Kamis, 28 Desember 2017

Kisah Kiai Syafi'i Ahzami dan Tumpukan Amplop di Saku Bajunya

Foto: Istimewa
Oleh Dr. Amir Faishol Fath

DutaIslam.Com - Kembali memutar ingatan pada waktu silam bersama almarhum abi saya tentang Muallim KH Syafi'i Ahzami (Jakarta Selatan).

Kala saya masih kuliah di UIN Jakarta, saya dan abi selalu hadir di beberapa majlis kajian kitab yang diasuh oleh beberapa ulama betawi terkemuka, KH Abdul Hamid Abdul Halim AdDaary, KH Zakwan Abdul Hamid, DR KH Abdul Muhith Abdul Fattah (semoga Allah memberikan kesehatan kepada keduanya) dan tak luput adalah, KH Syafi'i Ahzami.

Kisah menarik yang saya alami adalah dikala suatu sore di hari senin, di masjid (saya lupa namanya) yang berada di Jl Bacang, Limau dekat UHAMKA  yang mana kami biasa menghadiri kajian Kitab Ihya Ulumuddin karya Al Imam Al Ghozali.

Setelah seluruh jamaah yang cukup banyak usai shalat maghrib dan menuntaskan dzikir dan sunnahnya, bergegas ambil lekar kecil untuk kitab dan mengambil posisi terdepan. Oooh sungguh pemandangan bahkan fenomena yang sudah hilang dari ibukotaku sekarang.

Jamaah menanti kedatangan kiai yang datang dari kediaman beliau di Gandaria dan memang beliau selalu shalat maghrib di pesantrennya baru kemudian pergi ke majlis yang hanya jarak beberapa menit saja.

Ketika itu abi meminta kepada saya sambil berbisik.

"Iq, nanti klo kyai datang, kamu kan ikut ngantri salaman? Nah kamu jangan salaman duluan, tapi usahakan kamu menjadi orang yang salaman terakhir."

Sambil mengangguk tanda paham, saya lanjut bertanya kepada ayahandaku ini, "terus bi??"

Abi lanjut berujar: "Nanti kamu perhatikan kantong baju koko kiai, kira-kira ada apa?"

Tak lama, jamaah ramai bangun menyambut kedatangan kiai, ada yang sudah menunggu sejak kiai turun dari mobil tuanya (kijang super). Satu persatu murid dan jamaah pengajian menyalami sang kiai. Hampir sulit menggapai tangan kiaai karena beliau kerap menariknya untuk dicium.

Mata saya pun teliti melihat gerakan tangan kiai yang ternyata menerima amplop dari murid-muridnya.

Sampailah saya menjadi orang terakhir yang menyalami sang kiai betawi yang terkenal dengan ketawadhuannya itu. Dan mata saya langsung tertuju pada kantong baju koko semi safari yang dikenakan sang kiai. Subhanallah guman saya dalam hati, amplop yang tentunya berisi fulus telah penuh desal memadati kantong sang kyai.

Sesaat setelah saya kembali duduk di samping abi, beliau langsung bertanya: udah belum? Saya jawab: "udah bi!"

"Ada apaan?" Saya jawab sambil nyengir penasaran: “Amplop bi buanyak buangeett!”

Dengan wajah datar abi pun cuma menepuk ujuk dengkulku yang duduk bersila dekatnya. Dan berkata: "ya udah, nanti ada lagi".

Lanjut mengaji dan selesai ketika datangnya waktu Isya, sang kyai menutup dengan berdoa dan mengimami shalat isya berjamaah.

Setelah shalat, abi saya kembali membisiki: "Sekarang kalau orang-orang salaman, kamu lihat tangan kiai dan kamu salaman yang terkahir sebelum kiai masuk mobilnya, terus liat kantong baju kiai yang tadi penuh dengan amplop!" "siap bi!" jawab saya. 

Kulanjut berdiri melihat murid dan jamaah yang menyalami sang kiai dari sejak beliau beranjak dari mihrob masjid.

Saya perhatikan dan kagetnya saya ketika pak kiai mengambil setiap amlop dari kantong bajunya dan kembali gantian memberikan kepada para muridnya secara acak. Sampai beliau berada dekat mobil, saya yang salaman pun masih mendapatkan amplop tersebut dan terlihat kantong baju beliau tidak ada lagi amplop.

Saya sempat kaget, ketika kiai yang sudah sangat sepuh itu membuka jendela dan memanggil salah seorang marbot masjid terus memberikan sisa amplop kepada seorang yang dipanggil udin itu seraya berujar: “Din, ini buat beli kopi sama gula."

Dalam benak saya sambil melihat amplop yang di tangan, berkata: “Ini kiai kalau mau kaya bisa sebenarnya, tapi beliau tidak ingin kaya dari umatnya.”

Lantas ketika berbalik badan, ingin mendekati abi, saya melihat jamaah yang terima ampol dari sang kiai malah memasukkan amplop itu ke kotak amal masjid.

Lantas sekarang banyak ustadz artis yang memasang tarif melangit untuk hanya sekedar berbicara sekian menit saja? Itu pun kalau berilmu. Ini musibah. Musibah. [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini