Kamis, 21 Desember 2017

Kelainan Jiwa Kelompok Khawarij Jaman Old dan Jaman Now

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Ayik Heriansyah

DutaIslam.Com - Imam Ibnu Hazm menyematkan gelar al-Khariji kepada setiap orang yang serupa dengan orang-orang yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib dan mengikuti keyakinan mereka. Ciri-ciri khawarij antara lain menolak wewenang manusia untuk membuat hukum (tahkim) dan menyatakan keluar dari pemimpin yang dzalim. (al-Fashlu fil Milal wa Ahwa' wan Nihal [2/113]). Khawarij bersifat melawan terhadap pemilik otoritas yang sah. Perlawanan yang lahir dari sifat tamak, kekikiran jiwa dan kesempitan hati mereka.

Sejak zaman Nabi Saw watak memberontak terhadap pemegang otoritas agama dan politik kaum Khawarij ini sudah tampak. Bayangkan betapa kurang ajarnya Dzul Khuwaisirah ketika protes atas pembagian harta emas yang dikirim Ali bin Abi Thalib dari Yaman yang dilakukan Rasulullah Saw. Protes Dzul Khuwaishirah menyinggung perasaan Nabi Saw. Secara tidak langsung dia menuduh Nabi Saw berbuat dzalim. Saking tidak beradabnya dia menyuruh Rasulullah Muhammad Saw bertaqwa kepada Allah, "Wahai Rasulullah bertaqwalah engkau kepada Allah.”

Mendengar hal itu, Nabi Saw bersabda: "Celaka engkau! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk bertaqwa kepada Allah?!" (HR.  Bukhari [2/232], Muslim [2/740]).

Jiwa kaum khawarij adalah melawan dan memberontak pemilik otoritas agama dan politik yang lahir dari ketidakpuasaan terhadap kebijakan penguasa yang mereka anggap dzalim dan menyimpang akibat sifat tamak, iri dan dengki atas harta dan kekuasaan yang dimiliki orang lain.

Kelainan jiwa inilah sebenarnya akar dari kekritisan Khawarij kepada penguasa yang menutupi akal dan hati mereka sehingga sulit ditembus oleh cahaya ilmu. Penyakit yang diidap kalangan elit khawarij. Adapun kalangan awam mereka, terbawa arus karena kejahilan akan ilmu dan tersihir oleh propaganda pemimpin mereka. Terbukti ada sekitar dua ribu dari mereka kembali ke dalam Islam setelah dialog ilmiah dengan Ibnu Abbas ra (Khashaish 'Amiril Mu'minin Ali bin Abi Thalib, an-Nasa'i, tahqiq: Ahmad al-Balusyi, hal. 200, sanadnya hasan).

Gerakan khawarij merupakan ekspresi ketidakpuasan terhadap penguasa khususnya soal kebijakan. Kala Nabi Saw masih hidup, soal pembagian emas yang mereka ributkan. Di zaman Ali bin Abi Thalib, ijtihad politik Khalifah Ali ra. untuk bertahkim dengan Mu'awiyah yang mereka permasalahkan. Baik kebijakan Nabi saw maupun ijtihad politik Ali keduanya absah secara ilmiah syar'iyah.

Dengan kata lain, kaum khawarij tidak memiliki dasar syar'iyah untuk memberontak. Jadi sikap antipati mereka murni bentuk ketidakpuasan politik.

Menyadari hal itu, kaum elit di kalangan khawarij menggiatkan politik pencitraan dan propaganda untuk mendapat dukungan, simpati dan loyalitas mengikut mereka. Mereka membentuk citra sebagai ahlul haq yang zuhud, wara, ahli ibadah dan cinta akhirat.

Politik pencitraan kaum khawarij telah disebutkan Nabi Saw ketika Rasulullah saw melarang Umar bin Khaththab memenggal kepala Dzul al-Khuwaishirah. Nabi Saw berkata kepada Umar: Biarkanlah, sesungguhnya dia memiliki teman-teman (pengikut) dimana salah seorang dari kalian memandang rendah shalatnya jika dibandingkan shalat mereka. Juga shaumnya jika dibandingkan dengan shaum mereka. Mereka membaca al-Quran tapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka..." (HR.  Muslim [2/743-744]).

Terhadap lawan politiknya, kaum Khawarij menggencarkan propaganda hitam, memberi label negatif, pembunuhan karakter dan jiwa. Tidak kurang keponakan sekaligus menantu Nabi Saw yang dijamin masuk surga, dilabel kafir. Label yang sama disematkan kepada Muawiyah sahabat yang pernah jadi juru tulis Nabi saw.

Mereka menggencarkan propaganda hitam, memberi label negatif, pembunuhan karakter dan jiwa. Tidak kurang keponakan sekaligus menantu Nabi Saw yang dijamin masuk surga, dilabel kafir. Ali bin Abi Thalib bersikap bijaksana kepada mereka. Ali mengambil inisiatif berkorespodensi mengajak mereka kembali bersama barisan kaum muslimin.

Sebenarnya belum ada kata sepakat pada pertemuan tahkim antara Abu Musa al-Asy'ari (perwakilan pihak Ali) dengan Amru bin 'Ash (wakil Muawiyah), sebab itu Ali menulis surat kepada kaum khawarij: "Sesungguhnya delegasi dari kedua belah pihak tidak berhasil mencapai kesepakatan, maka kembalilah kalian dan bergabunglah dengan kami untuk memerangi penduduk Syam."

Kaum Khawarij mengabaikan isi surat itu dan mengatakan: "Kami tidak mau bergabung dengan anda sampai engkau mengaku telah kafir dan bertaubat." (Ansabul Asyraf [2/63] dengan sanad dhaif dalam Fikrul Khawarij wasy Syi'ah fi Mizanil Ahlis Sunnah wal Jama'ah karya DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi). Sepertinya kaum Khawarij menyimpan motif lain di balik penolakannya terhadap ijtihad politik Ali. Tudingan bahwa Ali telah melakukan dosa besar karena menerima tahkim dibuat-buat untuk menjustifikasi gerakan mereka.

Dari perjalanan gerakan Khawarij old kita dapat mengambil pelajaran untuk menilai gerakan Khawarij jaman now. Isi sama, beda kemasan saja. Sama seperti Khawarij old, Khawarij jaman old merupakan kelainan jiwa  ketidakpuasaan atas kebijakan penguasa karena mengidap penyakit tamak, kikir jiwa dan sempit hati [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini