Selasa, 26 Desember 2017

Natal dan Maulid; Titik Temu Islam-Kristen untuk Toleransi

Masjid Al Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, berdampingan, di Solo, Jawa Tengah (Foto: Istimewa)
Oleh Ach. Tijani

DutaIslam.Com - KelahiranYesus yang diperingati umat Kristiani setiap tanggal 25 Desember menjadi momen kontroversial bagi sebagian umat Islam. Hal tersebut seakan menjadi siklon tropis sosial keagamaan tahunan bagi muslim Indonesia. Sehingga selalu mencuat ke permukaan perbincangan boleh dan tidak bolehnya seorang muslim mengucapkan selamat Natal bagi umat Kristiani.

Diantara alasan yang tidak memperkenankan atau yang mengharamkan ucapan selamat natal adalah unsur historisitas dari kelahiran Yesus yang dipandang tidak valid. Selain dari itu, tentu pandangan teologis menjadi unsur utama yang mengharamkan ucapan selamat Natal.

Pandangan berikutnya adalah kelompok yang membolehkan ucapan selamat Natal. Pandangan ini dirasa sangat berlebihan dan bahkan dianggap terlalu kiri. Namun alasan rasional mengenai relasi kemanusiaan dan kebangsaan dalam konteks keindonesiaan dan kebhinekaan menurut penulis pandangan ini justru sangat kanan. Entahlah, kanan-kiri tentu tergantung dari mana kita melihat.

Di luar persoalan haram dan bolehnya ucapan selamat Natal ada unsur yang cukup penting agar siklon tropis sosial keagamaan pada bangsa ini tidak jumud dan menjenuhkan. Unsur penting itu adalah pengetahuan tentang esensi dari Natal itu sendiri. Pengetahuan sebagian muslim pada unsur ini terlihat sangat minim, bahkan hanya mewarisi dari penutur sebelumnya, tanpa mau menambah dan meluaskan pandangannya agar tidak terjebak pada perdebatan warisan yang saling menyalahkan.

Natal secara harfiah diartikan sebagai kelahiran. Umat Kristiani menghubungkan dengan Yesus, sehingga istilah Natal sama identiknya dengan term Maulid yang selalu berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW. Natal dan Maulid mempunyai arti penting secara spritual dan sosial bagi umat Kristiani.

Natal dalam arti spritual adalah do’a yang dipanjatkan, sementara dalam arti sosial adalah perayaannya. Do’a sangat dogmatis-teologis dan sakral sementara perayaannya yang berbentuk festival, pesta, kebahagiaan bersifat sosial dan profan. Unsur spritual tidak dapat dilakukan semena-mena tanpa penghayatan dan iman, sementara perayaannya siapapun dapat masuk di dalamnya. Maka seorang muslim yang berbeda keimanan tidak dapat masuk dalam kawasan spritual, tapi sangat mungkin duduk bersama bersalaman sambil meneguk minuman dan mengucapkan selamat natal bagi handai taulan yang meyakini dan merayakannya.

Natal dan Maulid dalam hal ini hampir serupa. Dalam maulid ada sholawat dan ada perayaan (terdapatt unsur sakral dan profan). Hal tersebut rupanya tidak hanya hampir serupa dalam sajian, namun juga hampir serupa dalam semangat dan spirit antara Natal dan Maulid.

Dalam Maulid ada keyakinan terhadap Muhammad sebagai pembawa risalah yang memberikan kasih sayang bagi sekalian alam (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil’alamin). Nabi Muhammad dalam hal ini dicintai oleh umatnya oleh karena telah membebaskan mereka dari belenggu kekafiran. Islam itulah yang dimaksud dengan kasih sayang bagi sekalian alam.

Dalam Islam, Muhammad dan wahyunya adalah dua entitas yang terpisah, walau pada riwayat yang lain menyebutkan bahwa akhlak Muhammad adalah al-Quran itu sendiri. Sehingga dalam hal ini muslim hanya menempatkan Muhammad sebagai rosul yang  dalam diri Muhammad jualah segala kewajiban,anjuran dan larangam dicontohkan (laqad kana lakum fi Rasulillah uswatun hasanah).

Natal bagi umat Kristiani adalah kelahiran Yesus yang bersamanya adalah manusia dan wahyu sehingga dalam teologi umat Kristiani disebu dengan anak Tuhan. Semangat kelahirannya ke dunia juga tidak jauh berbeda dengan Muhammad. Umat kristiani menyebutnya dengan misi penyelamatan dan penebusan dosa.

Sisi historisitas yang selama ini menjadi perbincangan di kalangan muslim mengenai kelahiran Yesus rupanya bukan hal esensial. Spirit ajaran Yesus itulah yang paling penting bagi umat Kristiani, apalagi Yesus itu sendiri dalm banyak pendapat tidak dikategorikan sebagai bentuk kelahiran seperti biasanya, sehingga historisitasnya mengenai hari dan tanggal bukan inti dari Natal.

Dikatakan bahwa Yesus dalam kehadirannya ke dunia sebagai sosok yang datang (he came),yang menjadi (he became), diutus (he was sent) dan yang diberikan (he was given). Maka Yesus dalam hal ini disimpulkan telah ada sebelum segala sesuatu, lalu kemudian lahir sebagai manusia dari rahim Maria hanya sebagai jalan manusiawi. Dengan demikian Natal dalam hal ini tidak sekdar historisitas kelahiran bilogis Yesus, tapi adalah spirit dari ajarannya.

Spirit Natal betul-betul hampir serupa dengan kehadiran Muhamad SAW, dimana Nur Muhamad itu sendiri juga diyakini telah hadir sebelum segala sesuatu.

Upaya membandingkan ini bukan berarti menyamakan Muhammad dan Yesus. Tentu keduanya adalah sosok suci yang tetap harus diyakini dengan kuat oleh setiap umatnya. Muhammad bagi umat Islam dan Yesus bagi umat Kristiani. Perbandingan ini hanya diajukan untuk memahami bahwa keyakinan dan keberimanan adalah sesuatu yang suci dan yang paling berharga. Seyogyanya kita saling mengapresiasi dalam kehidupan sosial dengan saling berbahagia dan menghormati bukan saling menyalahkan tapi bukan berarti saling menukarkan keyakinan. Selamat Natal. [dutaislam.com/gg]

Ach. Tijani, Pengurus Lakpesdam PCNU Kota Pontianak

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini