Jumat, 15 Desember 2017

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Bukanlah Peletak Batu Pertama Ka'bah

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Dalil besok di akhirat orang kafir tidak bisa mendapat syafa’at adalah teriakan orang-orang kafir yang iri melihat kerukunan dan saling kasih mengasihi sesama orang mu’min di padang mahsyar dalam Q.S. Asy Syu’ara’ 100-102:

فَمَا لَنَا مِنْ شَافِعِينَ (100) وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (101) فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (102)

“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa'at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman."

Mari kita jaga kerukunan antar sesama orang Mu’min, jangan saling bermusuhan walau pun berbeda-beda agar kerukunan dan saling mengasihi ini langgeng sampai di akhirat nanti.

Ujian perintah khitan kepada Nabi Ibrahim adalah ujian berat karena perintah turun saat Nabi Ibrahim berusia 80 tahun, dengan alat pemotong kapak. Perintah ini segera dilaksanakan nabi Ibrahim tanpa menunggu lama sehingga nabi Ibrahim dipuji sebagai nabi yang patuh sebagaimana Q.S. An Nahl ayat 120:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),”

Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali diperintah khitan. Hal ini bukan berarti nabi-nabi sebelumnya tidak khitan, karena diterangkan dalam tafsir Baydhowi bahwa semua nabi khitan kecuali 13 nabi dalam riwayat lain 14 nabi.  

Adapun 13 nabi tidak khitan karena ketika lahir sudah dalam keadaan dikhitan sebagaimana nabi Adam, Idris, Syis dan nabi berikutnya sampai 13 nabi. Dari keterangan ini bisa diambil sebuah putusan hukum fiqih apabila ada bayi yang terlahir sudah dikhitan maka tidak ada kewajiban khitan maupun kewajiban menempelkan alat pemotong padanya.
[Surat Al-Baqarah 125]

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (125)

"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".

Qira’at  Sab’at lafadh وَاتَّخذُوا dibaca: 1). huruf Kha’ berharakat fathah (wattakhadzu) berupa fi’il madhi yang artinya “Dan mereka menjadikan..” 2). huruf Kha’ berharakat kasrah (wattakhidzu) berupa fi’il amar yang artinya “Dan jadikanlah…”.

Maqam Ibrahim adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim sebagai landasan ketika merenovasi Ka’bah bukan tempat pemakaman nabi Ibrahim. Bagi jama’ah haji atau umrah yang mendapat kesempatan bisa shalat di Maqam Ibrahim janganlah lama-lama. Berilah kesempatan pada jama’ah yang lain untuk shalat di tempat tersebut, karena memberi kesempatan pada yang lain juga mendapat pahala yang besar sehingga tidak hanya mendapat pahala shalat di Maqam Ibrahim saja tapi juga pahala memberi kesempatan pada orang lain untuk memperolah keutamaan ini. Hal ini juga berlaku untuk keutamaan yang lain seperti keutamaan mencium hajar aswad.

Nabi Ibrahim dan nabi Isma’il bukanlah orang yang pertama kali membangun Ka’bah tapi orang yang merenovasi Ka’bah sebab Ka’bah sudah ada sebelum nabi Ibrahim dan bangunan Ka’bah ini pernah rusak pada zaman nabi Nuh ketika dilanda banjir besar.
[Surat Al-Baqarah 126]

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آَمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126)

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali"

Qira’at Sab’at Lafadh فَأُمتعُهُ ada yang membaca faumatti’uhu ada yang membaca faumti’uhu.
Do’a nabi Ibrahim setelah renovasi Ka’bah:

1. Negara Makah dikaruniai aman sentosa dan do’a ini disetujui oleh Allah
2. Penduduk Makah diberi rizqi dari buah-buahan tapi hanya bagi yang beriman saja.

Pada do’a kedua ini nabi Ibrahim ditegur oleh Allah karena rizqi di dunia bukan monopoli orang yang beriman saja akan tetapi orang kafir juga diberi rizki oleh Allah. Rizqi di dunia itu harganya murah sehingga tidak hanya untuk umat Islam saja juga untuk orang kafir. Bagi jama’ah haji Indonesia ketika di tanah haram Makah sebaiknya berdo’a untuk negara Indonesia “Semoga negara Indonesia dikarunia rasa aman dan sentosa serta penduduknya diberi keluasan rizqi baik untuk muslim maupun untuk orang kafir.” [dutaislam.com/ed]

Keterangan: Tulisan ini adalah kutipan pengajian Tafsir Al Qur'an KH. M. Sya’roni Ahmadi Kudus pada Selasa (14/06/16) Ba'da Shubuh.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini