terutama untuk kalangan umum. Bahasanya mudah dipahami. Di sela ceramah sering unjuk kemampuan kaidah bahasa Arabnya. Keahliannya di bidang bahasa dan fikih menjadi daya tarik masyarakat. Tidak heran kalau belakangan rumahnya padat jamaah, jadwal "ngaji" juga demikian; tua muda, pensiunan swasta maupun negeri, sebagian sudah ustadz juga tapi masih haus menimba ilmu pada yang lebih mumpuni, dan demikianlah tradisi pengetahuan panjang dalam masyarakat tradisional Islam di negeri ini mempraktekkan kewajiban menuntut pencerahan.

Satu lagi, lebih muda, dan lebih enerjik. Dari masih remaja sudah baiat TQN pada si Mbah  kami di Kampung yang sanadnya justru bersambung ke Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Di keluarga kami, tradisi berbaiat dini memang dianjurkan, tapi kakak ini saja yang sam'an wa thoatan mengikutinya. Saudara yang lain tidak menangkap pesan penting dari tradisi keluarga soal pentingdan mendasarnya bersuluk sejak dini. Mengaji dari satu Tuan Guru ke Tuang Guru lain. Memberanikan diri membuka pengajian di rumahnya. Awalnya adalah sebagai kumpulan mujahadahan para pengamal TQN bersanad Darul Ulum, Jombang. Kumpulan mujahadahan kemudian sesuai kebutuhan, dikembangkan menjadi pengajian rutin. Mendapatkan stimulan semangat dan dukungan penuh dari Guru kami, KH.Mudjib Musta'in, pengasuh pesantren Darul Ulum Agung, Malang sehingga kakak saya semakin teguh hati dan istiqomah menjalankan tugas kemasyarakatan walaupun aral semakin menumpuk.

Saya katakan enerjik, kakak satu ini merangkap guru "bela diri": bakat yang sudah tampak sewaktu kami masih di bangku sekolah dasar. Kemampuan bela dirinya menggabungkan tradisi pencak kampung dengan Win Chun (salah satu aliran bela diri Tiongkok). Ramailah para penggema bela diri dan para pesuluk bertandang ke rumahnya.

Saya menikmati obrolan malam di antara kami. Tapi belakangan, kedua kakak saya risau dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang kita sama cintai dan imani. Fenomena pembusukan dalam tubuh organisasi yang mereka baca dan dengar sangat lah membikin masygul. Mereka sering bertanya kepada saya soal keputusan kontroversi Kiai Said atau Kiai lainnya dalam kapasitas para beliau sebagai punggawa NU. Padahal saya tidak sepenuhnya memahami dinamika NU belakangan. Apalagi setelah demo 411 dan 212 terjadi, pertanyaan soal NU di kampung kami semakin deras. NU sepertinya terdesak justeru oleh orang-orangnya yang mengolalanya.

Begitulah kesannya secara umum. Saya "ngeles" dengan menceritakan kepada keduanya tentang gus-gus, kiai-kiai pesantren yang masih setia merawat NU walaupun tidak bersedia dimedsoskan atau diselebkan. Tapi yang saya kagumi dari kedua saudara saya ini, kemasygulannya adalah menefestasi dari kecintaannya kepada Ormas yang diwariskan para ulama kaliber. Tidak terbetik samasekali dari keduanya untuk pindah ormas, apalagi rencana mendirikan ormas baru seperti ramai diandaikan teman teman saya di Jawa.

Beberapa malam lalu, saya terlibat diskusi soal NU dengan kakak saya ustadz cum guru SMK cum jago silat itu. NU hari ini dipelihara oleh mereka yang masih setia menemani nahdliyin di akar rumput. Kami mengagumi guru kami yang memilki jamaah jutaan di Nusantara, tapi tidak pernah mengklaim itu sebagai pengikutnya,tapi para murid dan jamaah itu merupakan "tinggalan" dari abah dan mbah beliau. Menjadi 'murysid' hampir kebetulan,papra beliau. Ini bentuk kerendah-hatian guru kami. Tidak seperti sebagaian kalangan yang main klaim pengikut,. Kesannya sangat dinastik, seakan pengikutnya adalah kerja kerasnya, bukan rangkaian ibadah dari leluhurnya.

Sepulang dari rumahnya, saya tidak bisa tidur. Siapa sih yang tidak sedih melihat NU hari ini. Saya juga sudah lama mencoba menulis tentang awal-awal pendirian NU dari hasil riset pribadi saya. Saya ingat pandangan sinis beberap teman-temankuliah yang beraliran "gagah", seperti Anarkis, Kiri, Feminis, Kanan,Kafir, dan lainnya ketika saya menegaskan posisi saya sebagai orang pesantren. Saya selalu berseloroh, " NU bukan soal ideologi tapi benar-benar urusan aqidah alias iman".  Mereka menganggap saya (mungkin juga temam Nahdliyin saya) romantik,berlebihan dan kolot sekaligus. Orang pesantren sebaiknya tidak berisme baru, tapi tetap mengapresiasi banyak hal. Orang pesantren suka Marxisme; orang pesantren suka apalagi,adalah wajar-wajar saja.

Tadi saya sempat diskusi soal NU dengan seorang putera Kiai dari Bali. Menurutnya, para pendiri NU adalah para kaliber ruhani sehingga  NU berdiri sampai hari ini dengan segala peluh dan remuk-redamnya,tapi kita tidak dapat membayangkan sebuah ormas jika didirikan oleh generasi pesantren hari ini yang mulai ndak betah riyadah ruhani. NU sudah mendekati 'pas" seabad, doa dan pemeliharaan ulama masa lalu belum expired (insya Allah).

Saya mengamini, dan saya melanjutkan argumen Lora tersebut: jika merenungi pendirian NU, mengingatkan kita pada hadist Kanjeng Nabi SAW. Ketika beliau ditanya, apa perhubungan beliau dengan para Nabi dan Rasul sebelum beliau? " Aku tak lebih dari seorang penambal genteng bocor" dari bangunan tetinggalan para Nabi dan Rasul sebelumku (kurang lebih begitu walaupun tidak persis). Subhanallah, manusia sempurna yang dari beliau memancar segenap ciptaan, tajalliyat Gusti Allah terbesar memisalkan diri sebagai tukang tambal bangunan bocor. Saya merinding mengingat hadist ini. Saya jadi mengerti bahawa batu bata keyakinan saya itu bernama kerendahatian dan tawadhu'.

Dan saya yakin, ketika Mbah Khalil Bangkalan mengirim sinyal ke Jombang via Mbah As'ad Asembagus, Sukareja, Situbondo agar Mbah Hasyim Asy'arie dkk segera mendirikan NU sebagai sebuah ikhtiar akhir untuk menyelamatkan tradisi Islam tradisional Indonesia yang tidak direkognisi kelompok lain, dan saya yakin beliau-beliau berteladan kepada Kanjeng Nabi SAW bahwa NU tidak lebih dari "tambalan" bagi genteng atau tembok "bangunan" Islam tetinggalan para Wali Songo dan para leluhur sebelumnya. Allahumma tsabbitnaa 'ala millati Sayyidinaa Muhammad wa 'ala thariqatil masayikhil ulamaa an-nahdliyiin... [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini