Senin, 25 Desember 2017

Ketika Ayat-Ayat Kebertuhanan Dihilangkan

Foto: Istimewa
Oleh Ach Tijani

DutaIslam.Com - Bertuhan adalah keniscayaan untuk meyakini, menyembah dan mengekspresikan kesadaran keterbatasan diri menuju realitas tanpa batas. Kemudian hal tersebut menjadi suatu pilihan ketika beruwujud menjadi agama yang menghadirkan komunitas sosial keagamaan berupa Muslim, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu, Budha dan sekian institusi agama lainnya.

Mulai saat itulah terlihatlah adanya persimpangan, tikungan dan bahkan mungkin lajur jalan yang berbeda dimana setiap orang yang menapakinya harus meyakini jalannya tanpa harus saling menyalahkan. Namun tidak mudah menempatkan keyakinan dan ego kemanusiaan bertindak pada tempatnya. Beberapa ada yang konsisten dan mengetahui letak antara keniscayaan dan pilihan. Tapi pada saat yang sama juga terdapat beberapa orang yang terjebak pada pilihan-pilihan institusional belaka dengan mengabaikan kenisacayaan pertama yang bersifat universal.

Keterjebakan pada pilihan-pilihan inilah proses perpecahan dan permusuhan mulai muncul ke permukaan. Padahal pada setiap pilihan agama selalu terdapat ayat-ayat tentang kenisacayaan uiversaliatas kebertuhanan, namun ayat tersebut tidak terlalu diminati oleh pemilihnya. Setidaknya ada dua asumsi yang menyebabkan kealpaan umat beragama terhadap ayat-ayat keniscayaan universalitas tersebut.

Pertama, ayat-ayat universalitas keniscayaan kebertuhanan memang relatif lebih sedikit dibandingkan ayat-ayat penguatan dan pembenaran terhadap pilihan agama sebagai jalan menuju Tuhan. Secara sederhana ayat-ayat penguatan ini memang memberi pesan kekokohan dan prinsip dalam menjalankan agama sebagai pilihan.

Bahkan secara ekstrem setiap agama sebagai pilihan menanamkan dengan kuat mengenai kebenaran pilihan tersebut. Kehadiran ayat pengekohan terhadap agama sebagai pilihan tidak dapat ditolak oleh setiap pemeluk agama, karena penolakan terhadapnya sama dengan mengingkari agama.

Dengan demikian, memilih suatu agama pada saat yang sama harus menolak agama yang lain. Suatu kesimpulan yang sangat mantiqi yang dapat diterima oleh setiap orang. Kesimpulan ini juga bermakna bahwa agama yang dipilih adalah agama yang paling benar sementara agma yang lain tentu salah. Hal tersebut menjadi penting bagi setiap pemeluk agama untuk menjaga ketaatan menjalankan seluruh ajaran agama.

Secara keseluruhan ayat-ayat penguatan yang juga dapat disebut ayat-ayat dogmatis telah diberlakukan tidak tepat. Semestinya ayat tersebut diupayakan untuk mengontrol diri, namun kemudian beralih fungsi sebagai pengontrol kehidupan orang lain. Karena itulah umat beragama saat ini nampak selalu sibuk terhadap kehidupan umat beragama lainnya. Bahkan tidak jarang terjadi saling menjelekkan, di beberapa tempat dan kesempatan terjadi debat yang tidak menyehatkan.

Kedua, ayat-ayat dogmatis sebenarnya juga tidak terlalu konsisten diamalkan. Pengamalan agama sebatas di ruang-ruang profan tanpa menyentuh dimensi kesakralan. Ibadah tidak melahirkan pribadi yang saleh bagi diri dan lingkungannya. Rumah ibadah sesak dipenuhi umat, namun nelikung uang rakyat seakan menjadi hal yang lumrah. Pada taraf yang sangat menyedihkan, pemeluk agama itu sendiri telah memanfaatkan agama untuk kepentingan dirinya. Sejumlah kasus politik dan kekuasaan menjadi fenomena paling kentara, dimana ayat-ayat universalitas kebertuhanan dan penguatan keyakinan (dogma) diperjual belikan.

Demikianlah cerita ayat-ayat universalitas kebertuhanan yang kini mulai hilang dan dihilangkan. Sehingga kini kita mudah bermusuhan. Mari kita buka kembali ayat-ayat yang hilang tersebut baik yang dogmatis maupun yang universal kebertuhanan. Keduanya adalah ayat Tuhan, menghilangkan salah satunya adalah serupa mengurangi kesempurnaan agama. [dutaislam.com/pin]

Ach Tijani, Dosen IAIN Pontianak. Artikel ini tayang pertama kali di situs Nukahatulistiwa.
Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini