Minggu, 10 Desember 2017

Membantah Kedangkalan Ilmu Agama Felix: “Nasionalisme Tak Ada Dalilnya!”

Felix Siauw sebut Cinta Tanah Air tidak ada dalilnya. Foto: Istimewa
DutaIslam.Com – Al ngustad Felix Siauw, muallaf yang baru 17 (Felix masuk Islam 2002) tahun mengenal Islam banyak bicara soal Islam. Sayangnya, ilmunya tentang Islam banyak melenceng dari ajaran agama yang disayriatkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad. Satu diantaranya soal nasionalisme atau cinta tanah air.

Felix menyebut bahwa nasionalisme tidak ada dalilnya dan tidak ada panduannya. Ia membandingkan dengan pembelaan terhadap Islam yang menurutnya ada dalil ada pahala dan ada contoh dari nabi Muhammad. Di sini Felix seolah hendak melepaskan sama sekali Islam dengan negara atau tanah air.
Padahal tak ada satupun orang yang hidup beragama, termasuk Islam, yang tidak bisa lepas dari tanah kelahiran sebagai sebuah tempat tinggal. Di sini terlihat jelas Felix memahami agama tidak secara utuh alias parsial.

Cuitan Felix Siauw soal Nasionalisme tidak ada dalilnya. Foto: Dutaislam.com

Felix baru belajar soal Islam dan ini menjadi bukti bahwa pengetahuan Islam Felix masih sangat dangkal. Namun, kita lihat faktanya Felix seolah bersikap paling pintar dengan tanpa mempertimbangkan pandangan lain soal agama. Buktinya, dia masih ngotot soal penegakan khilafah walau sudah banyak para ulama dan kiai yang justru lebih alim dari Felix tidak sepakat penegakan khilafah sebagai perkara wajib.

Untuk meluruskan padangan keliru ini mari kita bantah argumen Felix soal nasionalisme yang dianggap tidak punya dalil.  

Nabi Cinta Tanah Air

Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Al-Jurjani mendefiniskan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

“Al-wathan al-ashli adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya,” (Lihat Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani, At-Ta`rifat, Beirut, Darul Kitab Al-‘Arabi, cet ke-1, 1405 H, halaman 327).

Dari definisi ini maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Setiap manusia memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh darinya, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Dengan demikian mencintai tanah air adalah sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Rasulullah saw sendiri pernah mengekspresikan kecintaanya kepada Mekah sebagai tempat kelahirannya. Hal ini bisa kita lihat dalam penuturan Ibnu Abbas ra yang diriwayatkan dari Ibnu Hibban berikut ini:

“Dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw bersabda: ”Alangkah baiknya engkau sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu,” (HR Ibnu Hibban).

Di samping Mekkah, Madinah adalah juga merupakan tanah air Rasulullah. Di situlah beliau menetap serta mengembangkan dakwah Islam setelah terusir dari Mekkah. Di Madinah Rasulullah berhasil dengan baik membentuk komunitas Madinah dengan ditandai lahirnya watsiqah madinah atau yang biasa disebut oleh kita dengan nama Piagam Madinah.

Kecintaan Rasulullah SAW terhadap Madinah juga tak terelakkan. Karenanya, ketika pulang dari bepergian, beliau memandangi dinding Madinah kemudian memacu kendarannya dengan cepat. Hal ini dilakukan karena kecintaannya kepada Madinah.

“Dari Anas RA bahwa Nabi SAW apabila kembali dari berpergian, beliau melihat dinding kota Madinah, maka lantas mempercepat ontanya. Jika di atas atas kendaraan lain (seperti bagal atau kuda, pen) maka beliau menggerak-gerakannya karena kecintaanya kepada Madinah,” (HR Bukhari).

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW ketika kembali dari bepergian, yaitu memandangi dinding Madinah dan memacu kendaraannya agar cepat sampai di Madinah sebagaimana dituturkan dalam riwayat Anas RA di atas, menurut keterangan dalam kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani menunjukkan atas keutamaan Madinah disyariatkannya cinta tanah air.

Hadis tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencitai tanah air serta merindukannya” (Lihat, Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari, Beirut, Darul Ma’rifah, 1379 H, juz III, halaman 621).

Dari penjelasan singkat ini maka setidaknya kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencintai tanah air merupakan tabiat dasar manusia, di samping itu juga dianjurkan oleh syara` (agama) sebagaimana penjelasan dalam kitab karya Ibnu Hajar Al-Asqalani yang dikemukakan di atas.

Mencintai tanah air bukan hanya karena tabiat, tetapi juga lahir dari bentuk dari keimanan kita. Karenanya, jika kita mendaku diri sebagai orang yang beriman, maka mencintai Indonesia sebagai tanah air yang jelas-jelas penduduknya mayoritas Muslim merupakan keniscayaan. Inilah makna penting pernyataan hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air sebagian dari iman).

Konsekuensi untuk NKRI

Konsekuensinya, jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang berupaya merongrong keutuhan NKRI, maka kita wajib untuk menentangnya sebagai bentuk keimanan kita. Tentunya dalam hal ini harus dengan cara-cara yang dibenarkan menurut aturan karena kita hidup dalam sebuah negara yang terikat dengan aturan yang dibuat oleh negara.

Cintailah negeri kita dengan terus merawat dan menjaganya dari setiap upaya yang dapat menghancurkannya. [dutaislam.com/ed/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini