Kamis, 21 Desember 2017

Panas, Selain Bilang Taek Faisol Sebut Munafiq Liberal di Puisi Gus Mus

Jhogo alias Faisol Ahmad banyak menuding Gus Mus dengan tudingan tak pantas. Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Kalau orang sudah merasa paling pintar lagi sombong maka orang lain tidak akan ada apa-apanya. Dipandang rendah dan hina lagi sesat. Kalau dia mengaku dirinya paling Islam kaffah, disebutlah orang lain yang tak sepaham liberal seenaknya sendiri.

Begitulah kelakuan pemuda yang mengaku dari Sidogiri pemilik akun Facebook Jhogo We dengan nama alamat Faishol Ahmad. Setelah menyebut Gus Mus Taek di kolom komentar postingan Tegar Adrian jogo menyesat-nyesatkan Gus Mus sebagai tersirat dalam postingan tulisan di akun Facebooknya sendiri. Tak hanya itu, Jhogo ternyata juga berkomentar munafik dan liberal di puisi Gus Mus tersebut. Baca: Bukannya Bertaubat, Penghina Gus Mus Taek Malah Tuduh Sesat Orang, Ia Dicecar


Jhogo gagal paham maksud puisi Gus Mus tentang banyaknya orang yang mengaku beragama tapi lupa tuhan karena agama dijadikan dasar untuk membunuh. Dia bilang puisi Gus Mus mengandung sekulerisme dan dapat melemahkan imam. Benarlah tuduhan Jhogo? Baca: Gagal Paham Maksud Puisi, Orang Ini Bilang Taek ke Gus Mus

Mari kita cek. Dalam Kamus Bahasa Indonesia sekularisme berarti paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. Puisi Gus Mus adalah sindiran bagi pemeluk agama yang salah paham memaknai agama. Sebaliknya tidak ditemukan kalimat dalam puisi tersebut Gus Mus hendak membuang agama.

Gus Mus merupakan kiai sepuh yang taat beragama lagi rendah hati dan bersahabat dengan banyak orang, di dunia nyata maupun di medsos. Tidak pernah menghina apalagi mengolok-olok. Tuduhan Jhogo We jelas terbantahkan. Jogo juga salah dalam menulis sekularisme. Seharusnya sekularisme tapi dia tulis sekulerisme. Satu tanda dia orang yang kurang hati-hati dan tidak teliti dalam berbicara.

Jhogo berkomentar atas puisi Gus Mus menyebut munafik-kaum liberal. Tuduhan bisa dilihat pada tulisannya ketika ikut-ikut menshare Puisi Gus Mus yang dianggapnya dapat melemahkan iman tersebut. Jhogo juga menuduh Gus Mus hendak memisahkan Islam dengan Allah.

"Setelah islam ingin di pisahkan dengan urusan berbangsa,
sekarang islam ingin di pisahkan dengan ALLAH. Betapa munafiknya kaum LIBERAL," tulis Jogjo atau Ahmad Faisol memberi caption pada puisi Gus Mus tersebut, Senin (18/12/2017)

[Duh gustiii, cara memahaminya bagaimana yah. Jadi gagal paham juga dah sama ni orang]

Postingan ngawur Jhogo lagi-lagi  banyak mendapat komentar dari teman-temannya. Jhogo yang semula samar-samar makin ketahuan siapa dia. Sebelumnya dia mengaku dari Sidogiri. Di kolom komentar Jhogo kini terang-terangan mengaku pengagum dan memlih jalan Islam ala FPI.

"Kalau saya sakin 100% persen, FPI jalanku," tulis Jhogo di kolom komentar menanggapi pertanyaan akun lain.


Keras Kepala, Nasehat Tak Mempan
Jhogo terlihat keras kepala ketika menanggapi komentarit teman-teman Facebooknya. Salah satu akun juga menilai jogo keras kepada dan ngeyelan. Bisa disimak dalam permbicaraan dikolom komentar akun bernama Husnan Rusnadi.

Padahal Husnan berusaha memberikan pemahaman yang detail mengenai tingkah laku Jhogo yang tidak sopan dan hanya melempar tuduhan. Nasehatnya begini:

“Ulama besar kamu hina. Belajar lagi yang dalam. Masih bocah tak punya adab. Iblis itu pintar, tapi masuk neraka karena sombong. Kalau komen harusnya kamu pikir-pikir dulu, kaji dengan baik dengan pelbagai ilmu tapi harus benar-benar rendah hati. Perbaiki akhlakmu. Ucapan-ucapan kotormu yang itu bagaikan taek di mulutmu. Ya mulutmu penuh taek karena hatimu dikotori taek. Jika kamu menunduk dan merenung, istighfar maka kamu akan melihat sendiri taekmu. Tapi kalau kamu tetap sombong maka taekmu itu tambah banyak dan kamu pasti bau busuk. Mau?” tulis Husnan.


Bukan menyadari dirinya telah berkata kotor, Jhogo justru meminta Husnan mengeluarkan fatwa mengenai kebenaran puisi Gus Mus. Dia tetap kekeh menilai puisi Gus Mus salah. Husnan kemudian meminta membaca lagi berulang-ulang agar paham maksud puisi tersebut. Namun, Jhogo kini ngotot minta kebenaran puisi tersebut bagi Husnan. Sampai-sampai Husnan serasa geram dengan menyebut Jhodo ngeyel dan ngelunjak.

“Dasar ngeyel. Semuanya benar. Kamu justru harus baca lagi, mana yang salah. Renungkan dan belajar. Kamu tuh salah pilih gerombolan akhirnya ikut-ikutan kasar dan menjijikkan diri sendiri,” ucap Husnan.

“Ber-Islam tidak kotor seperi itu. Bajumu putih, kok hatimu masih kotor. Diingatkan kok nglunjak. Malu-maluin Sidogiri saja,” tambahnya


Nasehat baik juga datang dari akun Tri Adi Prasetyo. Tri juga mempertanyakan kesantrian Jhogo yang katanya adalah santri Sidogiri. Sebab tidak mungkin seorang santri berani menghina kiai karena kiai yang satu dengan yang lain saling melengkapi.

”Bagaimanapun kiai yang satu melengkapi kiai yang lainnya. Ada beberapa pemikiran KH. Luthfi Bashori yang saya tidak sepakat, tapi saya tetap menghormati. Karena apa? karena saya sadar diri ilmu saya jauh dibawah Beliau. Saya yakin kalo beliau tahu tulisan anda yang menghina Gus Mus, anda akan dinasehati oleh Beliau,” katanya.

Nasehat ternyata tidak mempan bagi Jhogo. Justru dia masih ingin berdebat dengan melempar pertanyaan. “Apakah anda juga menekan mereka yang meghina Habib Rizieq?” kata pemuda yang memilih jalan FPI ini.

Tri tanpa serius ingin menasehati Jhogo. Namun bernasib sama dengan Husnan. Dibuat geram oleh keras kepalanya Jhogo. Padahal Tri juga tidak suka dengan kata-kata kotor kepada siapapun. Termasuk kepada Gus, Habib Rizieq atau yang lain.

“Saya tidak pernah bersepakat dengan akun yang menghina siapapun. termasuk ke Habib Rizieq. 2 guru saya juga seorang habib, santrinya Habib Umar. Mau sampai kapan kalau saling mencaci? Dengan mengucapkan kata Taek apakah itu menyakiti Gus Mus? saya yakin tidak. Tapi yang jelas itu sudah memuaskan nafsu anda untuk menghina. Sudah mencerminkan siapa anda. Anda berbicara makhorijul huruf (sebelumnya ada yang menyinggung masalah makhorijul huruf, Red) tapi huruf yang keluar dari mulut anda dan jempol anda adalah sampah,” tulis Tri mulai geram dengan kelakuan Jhogo alis Faisol ahad yang sok pintar ini.


Mungkin karena tertutupnya hati Jhogo, dia masih berkilah dan berkelit dengan mempertanyakan sendiri kata Taek untuk Gus Mus atau bukan. Namun langsung langsung dibantah Tri.

”Apakah ada bukti, jika gus disitu adalah bukan Gus Mus? Anda boleh pintar bermain kata, pintarnya nyundul langit, tapi jika tak punya adab, saya yakin ilmu anda tidak akan manfaat dan barokah,” katanya.

Jhogo terus berkelit dan bilang bahwa gus maksudnya adalah cah lanang. Malah dia melebar kemana-mana bicara tak jelas. Dia bilang bingung dan menuduh ketika ulama NU Said Aqil hina semua marah tapi jika NU Abdus Shomad di caci semua ikut mncaci. Padahal jelas, bahwa NU hanya satu, Nunya PBNU. Tidak ada yang lain. Dari sejak Kiai Hasyim Asyari NU tidak pernah ada dua atau tiga. NU ya NU.

Tri kemudian memberikan geram dan mungkin membuat Jhogo merenung:

”Ngeyelmu nggak berkelas, mas. Setelah anda komen, lalu anda membagikan puisi tersebut di status anda, dengan narasi yang Anda buat, jangan bilang semua, “saya tidak pernah mencaci Abdul Somad (maksudnya Gus Mus, Red). Bedakan antara mengkritik dan mencaci. Makhorijul huruf anda sudah sampai mana?” tulisnya.


Akhirnya Jhogo terlihat menyerah. “Jika anda tidak suka silahkan koreksi,” ucap Jhogo kemudian.


Perdebatan masih panjang. Orang-orang banyak mencecar Jhogo yang sok keminter itu. Kini giliran gua yang capek nulisnya. Udah dulu yah. Tapi si Jhogo ini sudah layak dipolisikan belum yah? [dutaislam.com/pin]



Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post

1 komentar:

Satu bukti lagi, usaha yg terlihat serius itu akan menghasilkan penggemar yg serius, sampai-sampai dinasehatin org banyak pun hampir tdk mempan. So, seriuslah dalam berdakwah ... Dan ingat, serius itu tdk mesti harus keliatan serem, walaupun seringkali yg serius itu tampil menyeramkan.

POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini