Minggu, 17 Desember 2017

Liciknya HTI, Selalu Minta Tabayyun, Tapi Merekayasa


Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Meski HTI sudah resmi dibubarkan sebubar-bubarnya, namun gerakannya selama ini masih tetap perlu diwaspadai. HT seringkali bermain di wilayah imajinasi dengan menciptakan/merekayasa kesan-kesan untuk melegalisasi ambisi politiknya.

1. HT merekayasa Sirah Nabawiyah jadi berkesan politik praktis untuk meraih kekuasaan.

2. HT merekayasa kesan Liwa Rayah yang mereka bawa seolah-olah bendera Rasulullah.

3. HT merekayasa kesan dan pesan aqwal ulama di kitab - kitab turats tentang khilafah / imamah menjadi persoalan sistem pemerintahan.

Dalam berwacana HT menerapkan strategi polisi mengurai kemacetan di puncak Bogor di akhir pekan yaitu strategi buka tutup dan satu arah.

HT melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman yang sudah mapan lalu (buka) merekonstruksinya dengan pemahaman mereka (tutup) dan menutup rapat wacana yang mendekonstruksi pemahaman mereka (satu arah). Hal ini disebabkan oleh pemahaman HT bahwa wacana alat politik untuk menguasai pihak lain.

HTI gerakan posstrukturalisme ke luar (eksternal) dan strukturalisme ke dalam (internal).

Ilmu untuk keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Oleh HTI ilmu jadi rusak karena ilmu mereka gunakan untuk menguasai / kooptasi orang yang tidak berilmu. Inilah latar belakang mengapa HTI selalu menuntut pihak lain tabayyun ke mereka kalau mau membahas pemikiran resmi HTI. Dengan tabayyun HTI bisa merekayasa wacana untuk menguasai pihak yang mau tabayyun tadi.

HTI sangat takut kalau pihak lain memiliki pemahaman dan memaknai gerakan mereka yang tidak sejalan dengan makna yang mereka inginkan. [dutaislam.com/gg]

Penulis adalah Jama’ah Sabtuan NU Kota Bandung, Pegiat di Institute for Democracy Education. Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini